
Dari suatu tempat, terjadi pertemuan diantara dua orang yang sama-sama ingin melakukan balas dendam.
" Wajahmu lebih baik dari kakakmu yang arogan itu, sayangnya! Kakakmu itu terlalu terobsesi pada wanita sialan itu."
" Heh, tidak usah membahas yang lainnya. Ada apa kau menemuiku? Melihatmu saja, aku sudah sangat engan."
" Aku ingin, kita bekerjasama dalam hal ini."
" Apa yang bisa aku harapakan darimu? untuk keluar dari bangunan kumuhmu itu saja, kau sudah sangat kesusahan. Tidak ada yang bisa kuharapkan darimu."
Orang ini, sama saja seperti kakaknya, terlalu angkuh dan sombong. Jika tidak membutuhkannya, aku pun tak sudi untuk bertemu.
" Cepat katakan!!! Apa yang bisa aku andalkan darimu?".
" Kau tenang saja, cukup memancing wanita itu untuk keluar dari mansion mereka. Aku pastikan, pria tua itu akan hancur." dengan sangat yakin, ia mengatakannya.
" Wow, dengan cara apa aku bisa percaya? Kamu saja sudah berapa kali tertangkap olehnya, sungguh tidak bisa diharapkan."
" Kau ini, selalu saja meremehkanku. Lihat saja, cukup dengan cucu wanitanya keluar dari mansion itu. Selebihnya, biar aku yang menggaturnya."
" Baiklah, tapi untuk keselamatan. Kita tidak menjamin satu sama lain."
" Oke, Deal!."
" Deal ".
Heh, dasar wanita parasit. Kau kira aku bodoh, cukup kakaku saja yang kau perdaya. Kenzi.
__ADS_1
Mereka sepakat untuk melakukan misi balas dendam kepada Alfa, namun mereka tau. Untuk menyerang pria tua itu, sama saja menyerahkan nyawa mereka sendiri. Mereka mengatur strategi untuk memulainya dari orang yang sangat ia sayangi, yaitu melalui cucunya.
Kedua orang ini, adalah Joana dan Kenzi. Joana mengetahui bahwa yang melakukan penyiksaan terhadap dirinya adalah kakek dari Aqilla, entah bagaimana ia dapat mengetahuinya.
Sedangkan Kenzi, ia ingin membalaskan kematian sang kakak, Kevin!!! Ya... Pria yang terlihat oleh Aqilla sedang mendapatkan penyiksaan waktu itu adalah Kevin, ternyata saat itu adalah hari terkhirnya untuk hidup. Namun untuk jasadnya, Alfa tidak memberikannya kepada Kenzi. Jasad itu telah hilang, entah bagaimana mereka melenyapkannya. Itulah yanb membuat Kenzi murka.
......................
Rumah sakit...
Cila dengan setiap masih mendampingi tunangannya yang saat ini masih dalam keadaan depresi, Beni belum bisa menerima kenyataan hidupnya.
" Sayang, lupakan semua yang membuatmu berpikir dengan keras dan membuatmu sakit. Ia hanya bagian dari masa lalumu, saat ini. Masih banyak orang-orang yang menyayangimu dan mencintaimu, jangan terlalu dalam menyimpannya." Cila menatap wajah Beni dengan penuh harapan, ingin rasanya ia bertukar peran.
Klek...
Suara pintu terbuka, ternyata Amirah dan Akhtar yang datang.
" Masih sama Ma, hanya saja Beni sudah mau merespon tapi tidak untuk bicara. Tatapan matanya masih terasa kosong."
Amirah meraih pundak Cila dan memeluknya, ia sangat tau perasaan calon menantunya itu.
" Biarkan mama mencobanya nak." Amirah menepuk punggung tangan Cila dan tersenyum, walaupun ia masih menyimpan duka atas kepergian suaminya.
Akhtar hanya memandangi wajah kakaknya yang masih seperti boneka hidup, ada rasa penyesalan dalam dirinya yang tidak bisa menjaga kakaknya dengan baik.
" Nak, ini mama. Bagaimana kabarmu sayang? Jangan terlalu lama seperti ini nak, apa kamu tidak sayang sama mama? Mama kangen dengan anak mama yang dulu." Amirah meneteskan air mata.
__ADS_1
Akhtar dan Cila tak tega melihat pemandangan seperti ini, sungguh membuat Cila tak tertahankan untuk menanggis.
Akhtar perlahan menggenggam tangan Beni, ditatapnya wajah sang kakak.
" Tidak akan ada yang berubah, kau tetap kakakku Beni Saputra! Takkan pernah tergantikan, lupakan masa lalu. Hadapi masa depan, sudah banyak orang yang menyayangimu menunggu. Jangan biarkan mereka lelah menunggu, lihatlah mereka." Akhtar menggarahkan wajah Beni untuk bisa menatap Amirah dan Cila, dan tak berapa lama kemudian. Beni sesegukkan menanggis.
Hikks...
Hikks...
Akhtar tetap menggenggam tangan sang kakak, ia tau. Beni saat ini, sepenuhnya membutuhkan keberadaan mereka.
" Lupakan masa lalu, kau tetaplah kakakmu. Tidak akan ada yang berubah!!!." Melepaskan genggaman dan memeluk tubuh Beni yang bergetar.
" Ma Maafkan A aku, Ma maafkan Aku!!!." Suara Beni terdengar dalam isakan tanggisnya.
Amirah dan Cila merasa sangat gembira melihat respon yang Beni berikan.
Mereka pun larut dalam kebahagian, dengan kembalinya keadaan Beni.
Dddrrtt...
Dddrrtt...
Ponsel Akhtar bergetar, melihat ada notifikasi pesan masuk. Lalu ia membacanya, matanya langsung melebar."
" Ma, Akhtar ada urusan." Akhtar berpamitan untuk pergi.
__ADS_1
Amirah hanya menganggukkan kepalanya dan ia tau jika Akhtar masih mempunyai urusan yang lainnya. Dan akhtar pun pergi dengan langkah yang sangat cepat.
" Breng***ek, apalagi ini!!!." Umpat Akhtar.