
Menahan air mata yang sedari tadi ingin menetes, akhirnya tak terbendung lagi. Tanggis Aqilla kini pecah, berharap untuk tetap bertahan dan bisa membiayai hidupnya. Kini semuanya telah sirna, dengan wajah yang sembab ia pulang kerumah.
Kenapa hidup ini sangat kejam, apa salahku hingga harus seperti ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang? hiks, hiks hiks.
Mata Aqilla menatap map cokelat pemberian dari Jason, perlahan ia kembali membukanya. Menggambil tablet dan menekan tombol powernya, terpampang wajah pria aneh yang kini entah dimana keberadaannya.
" Dimana tuan berada? Biasanya selalu membuatku pusing." Aqilla kemudian menekan sebuah file, seperti yang di katakan dalam surat sebelumnya.
Betapa terkejutnya Aqilla melihat video yang berada dalam file tersebut, Semua pertanyaannya untuk si pria aneh itu perlahan terjawabkan. Selama ini, ia menggira Akhtar hanya ingin mempermainkannya. Setelah melihat video tersebut, hanya perasaan bersalah yang Aqilla rasakan.
" Tuan, maaf!!!." Tanggis Aqilla semakin pecah.
Tidak bisa ia ungkapkan perasaannya saat ini, sangat jelas terasa bahwa ia merindukan si pria aneh itu. Terlalu lama larut dalam rasa bersalahnya, Aqilla pun memeriksa ponsel yang ia lupakan untuk beberapa hari ini.
Banyak sekali pesan yang masuk dan panggilan tak terjawab, beberapa di antaranya ada berasal dari Cila dan nomor tak dikenal. Aqilla segera menelfon Cila kembali.
" Assalamu'alaikum mbak, ini Qilla. "
" Wa'alaikumussalam, ya ampun Qilla. Akhirnya kamu ini, kemana aja sih? Mbak sampai pusing mikirin kamu." Jawab Cila dengan nada protes.
__ADS_1
" Hehehe, maaf mbak. Qilla ada sedikit kerjaan beberapa hari, memangnya ada apa ya mbak?"
" Gimana kalau kita ketemuan aja, nanti ada yang mau mbak tanyain dan ada juga yang mau mbak jelasin sama kamu."
" Baiklah mbak."
" Kita ketemuan aja di kantor mas Beni ya, kamu nggak usah mikirin yang lainnya. Pokoknya mbak tunggu, oke. Da Aqilla."
" Eh, Wa'alaikumussalam. Apalagi ini ya Rabb."
Bunyi notifikasi pesan baru di ponsel Aqilla, ternyata dari Cila. Ia memberitahukan alamat kantor tunangannya, Aqilla semakin dibuat penasaran dengan apa yang ia alami hari ini. Tanpa menunggu lama, ia segera saja menuju tempat yang sudah diberitahukan Cila padanya.
" Lu datang kekantor gue sekarang, gue tunggu!." Ujar Beni melalui telfon genggamnya.
Akhtar menjadi bingung dan kaget, tumben-tumbenan kakaknya itu menggajaknya untuk bertemu.
" Heh, enak saja tu orang. " Akhtar tidak ingin menuruti apa yang dikatakan Beni, menurutnya semua itu tidak penting.
Melanjutkan pekerjaannya yang cukup lumayan banyak, namun semuanya hanya khayalan. Pikirannya masih terngiang akan perkataan sang kakak, daripada nggak fokus. Akhirnya Akhtar memutuskan untuk pergi, dan semua pekerjaannya saat ini. Ia limpahkan kepada Jason, walaupun ia melihat wajah Jason sudah berlipat-lipat.
__ADS_1
Huh, enak bener ya tu orang. Untung saja kau itu bos, kalau tidak.Aargghh! Nasib, nasib. Terima saja Jason, mau tidak mau lu harus melakukkannya. Lagian, tumben tu bos nggak ngajak gue. Biasanya kemana-mana gue pasti ikut, aiss! Emangnya gue siapa, heh. Batin Jason.
Dengan menggendarai mobilnya sendiri, tanpa ada Adam yang biasanya menemaninya. Melajukan mobil dengan kecepatan sedang, melewati padatnya arus lalu lintas di negara tersebut.
Sesampainya di perusahaan sang kakak, semua para karyawan menjadi kalang kabut. Bagaimana tidak, mereka melihat seorang Akhtar Wijaya yang adalah CEO yang terkenal akan kekejamannya dalam memberikan hukuman terhadap karyawaan ataupun orang lain yang membuat ya marah.
Dengan langkah angkuhnya ia memasuki Lift yang akan membawanya menuju ruangan Beni.
" Tuan Akhtar!!! Mulut Angel membeo.
Akhtar hanya memberikan respon dengan anggukan kepala, lalu Angel mempersilahkannya untuk masuk.
Mampus, jantung gue bisa copot ini. Ada apa ini, apakah akan terjadi pertarungan. Angel menepuk jidatnya.
Ketika langkah kaki Akhtar memasuki ruangan sang kakak, betapa terkejutnya ia melihat seseorang yang kini berada dihapannya.
Hayooo....
Siapakah itu???
__ADS_1
Sabar ya...