
Joana kabur menuju kediaman kevin, mengharapkan perlindungan dari kekasih yang sebenarnya tidak mengganggap Joana.
Dengan Angkuhnya ia berjalan memasuki mansion Kevin.
" Sayang! Sayang, kamu dimana?" Joana berteriak dengan sangat keras, hingga membuat Kevin geram.
Kevin keluar dari kamarnya dan berjalan mendekati Joana, melihat wanita itu saja sudah membuat kepala Kevin pusing.
" Kenapa kau berteriak, Ada apa?." Suara Kevin terdengar pelan.
" Sayang, hari ini aku sangat sial. Semua berkas-berkas perusahaan itu sudah aku temukan, tapi pria dingin itu tiba-tiba datang. Sungguh menyebalkan, bahwan dia mengancam akan membunuhku. Hayolah sayang, kita balas semua perbuatan anak punggut itu." Joana bergelayut manja.
" Apa kau yakin, ingin balas dendam pada seorang Akhtar Wijaya???" Kevin sedikit meremehkan Joana.
" Sangat yakin sayang, aku tau kelemahannya!." Joana menyakinkan Kevin.
" Apa itu?." Kevin sangat ingin tau.
" Wanitanya." Ujar Joana dengan tersenyum.
Kevin mendengat berita itu, semakin menarik untuk bermain-main dengan rivalnya.
" Siapa?!!." Kevin menaikan satu alisnya ke atas.
" Aqilla Nadifa."
" Hem, baiklah. Akan aku pikirkan, pulanglah!!" Kevin mendorong Joana menjauh dari tubuhnya.
" Sayang, aku tidak mau pulang. Aku akan bermalam di sini, oke." Joana sangat yakin, Kevin akan mengizinkannya.
" Heh, semakin liar. Pergilah, sebelum aku benar-benar tidak bisa menahan amarahku ini." lalu Kevin berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Sedangkan Joana, dia sudah sangat marah mendengar penolakan dari Kevin. Menghentak-hentakkan kakinya, dengan berat akhirnya iya pergi meninggalkan mansion Kevin.
Saat telah berada dikamarnya, Kevin segera menghubungi seseorang.
" Cari info Aqilla Nadifa." Kevin langsung memutuskan pembicaraan dari ponselnya.
__ADS_1
" Sepertinya permainan akan segera dimulai, hahaha!!!." Kevin tertawa devil.
......................
Aqilla saat ini sudah kembali masuk kerja, sebenarnya sang kakek telah melarangnya untuk bekerja. Namun dengan alasan bosan, mau tidak mau kakek Alfa memberikan izinnya.
Flashbak On...
Pagi-pagi, Aqilla sudah rapi dengan pakain yang biasa ia gunakan saat kerja. Ia lalu duduk bersama kakek dan sang adik untuk menikmati sarapan pagi.
" Mau kemana, Qilla? " Tanya Alfa, melihat Aqilla sudah sangat rapi.
" Berangkat kerja kek." jawab Aqilla.
" Tidak!!! Tidak ada kerja-kerja, cukup diam dirumah dan nikmati semuanya dari kakek." Alfa memasang wajah garangnya.
" Kek, Qilla kalau tidak ada kegiatan. Nanti malah badmood dan bosen, apalagi hanya berdiam diri. Boleh ya kek?" Aqilla memasang wajah puppy eyesnya.
" Ya Ampun, cucuku. Keras kepalamu itu, benar-benar membuat kakek pusing. Baiklah, kau boleh bekerja. Tapi, jika nanti terjadi sesuatu, maka jangan salahkan kakek kau akan berdiam diri di mansion ini. Paham maksud kakek kan?" Alfa memandangi wajah Aqilla.
" Baik bos, aahhh terima kasih kakekku sayang." Aqilla menghampiri Alfa dan memeluknya.
Wajahmu menginggatkanku pada Eza nak, sangat mirip sekali. Bahkan sifat kalian tidak jauh berbeda, maafkan Ayah Eza. Batin Alfa.
Flashbak Off...
Menatap meja kerjanya yang sudah banyak dengan tumpukkan kertas-kertas, membuat Aqilla sedikit melotot.
Kenapa banyak sekali tumpukkan ini, apa semuanya ini pekerjaanku? Batin Aqilla.
Mulai mengerjakan satu persatu, membuat jari jemarinya keriting. Apalagi dengan kehadiran seorang wanita yang sangat membuatnya pusing.
" Siang sayangku, hehehe. Yuk makan siang Qil. Laper nih!." teriak Lastri.
" Kayaknya aku nggak ikut, Las. Titip aja ya, ni masih banyak. " Aqilla menunjukkan tumpukan kertas dihadapannya.
" Heh, banyak amat Qil? tumben!!!" Lastri juga kaget.
__ADS_1
" Makanya, jangan ganggu dulu ya. Please!!!" Aqilla langsung menggerjakan kembali pekerjaannya.
" Iya, iya. Mau nitip apa? Seperti biasakah?."
" Siap, betul. Sudah sana, nanti keburu selesai jam istirahatnya Lastri!!!." Aqilla sedikit menekankan perkataannya.
" Iya". Lalu Lastri beranjak pergi.
Waktu lun berlalu dengan sangat cepat, tak terasa sudah menunjukkan pukul tiga sore. Aqilla kembali fokus dengan pekerjaannya, sampai-sampai makanan yang dibawain Lastri pun tidak ingat.
" Mbak Qilla, dipanggil pak bos keruangannya." Sekretaris Veny.
" Ah iya mbak, apa harus membawa laporan?." Tanya Aqilla.
" Kayaknya nggak usah mbak, mungkin hanya ada yang ingin disampaikan saja."
" Oh, baiklah. Terima kasih." Aqilla segera merapikan pakaiannya dan berjalan menuju ruang bos.
Selama ia bekerja disana, ia sama sekali belum pernah berhadapan dengan pemilik perusahaan itu. Rasa gugup tak bisa dihindari.
Deg deg deg...
Tok
Tok
" Masuk ".
Aqilla membuka pintu ruangan tersebut dan memasukinya.
" Silahkan duduk."
" Ah, iya terima kasih tuan."
Benar apa kata yang lainnya, wajah tuan ini cukup tampan. Tapi, kenapa aku merasa merinding dan takut ya. Batin Aqilla.
......................
__ADS_1
Visual Kevin