
Di lain ruangan, Alfa masih terbaring lemah diatas tempat tidur. Berbagai macam alat rumah sakit berada pada tubuhnya, guna untuk menunjang kehidupannya.
" Qilla, Qilla jangan tinggalkan kakek nak. Qilla!!!."
Suara tersebut berasal dari mulut Alfa, ia menggigau. Dalam keadaan yang masih tidak sadarkan diri, ia menyebut nama Aqilla.
Perawat yang saat itu sedang berada disana, segera menekan tombol emergency agar dokter segera datang. Tak berselang lama kemudian, dokter datang dan segera memeriksakan keadaan pasien.
" Sepertinya kondisi pasien semakin menurun, suster! Tolong hubungi keluarganya." Ujar sang dokter, agar perawat tersebut dapat segera menghubungi keluarga dari pasien.
" Baik dok ." Perawat tersebut segera mencari orang yang selalu menjaga pasien tersebut.
Di saat dokter telah selesai memeriksa pasien, ia lalu keluar dan menuju ruangannya.
Robert yang selalu menjaga Alfa, saat itu sedang berada diruangan Aqilla. Disaat perawat tersebut memberitahukan bahwa dokter yang menanggani Alfa ingin bicara, maka ia berpamitan pada Aqilla.
" Maaf nona, saya permisi dulu." Pamit Robert kepada Aqilla.
" Iya paman, ada apa?" Tanya Aqilla.
" Dokter yang sedang menanggani tuan. besar, ingin berbicara! " jawab Robert.
" Hem, baiklah paman. Setelah itu, tolong beritahu Aqilla juga ya keadaan kakek!."
" Baik nona, saya permisi". Robert lalu bergegas meninggalkan ruangan Aqilla menuju ruang dokter.
Setelah Robert meninggalkan ruangan Aqilla, perlahan Aqilla mulai ingin membicarakan sesuatu kepada Akhtar.
__ADS_1
" Mas! apa boleh bicara sesuatu?." Aqilla tampak ragu untuk menggatakannya, namun rasa penasarannya sungguh besar.
" Ya sayang, mau bicara apa? kayaknya serius banget!." Akhtar belum menyadari rasa kegundahan yang Aqilla rasakan.
" Mas, apa benar kalian adalah mafia??." dengan sangat ragu-ragu Aqilla mengatakannya.
Genggaman tangan Akhtar pada tangan Aqilla tiba-tiba terlepas, ia sangat terkejut dengan pertanyaan yang Aqilla katakan. Disaat yang sama, Evan masih berada diruangan tersebut setelah menyuruh perawatnya pergi juga ikut kaget.
Aqilla yang merasakan keanehan pada Akhtar, ia perlahan untuk berusaha untuk duduk di atas tempat tidurnya. Meraih tangan Akhtar dan menggenggamnya kembali, Akhtar pun dibuat canggung dengan keadaan saat itu.
Akhtar takut, Aqilla akan marah dan meninggalkannya setelah mengetahui sisi gelapnya.
" Mas!." Aqilla memanggil Akhtar kembali.
Dalam keadaan seperti itu, Evan tidak ingin ikut campur dan menjawab pertanyaa Aqilla. Karena, ia rasa hanya Akhtar yang bisa menjawabnya dengan tepat.
" Mas, kenapa diam." Aqilla merasakan Akhtar yang kaku, tidak merespon apa yang ia berikan.
" Mas, maaf jika pertanyaan ini membuat mas menjadi tidak nyaman. Qilla hanya melepas rasa penasaran yang ada, jika mas tidak mau menjawabnya juga tidak apa-apa mas. " Aqilla menepuk-nepuk punggung tangan Akhtar dengan perlahan.
Mata Akhtar menatap Aqilla dengan tatapan yang sangat penuh arti, saat itu. Akhtar yang sedang duduk disamping Aqilla, menundukkan kepalanya hingga menyentuh kaki Aqilla yang sedang duduk diatas tempat tidur. Aqilla pun merasa sangat kaget.
" Maaf, maaf!!!." Hanya kata tersebut yang keluar dari mulut Akhtar disertai air mata yang mulai menetes.
Aqilla maupun Evan tampak bingung dengan sikap yang Akhtar tampakkan, tidak seperti biasanya ia akan seperti itu.
" Mas, mas kenapa?" Tanya Aqilla yang bingung dengan sikap Akhtar.
__ADS_1
" Maaf, maaf, maaf!!!." Kalimat tersebut yang hanya Akhtar ucapkan.
Aqilla perlahan menggusap bagian atas kepala Akhtar dengan sangat perlahan, menatap Evan dengan senyuman.
Busset!!! Kenapa kakak ipar tersenyum seperti itu? Wah, gawat ini. Terjadi perang batin yang sangat dalam kayaknya. Mau pergi dari sini, tanggung. Terus ada disini, jiwa jomblo gue semakin terusik dengan kemesraan yang mereka tampakkan, nasib oh nasib. Evan.
" Mas, coba lihat Qilla." Aqilla dengan perlahan menggawahkan wajah Akhtar untuk melihatnya.
Saat kedua mata mereka bertemu, lalu Aqilla memberikan senyuman manis untuk Akhtar.
" Kenapa mas nggak mau liat Qilla? Apa Pertanyaan yang Qilla berikan itu salah ya?".
Akhtar menjadi diam setelah mendengar perkataan Aqilla tersebut, sangat membingungkan. Disaat Aqilla menyentuh wajahnya, Akhtar menjadi terpaku menatap Aqilla.
" Mas pasti bingung, darimana Qilla tau hal itu. Iya kan?" .
Akhtar hanya menganggukkan kepalanya.
" Mas juga pasti takut, Qilla akan meninggalkan mas juga, bukan!?"
Kembali, Akhtar hanya menganggukkan kepalanya dan kembali menunduk.
" Mas, Qilla memang sangat kecewa dengan kalian. Apalagi mengetahui sisi lain dari pekerjaan kalian, tidak ada seorang pun yang siap untuk mengetahui hal ini. Tapi, Qilla sudah berjanji pada diri Qilla sendiri. Untuk menerima hal itu, walaupun sangat teramat berat. " Aqilla berhenti berbicara.
Mendengar hal itu, Akhtar kembali menatap wajah Aqilla yang terlihat meneteskan air mata. Akhtar segera menraih wajah Aqilla dengan kedua tangannya.
" Sayang, maaf! Mas sudah merahasiakan hal ini, jika memang kamu tidak bisa menerimanya. Mas juga sudah berjanji untuk melepasmu, jika suatu saat kamu mengetahui hal ini dan pergi. Mas tidak akan memaksa, mas tidak mau kamu menderita lagi." Akhtar menegarkan hatinya.
__ADS_1
" Maaf mas, Qilla memang belum bisa untuk menerimanya!."
Akhtar semakin dilema dengan perkataan dari Aqilla, ia beranggapan bahwa Aqilla tidak bisa menerimanya dengan sisi gelapnya. Evan juga menjadi sangat kaku dengan apa yang ia lihat saat itu.