Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 86


__ADS_3

Kediaman Alfa...


Sedang menikmati kudapan yang disajikan oleh mermaid, Alfa meminum teh ginsengnya. Saat akan menganggat gelasnya...


Bbraakk...


Gelas tersebut hancur, hingga air teh yang hangat menggenai tangannya.



Ada apa ini, kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak. Alfa


Dengan berjalan tergesa-gesa, Robert segera menghampiri tuannya.


" Hah, maaf tuan. Nona Aqilla dan tuan muda Steiven di serang, kini mereka berada dirumah sakit."


" Heh." Alfa tidak berkata, hanya berdehem. Namun, matanya memancarkan aura yang sangat membunuh.


" Siapa!!!." Tanyanya Alfa tanpa melihat ke arah Robert.


" Kevin Alberto, tuan." Jawab Robert dengan penuh penekanan.


" Persiapkan semuanya!"Alfa langsung beranjak dari sana dan memberi kode untuk segera menuju rumah sakit.


Sshiit, dia telah kembali!! Sungguh mereka mendatangi kematiannya sendiri, tuan besar sudah kembali. Bersiaplah kalian untuk menerimanya. Robert.


......................


Mendengar kabar, bahwa Kevin melakukan penyerangan terhadap Aqilla. Joana sangat merasa senang, dengan angkuhnya dia merasa menang.


" Heh, baguslah! Aku tidak perlu menggotori tanganku ini untuk wanita sialan itu, ternyata Kevin bisa juga diajak bekerja sama. Rasakan kau, Aqilla. Jika aku tidak bisa memiliki Akhtar Wijaya, maka tidak ada satupun wanita yang bisa memilikinya." Joana sangat ingin menyinggirkan para pesaingnya.


Dia belum menyadari, bahwa Kevin juga menyukai Aqilla. Namun Joana mempunyai cara yang lebih licik lagi, membuat orang-orang yang terdekat dan yang menyukai Aqilla untuk saling bertarung.


" Dan kau Kevin Alberto, bersiaplah untuk menderita." Seringai Joana dengan sangat percaya diri.


......................


Rumah sakit...


" Bagaimana ini, kenapa mereka lama sekali." Steiven sudah seperti setrikaan, yang berjalan kesana kemari dengan menggerutu.

__ADS_1


" Semua ini gara-gara kau Steiv!!!." Suara Akhtar yang meninggi.


Setelah selesai mendapatkan perawatan, Akhtar langsung menuju ruangan, dimana Aqilla masih mendapatkan tindakan medis. Tembakan tersebut tidak terlalu dalam, hingga peluru yang bersarang pada lengannya dengan mudah bisa di ambil.


" Kakak macam apa kau ini, hah!!! Untuk menjaganya saja kau tidak becus, apa isi kepalamu ini. Jika terjadi apa-apa dengan Aqilla, maka dengan tidak segan, Kau akan menerimanya dariku." Akhtar merasa sangat marah dengan kecerobohan yang Steiven lakukan.


Steiven hanya terdiam, dan menunduk.


Hosh


Hosh


Suara orang yang habis berlari, sangat terlihat di wajahnya kepanikan dan sangat lelah. Evan, ia mendapatkan info bahwa Aqilla menggalami penyerangan dan berada dirumah sakit.


" Hosh, hosh. Jas, ba bagai mana ke adaan kakak ipar?" Evan masih menggatur nafasnya.


" Masih belum ada dokter yang keluar." Jelas Jason yang sedang bersandar.


" Sudah berapa lama?" Evan sudah bisa menggontrol nafasnya.


" Kurang lebih tiga jam." jawab Jason.


" Hem, sepertinya cukup serius lukanya. Dari waktunya saja sudah bisa ditebak." Evan berbicara dengan suara sedikit keras.


" Kau ini!!! Selalu saja asal bicara, nggak liat apa. Wajah bos sudah seperti cabe merah, mau ko'it seketika lu." Jason sangat geram dengan mulut Evan yang selalu asal saja.


" Iya iya. Ya sudah, gue coba masuk dulu. Melihat kondisinya."


