
Mobil yang membawa Akhtar, kini telah sampai di mansion pribadi miliknya di negara C. Ia berjalan Masuk ke dalam kamarnya dan segera membersihkan tubuhnya dengan berendam air hangat di bathtub, merasa telah segar. Lalu Ia mengakhirinya dan berjalan menuju walk in closet, untuk berpakaian.
Merebahkan diri di atas tempat tidur, tubuhnya merasa sangat lelah dengan aktivitas yang ada. Mencoba untuk memejamkan mata dan tidur, setelah beberapa waktu. Namun dirinya juga tidak tertidur, akhirnya ia bangun dan duduk bersandar di tempat tidurnya.
Menyalakan ponsel yang sudah ia matikan semenjak mengginjakkan kaki di negara C, mengecek beberala email perusahaan dan lainnya.
Wallpaper yang ia gunakan, selalu mengginggatkannya pada orang yang ia cintai. Ketika ia membuka email dari suruhannya yang selalu menggawasi orang itu, betapa kagetnya dan sontak saja ia langsung menelfon untuk memastikan kebenaran.
" Apa kalian tidak salah?" Akhtar menekan perkataannya.
" Benar tuan, beberapa hari yang lalu ada nona beserta adiknya dibawa oleh sekelompok orang yang saya tidak tau siapa. Rumah itu sudah kosong, keberadaan nona tidak bisa saya lacak." Leo membeberkan beberapa bukti foto dari orang suruhan mereka.
Akhtar merasa sangat kecolongan atas tindakannya, ia memang menjauhi Aqilla demi keamanannya dari ancaman sang papa. Menempatkan penggawal bayangan yang selalu menggawasi kegiatan Aqilla.
Ia ingat, kontak Aqilla yang terblok olehnya. Dengan cepat Akhtar membuka kembali, dan benar. Banyak sekali pesan masuk dari Aqilla, dan salah satunya.
Maaf atas sikapku selama ini, tuan. Aku memang egois, tidak memikirkan perasaanmu. Mungkin ini adalah jawabannya, kita memang tidak pantas untuk bersatu. Jarak diantara kita amat sangat terlihat jelas, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu tuan. Terima kasih untuk semuanya, dan mulai saat ini. Ku ikhlaskan dirimu untuk pergi, semoga dirimu bahagia!
Setelah membaca pesan itu, Akhtar sangat merutuki kebodohannya. Dengan sangat marah, ia langsung menghubungi Leo.
" Hallo tuan." Jawab Leo.
" Persiapkan semuanya, kita pulang. Kau dengar kan, Cepat!!!." Suara Akhtar sangat keras dan terdengar marah.
" Baik tuan, akan saya persiapkan." Leo langsung bergerak mempersiapkan semuanya.
Ya Tuhan, apalagi ini! Tiba-tiba minta pulang, apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui telah terjadi? Akh! Benar kata si biang gosip (Jason), Tuan tidak bisa ditebak kalau masalah percintaan. Nasib oh nasib, pulang oh pulang, ngantuk oh ngantuk. Batin Leo.
Aaakkkkhhh!!!
__ADS_1
(Anggap saja suara teriakan Leo ya😊)
Sementara yang sedang dibicarakan, sedang fokus menatap berkas di tangannya.
Hhaattccciiih!!!
Hhaattccciiih!!!
Ah, pasti ada yang sedang membicarakanku saat ini. Kurang kerjaan, membicarakan diriku tanpa izin. Jika kutau orangnya, maka akan ku cincang lidahnya. Batin Jason
......................
Mobil yang membawa Aqilla menuju mansion mewah, kini telah tiba. Mata Aqilla dan Haykal sontak terbuka lebar, mereka tidak menyangka kalau kakeknya merupakan orang yang sangat kaya.
" Wah, besar sekali! Apa ini rumah kakek?" Tanya Haykal. Karena kepolosan sang adik, Aqilla langsung menyenggol perut samping Haykal dengan sikutnya.
" Hahaha, kalian ini. Rumah kakek, rumah kalian juga. Jadi kalian tidak usah merasa tidak enak, ayo kita masuk. Kakek akan menggenalkan dengan kakak sepupu kalian, dia itu pria yang sangat menyebalkan." Alfa berjalan beriringan dengan Aqilla juga Haykal, memasuki mansion mewah tersebut.
" Tolong kalian antarkan cucuku ke kamarnya, biarkan mereka istirahat dulu." Alfa memerintahkan para pelayannya.
" Baik tuan!."
Aqilla ditemani oleh seorang wanita, yang umurnya bisa digolongan sama dengannya.
" Nona, ini kamarnya." Sambil menunjukkan ruangnya.
" Terima kasih, oh iya. Boleh aku tau namamu?." Tanya Aqilla.
" Nama saya Intan, nona. " jawabnya.
__ADS_1
" Intan, aku Aqilla. Temanin ya, aku belum terbiasa disini." Pinta Aqilla.
" Baik nona, mari silahkan masuk."
Aqilla merasa sangat takjub dengan isi kamar tersebut, menggajak Intan untuk duduk bersama dikamarnya.
" Intan, boleh tidak aku menanyakan sesuatu padamu?."
" Saya akan menjawab atas apa yang saya ketahui, nona." Jawab Intan.
" Apa benar, Kakek Alfa mempunyai anak yang bernama Farezel atau Eza?." Tanya Aqilla dengan penuh selidik.
" Maaf nona, itu diluar kuasa saya untuk menjawabnya." Intan merasa tidak berhak menjawab.
" Kenapa?."
" Itu adalah kewenangan dari tuan besar, nona. " Hindar Intan.
" Huft, baiklah. Terima kasih ya, Intan. Apa boleh aku meminjam mukenahmu? Tadi aku lupa membawanya, kakek terlalu buru-buru."
" Maaf nona, saya tidak punya. Tapi, akan saya tanyakan kepada yang lainnya."
" Hem, sama arah kiblatnya ya sekalian hehehe. Maaf merepotkan, terima kasih." Senyum Aqilla.
" Itu sudah tugas kami nona, apa masih ada yang nona perlukan?."
" Sepertinya, hanya itu dulu saja Tan."
" Baik nona, saya permisi dulu." Intan lalu beranjak pergi.
__ADS_1
Aqilla masih menatap ruang kamarnya, merasa sangat tidak pantas. Karena sang Ayah selalu mengajarkan kesederhanaan dan hidup yang selalu melihat kebawah, tak lama kemudian Intan datang dan memberikan apa yang Aqilla minta sebelumnya.
Lalu ia beranjak menggambil air wudhu, dan menunaikan sholat wajib. Seperti nasihat kedua orangtuanya untuk tidak pernah melupakan kewajiban sesibuk apapun.