
Beberapa hari kemudian...
Semenjak risign dari pekerjaan, Aqilla belum diperbolehkan oleh Alfa untuk bekerja. Bahkan, Steiven sudah memintanya langsung pada sang kakek untuk membawa Aqilla ke perusahaannya. Semuanya itu Alfa tolak, karena ada sesuatu yang sangat membahayakan nyawa Aqilla.
" Kek, apa boleh Qilla kerumahnya Meyra?" Tanya Aqilla.
" Tetap dirumah, dan jangan membantah." Alfa menekankan perkataannya.
" Kalau Meyra yang datang kemari, apa boleh kek?".
" Tidak!!! "
Aqilla akhirnya hanya bisa terdiam, merasa bosan dengan aturan yang dibuat oleh kakeknya. Menuju ke dapur, melihat mermaid sedang melakukkan pekerjaannya. Aqilla pun ingin rasanya menikmati minuman es yang ia sukai. Ketika ingin membuatnya, seluruh yang berada disana melarangnya.
" Nona, jangan!!! Tolong nona, kami masih ingin kerja disini. Jika tuan besar melihatnya, habislah kami nona. " Ujar bik Ratna.
" Benar nona, biar kami saja yang membuatnya. Nona bisa sebutkan apa yang ingin anda inginkan nona." Intan memperjelas.
" Huh, baiklah. Tolong buatkan es violet sunrise ya, maaf. Tadi sudah membuat keributan." Aqilla beranjak meninggalkan dapur menuju balkon kamarnya.
Ayah, bunda. Qilla bingung dengan sikap kakek yang seperti ini, sebenarnya apa yang sedang kakek tutupi dari Qilla. Rasanya bosan sekali, jika dirumah yang lama. Tentu saja bisa merangkai untuk dijadikan bahan kerjaan, tapi disini. Huh.. Aqilla.
Tok
Tok
" Nona, ini saya mau menghantarkan pesanan nona." Teriak Intan.
" Masuk saja Intan."
Intan membuka pintu dan segera berjalan menuju sumber suara.
" Ini nona, selamat menikmati.!" Disaat Intan ingin pergi, Aqilla menahannya.
__ADS_1
" Intan temenin disini ya." Aqilla menepuk tempat duduk yang kosong bersebelahan dengan tubuhnya.
" Iya, nona."
" Intan, aku sangat bingung dengan isi rumah ini. Sebenarnya, pekerjaan kakek itu apa ya? Apa kamu tau hal itu?" Tanya Aqilla dengan menatap Intan.
" Eh, sa saya tidak tau nona." Jawab Intan dengan sedikit bergetar.
" Huhf, Ya sudah nggak apa-apa. Kamu boleh kerja lagi, terima kasih ya atas es-nya." Aqilla tersenyum.
" I i iya nona, sama-sama." Intan segera pergi dari kamar Aqilla.
Ya ampun nona, lebih baik anda tidak usah mencari tau tentang pekerjaan tuan besar. Anda akan sangat terkejut, jika mengetahuinya. Intan.
Ketika sedang asik melamun, ponsel Aqilla bergetar. Ada sebuah panggilan yang masuk kedalam ponselnya.
Kak steiven caliing...
" Wassalam, cepetlah keluar. Kakek ingin mengajak kita keluar."
"Wah, benarkah kak. Alhamdulillah."
" Cepetan, kalau dalam sepuluh menit belum siap. Maka semuanya batal, tal tal."
Tut
Tut
Ya ampun, selalu saja. Aqilla
Aqilla pun bergegas untuk segera bersiap-siap, setelah itu ia langsung keluar kamar.
__ADS_1
Melihat tidak ada satupun orang yang berada di ruang utama, membuat Qilla geram.
" Kak Steive!!! Dasar kurang kerjaan!!." Aqilla baru menyadari jika ia sedang di jahili oleh kakaknya.
Sehabis berteriak, ternyata yang sedang di teriakin berjalan dari arah belakang tubuh Aqilla.
" Siapa yang kurang kerjaan, hah?" Steiven menyentil kepala belakang Aqilla.
" Aauww, sakit. " Protes Aqilla.
" Masih mau berdiri disitu, atau mau ikut pergi? Kau ini, aneh. Kenapa aku harus mempunyai adik perempuan yang bodoh sepertimu, tidak seperti Haykal yang tidak merepotkan!." Sindir Steiven.
" Huh! seharusnya kakak itu senang, biasa Qilla repotin. Nanti, kalau Qilla udah nggak ada. Kan nggak bisa direpotin lagi."
Jjddeeuueerr !!!
Perkataan Aqilla membuat Steiven tiba-tiba menjadi bungkam, merasakan ada sesuatu yang aneh setelah Aqilla menggatakan hal tersebut.
" Ya sudah, cepetan. Gue tinggal juga lu." Steiven berjalan menuju mobilnya.
" Aih, selalu saja begitu. Kak Steive, tungguin!." Teriak Aqilla sembari berlari menggejar Steiven.
......................
Kepergian Aqilla dan Steiven tanpa sepertujuan dari Alfa, saat itu Steiven hanya merasa kasihan melihat Aqilla murung tidak diperbolehkan oleh Kakeknya untuk beraktivitas di luar mansion.
Disaat mobil Steiven melaju menuju sebuah tempat, ada sebuah motor yang menggikuti mereka dari arah belakang. Hal itu dengan cepat Steiven sadari, merasa bisa menggatasinya sendiri. Ia mencoba menggelabui orang tersebut!
" Qilla, pegangan yang kuat." Tanpa melirik, Steiven memberikan perintah pada Qilla.
" Ah, Ada apa kak?".
" Sepertinya, ada yang menggikuti kita. Tenang saja, biar kakak atasi mereka. Pengangan!!." Teriak Steiven.
__ADS_1
Hal itu membuat Aqilla merasa takut, ia melihat ke arah belakang. Memangn ada yang sedang mengikuti mereka, kini mobil yang mereka kendarai melaju dengan sangat kencang. Steiven terus berusaha untuk menghindari pemotor itu, namun Steiven memang bukanlah tandingannya. Steiven selalu tidak bisa di andalkan, bertindak ceroboh. Maka dari itu Alfa tidak meneruskan dunia bawahnya kepada Steiven.