" Nah, dari tadi kek. Kita semua sudah penasaran, apa yang terjadi." Ujar Jason.


" Bawel lu!!!". Evan berjalan melewati Jason, ia langsung main nyelonong saja masuk kedalam ruang tindakan.


Akhtar yang melihat Evan memasuki ruangan itu, matanya menatam tajam ke arah Jason.


" Evan akan melihat kondisi nona, tuan!." Jason menjelaskan rasa penasaran dari bosnya.


Tak berapa lama kemudian, Evan keluar dengan muka menahan marah.


" Leo, cari pendonor darah Rh-null sebayak mungkin, SECEPATNYA!!!" Teriak Evan dengan mata yang sudah memerah.


Leo yang sedang duduk dengan manisnya, terkejutkan dengan perintah dari Evan dengan suara lantangnya. Dengan cepat, Leo langsung mengganggukkan kepalanya dan beranjak pergi. Ia tau, jika Evan sudah bicara dengan nada seperti itu, artinya situasi sedang genting.

__ADS_1


Beberapa dokter keluar untuk menggerjar Evan, ternyata mereka ketakutan dengan kehadiran Evan. Mereka tidak bersikap cepat dalam menanggani pasien kritis seperti itu.


" Jika kalian tidak bisa menjadi seorang dokter, dengan senang hati saya akan membuat kalian mati saat ini juga. Camkan itu!!!". Evan sangat murka dengan para dokter yang menanggani Aqilla. Mereka pun hanya menunduk pasrah.


Akhtar dan Steiven melihat sikap Evan seperti itu, mereka berdua semakin merasakan kecemasan.


" Van, apa yang terjadi? Kenapa? Bagaimana keadaan Qilla?" Tanya Akhtar.


" Bagaimana keadaan adik gue? Jawab!!! Kalian dokter atau bukan??? berapa lama lagi, kami harus menunggu, hah? ." Steiven semakin khawatir.


" Kakak ipar saat ini sangat kritis, terjadi penumpukkan cairan darah pada paru-paru dan jantungnya. Benturan keras itu menggakibatkan terhambatnya suplay darah dan penumpukkan udara berakibat fatal, kita harua segera menggambil tindakkan. Tapi..." Evan tidak yakin untuk menyampaikannya.


" Tapi apa???" Teriak Akhtar dan Steiven.


" Keberhasilan dari operasi, hanya dua puluh persen dari kehidupan. Kita tidak mempunyai cara lain." Evan semakin berat untuk mencerna kejadian ini.


" Tidak, tidak mungkin." Steiven sudah jatuh di lantai, air matanya sudah menggalir.


" Apa tidak bisa kau mengusahakan yang terbaik, Van!!! " Akhtar seakan tidak percaya dengan ucapan Evan.


" Aku akan berusaha sebaik mungkin Tar, untuk keberhasilannya. Banyak-banyaklah berdoa! Saat ini, aku membutuh kan darah Rh-null. Apa kalian tidak ada yang mempunyai golongan darah itu?" Tanya Evan.


" Steiven, Kau kakak sepupunya." Akhtar menatap dengan tajam.


" A aaku, tidak sama. Aku memiliki golongan darah dari Ayahku, A-. " Steiven semakin terpuruk.


Mereka semakin panik, karena saat ini Aqilla benar-benar sangat membutuhkannya. Akhtar sudah seperti orang gila, dimana dihadapkan dengan orang yang ia cintai sedang bertaruh nyawa.


Tap


Tap


Tap


...


" Ambil darahku, Rh-null!!!."


Suara orang itu, seketika membuyarkan kepanikan yang ada. Mata mereka semua tertuju pada orang tersebut!!!


......................

__ADS_1


💐💐💐💐


Author mohon maaf untuk semua, jika dalam cerita ini. Terdapat beberapa kesalahan dan ketidakpuasan dalam membaca, karena Author hanya manusia biasa. Tak luput dari sebuah kesalahan, terima kasih juga atas kritik dan sarannya ya. Insyaa Allah bisa membuat Author menjadi lebih baik lagi.


__ADS_2