
Sepulangnya dari pemakaman, Akhtar menemani Amirah untuk beristirahat.
" Ma, beristirahatlah! " Akhtar menepuk punggung tangan Amirah.
" Iya nak, terima kasih. Bagaimana dengan kakakmu, apa sudah ada kabar dari Cila?". tanya Amirah dengan wajah yang sendu.
" Masih sama seperti sebelumnya ma, mama istirahat dulu saja ya. Jangan banyak pikiran, utamakan kesehatan mama."
Amirah hanya menganggukkan kepalanya, Akhtar lalu beranjak meninggalkan Amirah. Berjalan dengan langkah yang rapuh, Akhtar menghempaskan tubuhnya untuk beristirahat sejenak di kasur miliknya.
Huh, hidup akan terus berjalan. Sepertinya hidupku tidak akan pernah lepas dari namanya masalah. Akhtar.
Mata Akhtar terpejam, berpikir sejenak dan ia mulai larut dalam dunianya sendiri.
" Ya ampun, Aqilla !!! Bagaimana bisa aku lupa sama Aqilla, dasar bodoh kau Akhtar!!."
Mencari ponselnya yang sudah ia lupakan, dan ternyata ponselnya itu kehabisan daya. Secepatnya ia mencharger dan segera menyalakan, begitu banyak notifikasi panggilan tak terjawabkan dan pesan-pesan yang masuk.
Lalu ia membaca satu persatu pesan yang Aqilla berikan, ada rasa kecemasan meliputi dirinya.
" Akh!!! Bagaimana bisa, pria tua itu jadi kakeknya Aqilla! Ternyata, garis keturunan mereka berasal dari dunia bawah. Kenapa tidak yang lain saja, kenapa harus wanita yang aku cintai." Akhtar menghembuskan nafasnya dengan kasar dan memijat pelipisnya dengan tangan.
......................
Alfa kembali dari tampat penyiksaannya, dengan seperti biasa. Ia berjalan memasuki mansion, memanggil Intan agar ia membawa Aqilla untuk turun dan ikut makan bersama.
Tok
Tok
" Nona, saya Intan. Tuan besar mengajak anda untuk makan bersama, nona."
Intan menunggu jawaban dari Aqilla, namun hal itu tidak ia dapatkan. Kembali ia menggulangi untuk memanggil.
" Nona, tuan besar memanggil anda untuk makan bersama."
Hening dan tidak ada jawaban, Intan merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan nonanya. Ia bergegas untuk turun kebawah dan melaporkannya kepada tuan besar.
" Tuan, Maaf. Nona Aqilla tidak merespon panggilan saya." Intan dengan sedikit bergetar, melaporkan kepada tuannya.
mendengar perkataan Intan, mata Alfa melebar dan memerah. Dengan cepat ia beranjak dari tempat duduknya, menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa. Di ikuti oleh Robert dan beberapa maid disana.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
" Aqilla, ini kakek. Buka pintunya!."
Menunggu...
Tidak ada jawaban dari dalam kamar Aqilla.
Tok
Tok
Tok
" Aqilla, buka pintunya !!!" Suara Alfa sudah semakin meninggi. Namun tetap tidak ada jawaban.
" Robert, dobrak!!!." Titah Alfa.
" Baik tuan!." Robert segera mengambil aba-aba, dan dalam hitungan detik. Robert berhasil membuka pintu kamar Aqilla, mereka segera masuk kedalam kamar itu.
Betapa terkejutnya Alfa melihat Aqilla dalam posisi memeluk lutut kakinya, dengan kepala meringkuk, tubuh yang bergetar karena menanggis.
" TIDAK !!! Jangan mendekat." Teriak Aqilla.
Sontak saja, mereka yang berada disana sangat terkejut mendengar perkataan Aqilla. Terutama bagi Alfa!
" Ada apa Aqilla? Cerita sama kakek."
" Tidak, kalian semuanya keluar! " teriakan Aqilla semakin keras.
Alfa tetap berjalan mendekati Aqilla, ia berharap bisa menenangkan sang cucu.
Steiven yang baru tiba, Mendengar suara keributan dari lantai atas. Ia segera melangkahkan kaki panjangnya, melihat keramaian membuay Steiven bingung.
" Paman, ada apa ini? Kenapa kalian ada di kamar Aqilla?" Tanya Steiven pada Robert.
Robert tidak menjawab, ia hanya memberikan kode dengan matanya kepada Steiven. Ia seketika menurutinya, dan melihat kakek dan Aqilla yang saling bersitegang.
" Jangan dekati Qilla kek, pergi!!."
" Kenapa kamu seperti ini, ada apa Qilla?" Alfa semakin dibuat penasaran.
__ADS_1
" Kakek pembohong, sebenarnya kakek itu siapa? Ayah tidak pernah menggatakan kalau kakek itu jahat, tapi kenapa semuanya itu bohong!!! "
" Apa maksudmu berkata semua itu pada kakek. " Steiven geram dengan perkataan keras Aqilla pada Alfa.
Mereka terkejut dengan kehadiran Steiven disana, Aqilla melihat Steiven disana.
" Kalian berdua sama saja, siapa kalian sebenarnya? Aku tidak ingin hidup dengan pembunuh seperti kalian." Tanggisan Aqilla semakin membuat tubuhnya bergetar.
Alfa dan Steiven semakin terkejut dengan ucapan Aqilla, yang menggatakan mereka pembunuh.
" Pergi!!! semuanya pergi!!!."
Alfa menarik dirinya dari kamar Aqilla, dan semua maid disana juga pergi meninggalkan kamar Aqilla. Hanya Steiven yang masih berada disana, berdiri dengan menatap Aqilla.
Ia tidak menyangka Aqilla bisa menggatakan hal itu kepada kakeknya, ia berjalan perlahan mencoba mendekati Adiknya.
Dengan cepat Steiven meraih tubuh Aqilla yang masih bergetar, walaupun memberontak. Steiven menahannya, entah darimana ide itu berada di isi kepalanya. Setelah kondisi Aqilla tenang, Steiven mencoba mengajaknya berbicara.
" Coba lihat kakak, Qilla."
Dengan perlahan, Aqilla memandang wajah Steiven.
" Kenapa, ada apa denganmu? Cerita sama kakak." Steiven menatap mata Aqilla.
Aqilla kemudian menggelengkan kepalanya, lalu ia menunduk dan menanggis kembali. Steiven mengerti keadaan Aqilla saat ini, memberikan waktu untuk menenangkan diri adalah jalan terbaik.
" Kak, Qilla mau pulang kerumah Ayah."
Mata Steiven langsung melebar, mendengar keinginan Aqilla.
" Tenangkan dirimu, nanti akan kakak pertimbangkan. Beristirahatlah dulu." Steiven mengusap puncak kepala Aqilla dan sedikit mengacak rambutnya, lalu ia meninggalkan kamar Aqilla dan menutup pintunya.
Ayah, Bunda. Qilla mau pulang, Qilla takut disini. Aqilla.
......................
Sekembalinya dari kamar Aqilla, Alfa memasuki ruanh kerjanya bersama Robert.
" Periksa semua CCTV! dan cari penyebabnya." Titah Alfa.
Robert mengerti akan ucpaan itu dan segera melaksanakan perintah tuannya.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Aqilla bisa berkata seperti itu kepadaku? Apa mungkin, dia melihat permainanku?." Alfa
__ADS_1