
Didalam kamar Aqilla, terjadilah perang adu mulut diantara dirinya dan Meyra. Intan yang ikut serta dalam membantu Aqilla untuk bersiap, menjadi pusing.
" Nona, berapa banyak lagi pakaian yang harus dicoba? Saya lelah nona, bolehkah saya beristirahat sebentar?" Intan menarik nafasnya perlahan, ini sudah tiga jam mereka bergelut dengan pakaian.
" Heh, kau ini. Baru segitu saja sudah lelah, kita belum menemukan pakaian yang cocok buat Aqilla. Hayolah!!! Penampilannya malam ini harus sempurna." Meyra masih antusias untuk penampilan sahabatnya itu.
Intan merasa tidak ada pilihan lagi, selain mengikuti perkataan Meyra. Ajakan Akhtar untuk makan malam bersamanya, menyebar bagai udara. Hingga seisi mansion besar itu dibuat panik, mereka ingin membuat acara makan malam itu menjadi sangat berkesan. Aqilla hanya memandangi mereka berdua dari kejauhan, akibat dari ulah Meyra yang menginginkan ia untuk tampil sempurna dihadapan Akhtar.
" Aku turun sebentar ya, mau ambil minum. Kalian mau sekalian?." Tanya Aqilla kepada Meyra dan Intan.
" Nona, biar saya saja yang mengambilnya!." Intan tidak ingin mendapatkan peringatan atas pekerjaannya.
" Tidak apa-apa, kamu temenin Mey aja ya." Aqilla tersenyum, lalu ia berjalan meninggalkan kamarnya.
Intan menjadi tidak enak kepada Aqilla, namun titah Meyra menjadi penghalangnya. Disaat Aqilla akan turun melalui tangga, baru saja dipertengahan anak tangga. Salah satu kaki Aqilla tidak menginjak tangga dengan tepat, hingga kakinya tergelincir ditambah tubuh Aqilla yang tidak seimbang. Membuat ia terjatuh dari tangga hingga berhenti di dua anak tangga terakhir.
" Aaakkhh !!!." Jeritan suara Aqilla sangat keras sekali terdengar, hampir semua orang yang berada didalam mansion itu panik setelah mendengar jeritan Aqilla.
__ADS_1
Mereka segera berlarian menuju sumber suara, dan betapa kagetnya mereka mendapati Aqilla berada di tangga. Saat itu Aqilla masih bertahan dengan tangannya yang berpegangan disalah satu sisi tangga.
" Ada apa ini?". Suara Alfa menggema didalam mansion.
" Itu tuan, nona Aqilla terjatuh dari tangga." suara salah satu maid yang tampak takut untuk mengatakannya.
" Apa!!!." Alfa segera berjalan dengan cepat menuju sumbernya.
Melihat Aqilla yang sudah dibantu para maid untuk mendapatkan pertolongan, sedang memapahnya untuk berpindah tempat.
" Qilla!! Ada apa?" Alfa terlihat sangat cemas.
" Robert! hubungi dokter, cepat!!!." Suara teriakan Alfa membuat seluruh maid menjadi ketakutan. Robert pun segera menghubungi dokter keluarga, agar segera datang.
Tatapan tajam ia berikan kepada para maid yang berada disana saat itu. Mereka hanya bisa tertunduk dan diam, tidak ada yang berani untuk buka suara.
" Kakek, ini Qilla yang ceroboh. Jangan salahin yang lain, mereka tidak tahu apa-apa. Lagian ini hanya keseleo saja." Aqilla juga merasakan aura sang kakek yang seperti ingin memangsa orang lain.
__ADS_1
Berjalan mendekat dan duduk disamping Aqilla, Alfa melihat ada beberapa luka gores serta lebam di tangan dan kaki, dan juga bengkak pada mata kakinya Aqilla.
" Kenapa bisa seceroboh ini, nak!" Mata Alfa tak lepas memandangi lebam-lebam dan luka lainnya pada tubuh Aqilla.
" Tidak apa-apa kek." Aqilla berusaha menyakinkan sang kakek yang terlihat sangat khawatir.
" Tidak apa-apa gimana, ini lebam dan bengkak Qilla!! Aih kau ini." Alfa mencoba menyentuh kaki Qilla yang bengkak.
" Aakkhh! Jangan kek, sakit." meringgis menahan sakit pada kakinya.
" Heh, masih ngeyel kalau dibilangin." Alfa menyeringai kecil.
Qilla hanya tertawa kecil, menahan malunya. Beberapa saat kemudian, dokter keluarga tiba. Dia segera memeriksa Aqilla dan memberikan obat penghilang rasa sakit.
" Tidak apa-apa tuan besar, hanya keseleo. Nanti kita bantu terapi atau tuan mau penggobatan cara instan? " Dokter tersebut adalah Galih Darsono, dokter pribadi Alfa sekaligus timnya dalam dunia bawah.
" Cucuku tidak akan bisa menahan rasa sakitnya, kau mau mencelakainya, hah! " Alfa menyadari, pengobatan instan yang dikatakan dokter tak lain adalah pengobatan yang mereka lakukan dalam dunia bawah. Dan itu akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa untuk Aqilla.
__ADS_1
" Hem, baiklah! Aku pamit." Dokter tersebut segera beranjak pergi dari mansion tersebut.