Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 40


__ADS_3

Aqilla masih merasakan sangat pusing di kepala, dan bahunya juga masih teras ngilu. Namun semuanya itu, tidak ia tampakkan dihadapan Akhtar. Ia takut, akan membuat mental Akhtar semakin down.


" Maaf untuk semuanya, setelah kejadian semalam dan kamu sendiri telah mengetahui statusku. Apa kamu masih mau bertahan denganku seperti ini?." Akhtar memulai percakapan dengan wajah menunduk.


Aqilla berusaha untuk duduk, dan itu mendapatkan bantuan dari Akhtar karena melihat dirinya sedikit kesulitan.


" Tuan, dari awal anda mendekati saya. Sayalah yang mengatakan hal tersebut, karena perbedaan status kita sangatlah jauh berbeda. Namun, kini anda lah yang menggatakan hal tersebut kepada saya. Jadi, satu samakan nilainya?."Aqilla meraih wajah Akhtar dan mereka pun saling bertatapan.


" Apa kamu yakin, setelah mengetahui semaunya ini?." Akhtar takut, Aqilla akan membenci dan tidak mau lagi melihatnya.


" Lihat saya tuan! Jangan membicarakan hal yang sama sekali tidak tuan inginkan, masih melupakan janji kita? Jadi, awalilah semuanya dengan lapang dada. Serahkan semuanya kepada sang pemilikNya, kita hanya bisa berusaha dan ikhtiar. Untuk hasilnya, pasrahkan kepadaNya, oke." Senyuman Aqilla sangat manis.


" Heh, terima kasih sayang. Terima kasih!!." Akhtar pun tak menyadari, kalau wajahnya semakin mendekat dengan wajah Aqilla.


Dengan cepat Aqilla sadar, bahwa wajahnya kini sangat dekat dengan wajah Akhtar. Namun, tangan Akhtar yang berada di wajahnya sangat erat.


" Tuan!!! Wajahnya diajauhkan!! Nafas anda bau." Aqilla terpaksa berbohong.

__ADS_1


" Hah, bau??? Masa..." Akhtar dengan cepat melepaskan tangannya diwajah Aqilla dan memeriksa nafasnya.


Hah


Hah


Hah


" Huft, huft, hahaha. Tuan! anda percaya dengan perkataan saya ya?" Tawa Aqilla sudah tidak tertahankan, sambil memegangi perutnya.


Melihat Aqilla tertawa, membuat wajah Akhtar memerah karena malu. Ia tidak habis pikir, seorang pemimpin mafia bisa dibodohin oleh seorang wanita seperti Aqilla. Ia juga tidak percaya, kini wanita yang berada dihadapannya ini. Bisa memberikannya kebahagian yang sangat ia rindukan.


" Terima kasih sayang, terima kasih. " Tangan Akhtar menggelus puncak kepala Aqilla.


" Jangan pernah bersesih lagi ya tuan, saya siap untuk bisa berbagi semua kegundahan yang tuan rasakan. Tapi, bisa tidak jangan main peluk? Kan kita belum sah, nggak baik tuan."


" Jadi, kamu mau kita langsung nikah? Kamu sudah nggak sabaran ya?" Akhtar melepaskan pelukkannya.

__ADS_1


" Eh, nggak gitu juga tuan. Is.." Aqilla mendorong Akhtar untuk menjauh.


Terjadilah leluconan diantara mereka berdua, ternyata. Dua pria yang katanya mau pergi makan, mereka dua masih setia mengguping dari balik pintu.


" Bisa ngegombal juga bos lu Jas, kirain gue. Dia cuma bisa bunuh orang saja, ternyata!." Tawa Evan terdengar cukup keras.


Taakkk!!!


Suara sentilan di dahi Evan, oleh Jason.


" Dasar dokter o'on. Kecilin suara lu, cepetan turun. Mau mati lu, hah." Jason langsung kabur, ia takut bosnya itu akan menggeluarkan taringnya setelah melihat merek masih mengguping.


Evan pun secepat mungkin menggikuti Jason, ia juga tidak mau jadi samsaknya Akhtar. Dan benar saja, mendengar suara keributan dari luar kamar itu. Akhtar membuka pintu kamar, dan melihat kedua pria itu lari kalang kabut sampai terjatuh-jatuh.


Hem, dasar kalian berdua. Tidak ada berubahnya, selalu ingin tau apa yang aku lakukan. Rasanya ingin ku kejar kalian dan menjadikan kalian bahan pelampiasanku saat ini, heh. Tunggu saja kalian berdua, akan ada waktunya akan aku kerjaian. Batin Akhtar.


" Ada apa tuan diluar? " Tanya Aqilla disaat Akhtar sudah kembali masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


" Tidak ada apa-apa sayang, beristirahatlah. Saya dan kedua pria tadi ada urusan sebentar ya sayang, tidurlah." Akhtar pamit.


__ADS_2