Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 87


__ADS_3

" Ambil darahku, Rh-null!!!."


Suara orang itu, seketika membuyarkan kepanikan yang ada. Mata mereka semua tertuju pada orang tersebut!!!


" Kakek !!! " Steiven menggenalinya.


Evan tidak ingin bertanya apa-apa, untuk saat ini. Dia hanya membutuhkan darah itu dengan segera, agar Aqilla bisa bertahan.


" Baik tuan, silahkan ikut petugas kami." Evan menggarahkan beberapa dokter, untuk segera memprosesnya.


Alfa segera mengikuti arahan dari medis untuk melaksanakan donor darah.


Beberapa saat proses donor darah selesai, Evan langsung memberikan kepada Aqilla. Melihat kondisi Aqilla yang memungkinkan untuk dilakukan suatu tindakan, Evan dan para tim dokter yang lainnya. Bersiap untuk melakukannya, mereka harus bekerja keras untuk menggeluarkan cairan darah maupun udara didalam jantung dan paru-parunya Aqilla.


Melihat Alfa duduk di depan ruangan tindakan dengan tenang, Steiven perlahan mendekatinya. Dengan perasaan yang tidak karuan, Steiven mencoba membuka suara.


" Kek."


Tidak ada tanggapan dari Alfa untuk Steiven, sikapnya yang datar. Membuat Steiven semakin merasa bersalah, ia tau bahwa sang kakek menahan emosinya.


" Maafkan Steiv, kek." Dengan menunduk, tidak berani untuk menatap wajah sang kakek.


" Diam !!! Fokus saja dengan Aqilla." Jawaban singkat Alfa yang sungguh menyiksa Steiven.


Akhtar hanya bisa melihat setiap adegan yang sedang dilakukan Steiven bersama kakeknya, menatap wajah kakeknya Steiven. Akhtar merasakan aura yang berbeda padanya, tidak ingin membuat keadaan menjadi lebih runyam. Ia lebih memilih untuk diam dan menunggu kepastian dari tindakan medis pada Aqilla, melihat ponselnya bergetar.


" Hallo "

__ADS_1


" Hallo nak, bagaimana kabarmu? Mama kangen, bisakah kita bertemu?" yang menelfon adalah Amirah, mamanya Akhtar.


" Kabar Akhtar baik ma, nanti saja. Akhtar akan memberi kabar jika sudah ada waktu." Jawab Akhtar dengan nada datar.


" Ada apa denganmu nak? Sepertinya, kamu sedang menggalami sesuatu, jangan sembunyikan apapun dari mama!." Amirah mempunyai firasat akan anaknya.


" Heh, Akhtar sedang berada di rumah sakit ma. Aqilla, Aqilla kecelakaan!." Akhtar menjawab dengan nada bicara yang sudah tidak bisa di artikan.


" Apa??? Rumah sakit mana nak? Beritahu mama." Amirah begitu sangat kaget dengan jawaban dari Akhtar.


" Rumah sakit ****."


" Tunggu mama."


Amirah langsung memutuskan percakapan mereka, Akhtar tidak bisa berbuat apa-apa.


......................


Tap


Tap


Suara langkah kaki terdengar sangat jelas, semakin mendekati dimana orang-orang sedang menunggu.


" Akhtar!!!." ternyata itu adalah Amirah.


" Mama!." Mulut Akhtar membeo, melihat wanita yang telah melahirkannya itu sudah berdiri di dekatnya.

__ADS_1


Akhtar lalu berjalan mendekatinya, tiba-tiba! Muncullah seorang pria, yang selama ini menanamkan kebencian pada dirinya. Ingin rasanya Akhtar memutar tubuhnya dan menjauhi mereka, tapi Amirah? Akhtar tidak ingin membuat mamanya merasa tidak dihargai dan tidak dianggap.


" Ma." Akhtar memeluk Amirah.


" Bagaimana Aqilla nak? Apa yang terjadi sebenarnya?". Amirah masih sangat ingin tau, sebab Aqilla sampai masuk rumah sakit.


" Panjang ceritanya, ma. Duduk saja dulu, disana ada keluarga Aqilla." Akhtar menunjukkan dengan menggunakan tangannya, keberadaan keluarga Aqilla.


" Baiklah, nanti kau jelaskan pada Mama. Mama ingin menyapa keluarga Aqilla dulu, kamu antarkan mama." Amirah meraih lengan Akhtar dan menyeretnya.


Mereka berjalan beriringan, dan Akhtar tidak memperdulikan keberadaan papanya. Hingga akhirnya, Amirah berhenti.


" Pa, hayo!" Amirah melepaskan tangannya dari lengan Akhtar dan menggenggam tangan suaminya, Wijaya Saputra.


Akhtar tidak ingin berdebat apapun, apalagi dengan situsi seperti ini. Saat ini ia hanya ingin fokus untuk Aqilla.


" Ma, ini keluarga Aqilla. Kakak sepupunya, Steiven. Dan, kakeknya." Akhtar memperkenalkan.


" Iya, Pa hayo..." Akan tetapi, Amirah merasakan sesuatu keanehan pada suaminya.


Wijaya menatap punggung pria yang katanya adalah kakek Aqilla, tubuhnya menegang.


" Pa, ada apa? Hayo, kita sapa keluarganya Aqilla." Amirah masih tidak habis pikir dengan sikap suaminya itu.


Bukannya mendekat, Wijaya semakin kaku ditempat. Menatap pria tua yang sedang duduk berhadapan dengan pintu ruangan tindakan, tubuhnya bergetar.


" Tidak, ti tidak!!!." Suara wijaya terdengar parau.

__ADS_1


......................


__ADS_2