
Tak terasa usia kehamilan Aqilla menginjak bulan kelima, dalam kondisi hamil kembar tiga. Perut Aqilla terlihat sangat besar dan seperti sudah memasuki bulan ke tujuh,hal ini membuat sikap posesif Akhtar semakin besar.
Meninggalkan suaminya yang masih tertidur pulas, perlahan Aqilla berjalan menuju lantai bawah, menekan tombol lif untuk terbuka. Akhtar menyiapkan lif dirumahnya setelah mengetahui Aqilla hamil. Setelah pintu lif terbuka, ia berjalan menuju dapur.
" Bik, sedang masak apa?" sapa Aqilla kepada Siti.
" Eh nona, ini bibik sedang masak nasi goreng. Aduh, non Qilla duduk saja ya. Nanti kecapean, yuk sini sama bibik." Siti membimbing Aqilla untuk duduk.
" Terima kasih bik, bik. Boleh Qilla tanya sesuatu nggak?."
Siti yang saat itu telah selesai dengan masakannya, dan menaruhnya di atas meja makan.
" Boleh non, ada apa? Apa perutnya sakit? Apa ada yang mau non inginin? Bilang sama bibik, jangan ditahan ya. Nanti tuan junior encesan, hehehe." Siti mencoba menghibur, terlihat raut wajah Aqilla yang saat itu berbeda.
" Nggak ada kok bik, perasaan Qilla beberapa hari ini kayak nggak enak terus bik. " Dengan pandangan yang lurus, Aqilla terlihat seperti sedang melamun.
" Aduh non, jangan seperti itu. Suasana hati dari orang hamil memang terkadang sering berubah-ubah, nona jangan terlalu dipikiran ya. Nanti tuan junior bisa stres didalam, gini saja. Bibik buatin cemilan terenak buat non, tunggu sebentar ya." Siti segera berlarian kecil menuju dapur dan ia mulai berperang dengan berbagai peralatan disana.
Apa benar yang bik siti katakan tadi? mungkin saja ini bawaan hormon kehamilan, aku saja yang terlalu berlebihan. Aqilla.
" Bik, Qilla ke taman belakang ya."
" Iya non, pelan-pelan saja ya jalannya. Apa bibik antar dulu."
" Nggak usah kok bik, sekalian biar Qilla olahraga."
" Baik non, nanti setelah siap makanannya bibik segera kesana."
Sambil menunggu masakan bik Siti, Aqilla berjalan menuju halaman belakang, dengan perlahan ia melangkahkan kakinya. Tak lama kemudian, ia di kagetkan dengan suara yang sangat ia kenali.
" Sayang!!! Sayang!! Kamu dimana? ." Suara dari teriakan Akhtar membuat seisi rumah itu berhamburan.
" Ada apa tuan?." Joko yang berlarian menghampiri tuannya.
__ADS_1
Kemudian disusul oleh Adam dan Ayu dengan nafas yang ngos-ngosan, dan terakhir Siti menghampiri mereka dengan membawa nampan berisikan makanan ringan.
" Dimana istri saya?!!." dengan nada bicara yang tinggi, Akhtar menanyakan keberadaan istrinya.
" E e anu tuan, nona tadi ada disini. Bibik buatkan cemilan, non Qilla tadi katanya mau duduk di taman belakang." Siti tampak takut dengan aura yang Akhtar perlihatkan.
Tanpa menunggu lama, Akhtar segera berlari menuju taman belakang dari rumah mereka. Saat disana, ia melihat sang istri sedang duduk di kursi taman sedang menikmati sinar matahari pagi.
" Sayang!!!." Panggil Akhtar dengan setengah berteriak.
Aqilla sontak menoleh ke arah sumber suara, setelah melihat sang pemilik suara. Senyuman manis terukir diwajahnya, lalu ia ingin berdiri dari duduknya untuk menyambut sang suami.
" No, tetap duduk disana. " Akhtar mendekat ke arah Aqilla.
Aqilla kemudian duduk kembali dan Akhtar sudah melayangkan beberapa pertanyaan dan meluapkan rasa kekhawatirannya, disaat ia terbangun dari tidurnya tidak mendapati sang istrinya lagi disampingnya. Mendapati suaminya yang super cerewet, Aqilla langsung membungkamnya dengan menggunakan cemilan yang dibawakan bik Siti kedalam mulut sang suami. Alhasil, Akhtar menjadi diam dan menatapnya dengan tajam.
" Junior akan pusing mendengarkan suara daddy-nya yang super cerewet dipagi hari." Aqilla tersenyum memandangi wajah Akhtar yang masih menatapnya.
" Kan sudah daddy bilang, jangan pergi kemana-mana kalau belum mendapatkan izin. "Akhtar kembali mengomel.
" Sebentar lagi sayang, lagian juga sudah ada Jason disana."
" Selalu saja." Aqilla melirik suaminya, yang selalu melimpahkan pekerjaan kepada Jason
Disaat pasangan suami istri itu sedang menikmati makanannya, Adam menghampiri mereka dengan sedikit berlari.
" Selamat pagi Tuan, Nona. " sapa Adam.
" Pagi. " Jawab mereka bersamaan.
" Tuan, sepertinya jadwal anda dimajukan lebih awal, ini ada jadwal terbaru dari Jason." Adam memberikan ponselnya kepada Akhtar.
Akhtar membaca pesan tersebut, langsung melebarkan matanya dan memggembalikan ponsel tersebut kepada Adam.
__ADS_1
" Sayang, sepertinya akan pulang sedikit larut. Nanti mas hubungi Mey untuk menemani kamu dirumah." raut wajah Akhtar menampakkan sedikit kekhawatiran.
" Iya Daddy." Aqilla tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat sikap suaminya itu yang susah ditebak.
Selesai bersiap-siap, Akhtar lalu menghampiri Aqilla dan berpamitan.
" Sayang, mas mau berangkat. Masuklah, tidak baik berlama-lama diluar." Akhtar meraih tangan Aqilla dan memapahnya untuk berjalan memasuki rumah, dengan perlahan mereka berjalan.
Mendudukkan Aqilla di kursi yang berada diruang tamu, lalu Akhtar berlutut dihadapan isterinya dan mengelus perut Aqilla yang sudah sangat besar.
" Anak-anak daddy jangan bandel, jaga Bunda ya nak. " Setelah selesai berbicara dengam calon anak mereka, Akhtar mendarat satu kecupan manis di kening Aqilla.
" Mas berangkat! Jangan kemana-mana, tetap berada didalam rumah. Hubungi mas jika ada apa-apa!." Aqilla pun mencium punggung tangan suaminya.
" Iya mas, hati-hati ya."
Akhtar kemudian berjalan dengan sesikit tergesa-gesa, dimana Adam sudah menunggunya diluar. Ia langsung memasuki mobilnya dan Adam segera melajukan mobil mereka.
" Bagaimana bisa kecolongan seperti itu Dam?". Akhtar menggusap wajahnya dengan kasar.
" Sepertinya dia ingin membalas dendam atas kematian anaknya tuan! Leo sudah mencoba menembus jaringan mereka, tapi itu sangat sulit walaupun sudah menggunakan kode rahasia kita. " Adam menyampaikan informasi yang ia ketahui.
" Jangan sampai lengah lagi, secepatnya kita harus mendapatkan pria tua bre***ek itu."
......................
๐๐๐
Siapakah pria itu?
Bagaimana aksi Akhtar untuk menghadapinya?
Mohon dengan sabar untuk menemukan jawabannya dan terima kasih atas dukungan dari semuanya๐.
__ADS_1
Tanpa dukungan kalian, Author bukanlah siapa-siapa.