
Membuka pintu mobil dan berjalan perlahan, wajah yang menunduk dan takut untuk menatap.
" Hem, baru pulang? Jam berapa ini??!!." Suara Alfa sangat menyeramkan bagi Aqilla.
" I iya kek, maaf." Aqilla berbicara sangat pelan.
" Masuklah, istirahatlah sejenak. Ada yang Kakek mau bicarakan sama kamu." Alfa berlalu masuk ke dalam mansion.
" Baik kek!." Aqilla menggikuti langkah Alfa, memasuki mansion.
Aqilla bergegas masuk ke dalam kamarnya, membersihkan diri, terus melaksanakan kewajibannya untuk sholat dan ia merenung sejenak.
Apa yang hari ini telah aku lalui, sungguh di luar kuasaku ya Rabb. Bertemu kembali dengan pria aneh, menyatakan perasaan, mencoba memahami apa yang sedang kami alami satu sama lain. Mendapatkan perlakuan yang tidak disangka, oleh bos Kevin. Dan kakek!! Masih begitu banyak rahasia yang Engkau rangkai untukku, jika diri ini sudah tidak sanggup dan lelah. Ku mohon, bawa aku untuk berada di sisiMu. Aqilla.
Ddrrttt...
Ada sebuah pesan yang masuk melalui aplikasi pesan singkat di ponsel Aqilla.
Pria aneh
Selamat beristirahat sayang, jangan lupa mimpi indah. Dan ingat! Masih berhutang penjelasan!!! Love U, sayang ❤.
Aqilla hanya tersenyum saat membacanya pesan itu, ia tidak berniat untuk membalasnya. Jika membalas pesan tersebut, makan tidak akan ada habisnya pria aneh itu membalasnya.
Selesai dengan kegiatannya di dalam kamar, Aqilla keluar kamar untuk segera menemui sang kakek. Disaat keluar kamar dan menuruni tangga, Steiven juga akan ikut turun.
" Kak, tangannya sudah tidak apa-apa kan?" Tanya Qilla sambil melihat tangan Steiv.
" Hem." Jawab singkatnya.
__ADS_1
Akhirnya mereka telah tiba di ruang keluarga, sudah terlihat sang kakek berada di sana.
" Duduklah." Alfa berkata tanpa melirik.
Steiven dan Aqilla menuruti perkataan kakeknya. Hanya mereka berdua saja yang berada disana dan juga kakeknya, Haykal tidak di libatkan. Karena memang dia tidak mempunyai urusan dengan Alfa.
" Steiv!" ujar Alfa.
" Kek, hayolah!" Steiven memprotes Alfa.
Dengan mata yang menatapnya tajam, Steiven langsung menggelengkan kepalanya.
" Huh, Qilla. Saya minta maaf sama kamu, atas kejadian penculikan itu." Steiven mengakui kesalahannya.
" Eh, i iya kak. Qilla sudah memaafkan kakak." Aqilla tidak percaya, seorang Steiven yang dingin meminta maaf padanya.
" Sudah kan kek, Steiv masih banyak kerjaan."
" Duduk!!!" ucapan Alfa melarang Steiven untuk pergi dari sana.
" Steiven, kau menggenal Kevin Alberto???" Tanya Alfa.
" Hah, Kevin Alberto. Pria breng***ek itu." Steiven menaikkan sudut bibirnya.
" Aqilla, apa dia bos mu di kantor?" Alfa menatap Aqilla.
" Iya kek, dia bos Qilla." Jawab Qilla singkat.
" Apa? Kamu bekerja di perusahaan pria breng***ek itu! Bodoh, berhenti dari sana. Sungguh bodohnya kau!!!." Steiven terlihat sangat tidak suka.
" Memangnya ada apa kak? Kenapa Qilla dilarang kerja disana?" Aqilla menjadi penasaran.
__ADS_1
" Ais!!! Kau ini, bodoh apa pura-pura bodoh, hah. Dia itu orang gila, kau tak perlu tau alasannya. Di bilang berhenti, ya turuti saja. Nggak usah banyak komentar dan jangan banyak tanya." Steiven menatap tajam kepada Aqilla.
" Itu semua benar Aqilla, kakek sudah melarangmu untuk tidak bekerja disana. Kau bisa bekerja di perusahaan kakek ataupun punya Steiv, apa yang kau alami hari ini. Kakek tidak ingin terulang lagi, kau pasti tau kan kejadian apa yang terjadi?" Alfa menatap Aqilla dengan penuh selidik.
" Kejadian apa kek?" Steiven merasa penasaran.
" Kau tanyakan sendiri saja dengan adikmu ini, kalian berdua sama-sama keras kepala." Alfa mendenguskan hidungnya.
Tak...
" Hei gadis bodoh, kejadian apa yang kau alami, hah?" Steiven menyentil kening Aqilla.
" Aaawww!! Sakit kak." Ringgis Aqilla.
" Maka bilang, punya mulut kok nggak mau ngmong."
" Dia, dia men mencekek leher Qilla" Jawab Aqilla dengan terbata-bata, takut akan tatapan kakek dan Steiven.
" What!!! Kamu dicekeknya? memangnya kenapa tu orang sampe gitu sama lu?" Steiven merasa tersulut emosi.
Untuk saat ini, Alfa hanya menjadi pendengar dan penonton dengan sikap kedua cucunya. Belum saatnya ia harus bertindak, membiarkan para pengganggu kecil menikmati permainannya. Hingga saatnya tiba, biarkan Alfa yang menentukan hidup dan mati mereka. Ia pun beranjak meninggalkan kedua cucunya yang sedang berdebat.
" Katanya, kalau dia tidak bisa memiliki Qilla. Maka, orang lain pun tidak akan bisa juga." Aqilla menceritakan perkataan Kevin.
" Akh! Bodoh dipelihara. Lepaskan Akhtar, berhenti bekerja dan berdiam diri di mansion Sungguh menyebalkan mempunyai adik perempuan bodoh, seperti kamu."
" Memangnya, hubungannya Akhtar, pekerjaan, dan juga tuan Kevin apa kak? Sepertinya ada sesuatu." Aqilla sedikit merasa heran.
" Pokoknya, turutin semua perkataanku tadi. Kalau tidak, kau akan kubuat jadi pupuk kompos. Ngerti nggak?" Steiven menekankan perkataannya.
" Tapi kak!" Aqilla ingin memprotes dan membela diri.
__ADS_1
" Nanti akan saya jelaskan kenapa, untuk sekarang. Turuti perkataanku, jelaskan. Jangan congek tu telinga, dasar kau menyebalkan." Steiven beranjak dari ruang keluarga menuju kamarnya.
Apa lagi ini ya Tuhan!!! kenapa semakin banyak rahasia yang Engkau berikan! Aqilla.