
" Katakn Van, cepat!!!." Akhtar sudah sangat ingin tau, hasil dari cairan itu.
" Hem!!!" Evan hanya menjawab seperti itu.
Akhtar sangat murka melihat reaksi Evan seperti itu.
" Cepat katakan bodoh!!! Kau mau peluru ini berada didalam kepalamu ,hah!!!." Akhtar dengan sangat emosi, menodongkan senjatanya di kepala Evan.
Gila ni orang, nafas gue udah mau putus juga. Dia dengan enaknya main todong kepala gue aja, dia pikir gue magician apa. Tinggal bilang bim salabim doang! Evan.
" Iya, iya. Gue baru mau bilang o'on, nafas gue pendek jadi dinormalin dulu." Evan memprotes kelakuan Akhtar.
" Gimana??!!." Tanya Akhtar lagi kepada evan.
" Hasilnya, seratus persen asli. Cairan itu asli penawar racun, bukan air. Udah, minggir sono. Gue mau masuk, biar cepet dikasiin sama Aqilla." Evan sedikit melotot kepada akhtar.
Mendengar hasil pemeriksaan dari Evan dan menyatakan bahwa cairan itu asli, Akhtar dan Jason bernafas dengan lega. Namun karena posisi tubuh Akhtar berdiri tepat di depan pintu masuk ruangan Aqilla, membuat Evan menjadi kesusahan untuk melangkah.
Evan yang semakin jengkel dengan Akhtar, akhirnya dengan kekuatan penuh. Ia menerobos tubuh Akhtar, dan hasilnya. Akhtar maupun Jason tersingkirkan dengan tubuh yang sudah mendarat pada lantai.
" Rasain lu, emang enak jatuh!". Evan memberikan sedikit senyuman sinisnya kepada dua manusia yang terjatuh tersebut.
Akibat ulah Evan, Akhtar menjadi marah dan geram. Jason pun hanya bisa menyeringai dengan garang kepada Evan, dengan liciknya dia langsung berlari masuk kedalam ruangan.
" EVAN!!!." teriak Akhtar.
Jason membersihkan debu-debu yang menempel pada pakaiannya, lalu ia mengajak Akhtar untuk duduk dan menunggu hasilnya.
__ADS_1
Akhtar menggambil ponsel dari saku celananya, lalu ia menghubungi seseorang.
" Bereskan !!!." Hanya satu kata yang terucap. Lalu ia memutuskan percakapan dari ponselnya, memasukkan kembali ponsel tersebut kedalam saku celananya.
......................
Disaat Leo sedang memperhatikan keadaan Joana, tiba-tiba ponselnya bergetar dan ia melihat siapa yang menelfonnya. Melihat nama si bosnya yang menelfon, ia dengan segera menerima dan menggeser tanda hijau pada telfonnya.
" Hallo bos." Jawab Leo dengan nada cepat.
" Bereskan !!!
Leo menjadi terdiam, dengan perkataan yang di ucapkan oleh si bosnya itu. Bagaikan tidak percaya, Leo menjadi larut dalam keterdiamannya.
Apa!!!
Bereskan!!!
Menggambil ponsel dan mencari nama kontak si Jason, lalu calling.
" Hallo Jas, gimana keadaan nona?" Tanya Leo, untuk melepaskan rasa penasarannya.
Mendapatkan telfon dari Leo, membuat Jason sedikit menjauh dari posisinya yang saat itu berdekatan dengan si bos.
" Hem, Evan sedang memberikan penawarnya kepada nona Aqilla. Menunggu hasil reaksinya." Jawab Jason dengan nada ketus.
" Aih, kau ini. Tidak usah ketus juga kali, kenapa bos bilang 'Bereskan' untuk Joana?." leo kembali membuat jiwa keponya membludak.
__ADS_1
" Laksanakan saja, tidak usah kepo. Mau jadi santapan bos apa kau, hah? Diam dan laksanakan!!!." Jason memutuskan sambungan telfon dari Leo dan kembali mendekati bosnya.
" Aih, Jason!!! Dasar teman tidak beradab, huh. Oke, saatnya aku bermain!! Sudah lama aku menunggu untuk menghabisi wanita jelmaan kutu kupret itu, hahaha!!!." Leo tertawa dengan senangnya.
Berjalan mendekati Joana yang sedang meregang nyawa, dengan senyuman devilnya. Leo memutari tubuh Joana, melihatnya saat itu hanya tinggal menunggu end-nya saja.
" Bagaimana nona Joana yang terhormat, tercantik, dan tergila!!! Sudah siapkah untuk menghilang dari dunia ini? Karena aku sudah tidak sabar untuk melaksanakannya!." Senyum seringai yang Leo berikan.
Dengan tertatih, Joana berusaha untuk berkata, tubuhnya terasa sudah mati rasa.
" Ba bajing an !!! Bu nuh sa ja, aku su dah tidak sang gup!." Joana terlihat sangat memasrahkan dirinya.
" Heh, kau kira aku akan segera melenyapkanmu, hah!! Oh tidak Joana, biarkan sakit itu yang akan menghantarkanmu menuju tempat peristirahatan terakhirmu, hahaha. Apa kau ada pesan-pesan terakhir, wahai nona Joana yang terhormat?." Leo semakin menggulur waktunya untuk mengeksekusi Joana.
Joana sudah tidak bisa berkata lagi, rasa sakit pada tubuhnya sangat teramat luar biasa.
" Sepertinya, kau sudah sangat siap nona! Baiklah, dengan sangat senang aku akan membantumu. Katakan selamat tinggal untuk dunia ini, nona!" Leo memberikan senyuman termanis yang ia miliki.
Menggambil senjata yang biasa ia gunakan untuk bertarung, menarik platuknya dengan sangat pelan.
Dor...
Dor...
Dor...
Tiga tembakan melesat dengan sangat cepat kepada Joana, dan seketika itu juga Joana menghembuskan nafasnya yang terakhir.
__ADS_1
" Selamat jalan wanita kutu kupret, menyusahkan saja. Kalian bereskan wanita ini!." Titah Leo kepada para bawahannya disana, lalu ia meninggalkan tempat tersebut.
......................