
Aakkkhh...
Kemana Akhtar perginya? Apa ada yang salah dari sikapku tadi? Huh, dasar pria menyebalkan. Kalau bukan karena kekayaannya, aku tidak sudi seperti ini. Apalagi ternyata dia hanyalah seorang anak pungut, sungguh menyedihkan. Batin Joana.
Joana menggira Akhtar pergi untuk kembali ke perusahaan, tapi ternyata tidak ada.
" Perasaan, pernah melihat wajah perempuan tadi deh. Dimana ya? Hem... Ya ampun, itu kan perempuan yang dibawa Akhtar di pesta pertunangan Beni. Ternyata hanya sebatas itu seleranya, heh. Lihat saja, akan kubuat permainan baru untukmu Akhtar Wijaya." Joana akan mengatur siasat untuk membuat Aqilla menderita.
Ketika situasi sedang sepi, Joana melancarkan aksinya untuk memasuki ruang kerja Akhtar. Dengan perlahan ia memanfaatkan kedudukannya sebagai sekretaris, ia bebas untuk masuk.
Membuka lemari dan membaca satu per satu berkas yang ada secara teliti, Joana berharap akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga.
" Dimana sih tu orang menyimpannya? " Joana masih terus mencari apa yang ia inginkan.
Merasa apa yang dia inginkan tidak ada diruangan itu, maka Joana mencarinya diruang pribadi milik Akhtar. Ruangan itu ia ketahui disaat masih menjalin hubungan bersama Akhtar dahulu, dengan sangat mudah ia bisa membukanya. Melihat isi ruangan itu masih tidak jauh berubah, masih banyak foto kenangan tentang mereka berdua.
" Heh, pria bodoh." Joana merutuki Akhtar, setelah ia melihat beberapa benda yang masih mempunyai kenangan tentang mereka berdua.
Tak terasa sudah berapa lama Joana berada disana, namun ia belum menemukan apa-apa. Akhirnya ia menyerah untuk hari ini, berjalan keluar ruangan dengan seperti biasanya.
......................
Kediaman Difander Alfansa...
__ADS_1
Seorang pria yang rambutnya sudah mulai memutih, sedang duduk dengan santai. Menikmati pemandangan di malam hari, terasa sangat sunyi, sepi dan sendiri.
Seandainya kau masih ada disini, nak. Ayah tidak akan sendiri seperti ini. Maafkan Ayah, Ayah sudah terlalu kejam padamu nak, secepatnya Ayah akan menemukan anak-anak kalian. Cucu Ayah pasti saat ini sudah semakin besar, akan Ayah tebus semua kesalahan yang telah Ayah berikan padamu. Batin Alfa.
" Kakek!!!."
" Ah, dasar anak nakal! Kenapa baru sekarang kau datang, hah? Kau ini." Alfa merasa terkejut dan memberikan pukulan kecil di kepala Steiven.
" Aaissshhh kakek, selalu saja kepalaku yang jadi sasaran. Maaf kek, aku baru saja ada masalah kecil." Steiven menghempaskan tubuhnya pada kursi sofa di samping sang kakek.
" Heh, masalah wanita itu lagi rupanya. Apa tidak kelar-kelar, hah. Matamu itu sudah katarak." Alfa memberikan pujian pada Steiven.
" Mataku ini masih normal kek, selalu saja memarahiku seperti itu." Steiven dengan muka yang malas.
" Makanya, jangan makan cinta buta saja kau ini. Semua makanan akan tampak enak jika di lihat dari penampilannya, tapi saat kau coba mencicipinya. Maka akan terlihat dan kau rasakan, mana yang enak dan tidak. " Alfa menghisap ro**ok yang berada di tangannya dengan sangat menghayati.
" Kau yang menyukai wanita itu, tapi tidak tau apa-apa tentangnya. Pria macam apa kau ini, sungguh membuat kakekmu ini malu."
" Iiss, daripada si pria breng***ek itu. Menyukai wanita penjual bunga yang tidak ada menariknya, merelakan nyawanya sendiri untuk menolongnya. Sungguh sangat bodoh." Steiven menaikan ujung bibirnya.
" Penjual bunga???". Alfa merasa ada perasaan yang aneh, setelah mendengar 'penjual bunga'.
" Iya, kalau kakek tidak percaya. Ini, aku ada fotonya. Nanti kakek bisa menilainya, pasti wanitaku yang akan menang." Steiven menggeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto menggenai Aqilla dan adiknya.
__ADS_1
Alfa menerima ponsel Steiven, ia melihat dengan seksama foto orang yang Steiven bicarakan. Matanya langsung melebar, dan perasaannya seakan-akan sedang bertarung.
" Siapa namanya?!! " Suara Alfa terdengar bergetar.
" Ada apa kek?." Steiven melihat wajah sang kakek sangat aneh.
" Siapa namanya? !!!." Alfa menekan perkataannya.
" Aqilla dan adiknya Haykal. " Steiven semakin bingung dengan ekpresi sang kakek.
" Nama lengkapnya?."
" Ah, kakek. Kau sangat aneh, memangnya ada apa dengan namanya. Ni, kakek lihat saja sendiri. Bawahan Steiv yang kirim infonya, buka aja email darinya." Steiv menunjukkan email menggenai data Aqilla.
Alfa dengan cepat membuka informasi data itu, membacanya dengan sangat teliti. Tiba-tiba, Matanya langsung melebar dan tubuh Alfa langsung bergetar.
......................
πΈπΈπΈπΈπΈ
Hayo...
Apa yang terjadi dengan si kakek Alfa???
Kenapa Kakek Alfa tubuhnya bergetar setelah melihat informasi data serta foto Aqilla dan sang adik???
__ADS_1
Harap sabar menunggu kelanjutannya ya...
πππ