Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 130


__ADS_3

Kedatangan keluarga Akhtar, yang awalnya akan mengadakan makan malam bersama. Kini berubah menjadi kunjungan untuk melihat keadaan Aqilla.


" Bagaimana denganmu nak? Tidak terjadi apa-apa kan?!." Amirah sangat merasa cemas setelah mendengar calon menantunya itu jatuh dari tangga.


" Tidak apa-apa ma, hanya sedikit keseleo. Mama apa kabarnya?" Aqilla memeluk Amirah, karena ia sebenarnya sangat merindukan Bundanya. Namun kali ini, pelukan bundanya telah diwakilkan dan ia dapatkan dari Amirah.


" Syukurlah tidak terjadi yang lainnya, kamu sangat membuat mama khawatir." Amirah memandang wajah Aqilla dan mengelus kedua pipinya.


Amirah, Cila dan Aqilla larut dalam obrolan yang mereka ciptakan, ditambah kehadiran Meyra yang memberikan sensasi panas dingin. Rasanya Aqilla benar-benar ingin menjahit mulut Meyra, tidak berhenti bicara dan selalu berguyon.


Setelah selesai dengan obrolannya sendiri-sendiri, kelompok pria kini sudah bergabung dengan para wanita. Terjadi kecangunggan diantara Amirah dan Alfa.


" Nyonya Amirah, apa kabar? " Alfa memecah kesunyian diantara mereka.


" Eh, ee Ba baik tuan." Amirah masih terbayang-bayang akan perseteruan diantara mereka.


" Baiklah, sepertinya acara kita malam ini berubah. Tapi tidak dengan acara intinya. Bagaimana Akhtar?!!." Alfa kembali menegaskan.


Semua orang yang berada disana menjadi sedikit bingung dengan perkataan dari Alfa, tapi tidak bagi Akhtar. Dia sudah mengetahui arah dari perkataan Alfa, dimana sebelumnya mereka berdua telah membicarakan sesuatu.


Begitupun dengan Aqilla, ia hanya bisa mengkerutkan dahinya dan menatap sang kakek. Seakan -akan meminta penjelasan dari perkataannya. Tanpa disadari, Akhtar berjalan dan berlutut dihadapan Aqilla.


" Will you merry me, Aqilla Nadifa ??" Akhtar mengeluarkan kotak kecil dan membukanya, terlihat sebuah cincin berlian yang terkesan sangat elegan.



Mendapatkan perlakuan romantis seperti itu, membuat rona wajah Aqilla berubah menjadi kemerahan. Ia menatap wajah Akhtar dengan penuh tanda tanya, ada perasaan malu bercampur bahagia. Seakan tidak percaya dengan apa yang ia alami saat ini.


" Mau, mau, mau!!!." Teriak Meyra dengan suara yang sangat keras.


Semua orang disana sangat takjub dengan keberanian Akhtar, tidak disangka. Kegagalan acara yang mereka sudah rencanakan, tidak akan merubah kegigihan Akhtar untuk mendapatkan cintanya.


" Bagaimana sayang! Will you merry me? Apakah kamu mau menikah denganku, menjadi separuh dari jiwaku, menjadi separuh nafasku dan menjadi ibu dari anak-anak kita nanti serta menjadi pendamping hidupku selamanya???!." Akhtar tersenyum cemas, menantikan jawaban dari Aqilla yang masih terlihat bingung dan kaget.

__ADS_1


Aqilla melirik kepada sang kakek, seakan meminta izin untuk menjawab pertanyaan Akhtar. Hanya senyuman dan anggukan kepala yang diberikan oleh Alfa, ia juga tau jika saat ini, cucunya itu sedang bertarung melawan perasaannya.


" Jawablah dengan hatimu nak!." Perkataan singkat yang Alfa ucapkan untuk Aqilla.


" Terima Aqilla, ayo terima." Meyra kembali berteriak.


Steiven dengan memberikan senyumannya, menganggukkan kepalanya, disaat Aqilla melirik kepadanya.


" Semua keputusan ada padamu, katakan apa yang hatimu inginkan. Jangan memikirkan orang lain, saatnya dirimu bahagia!" Steiven tidak ingin egois dengan perasaannya, walaupun ia sempat menjadi rival bagi Akhtar.


Amirah dengan mata yang sudah berkaca-kaca, berharap yang terbaik untuk anaknya. Yang selama ini sudah sangat tertekan dengan kehidupan yang suaminya berikan, sudah saatnya untuk dia bahagia dengan hidupnya saat ini.


Tangan Beni sudah meraih pinggang Cilla, mereka pun saling bertatapan satu sama lainnya. Disudut mata Beni menggeluarkan air mata, jari jemari Cilla menghapusnya dengan segera.


" Sudah saatnya, adikmu bahagia sayang. " Cila tersenyum dengan menatap mata Beni.


" Hem, ia sayang. Benar!! Adikku saat ini harus bahagia, takkan kubiarkan dia menderita lagi." Beni menggelus puncak kepala Cilla dan kembali mereka menunggu jawaban dari Aqilla.


......................


Dengan begitu, Aqilla semakin menggulur waktu. Ia ingin menjahili sang kekasih, membiarkannya yang masih dalam keadaan berlutut dihapannya.


" Sayang, bagaimana? Apa kamu bersedia?" Tanya Akhtar kembali.


Namun, Aqilla masih tetap belum menjawabnya. Hanya menahan senyuman yang saat ini ia lakukan, hal ini pun disadari oleh sang kakek dan yang lainnya. Lutut Akhtar semakin terasa keram, namun untuk mengeluh itu sangat memalukan baginya. Ia tetap bertahan, menanti jawaban Aqilla yang belum ia berikan. Namun, lama kelamaan, tawa itu akhirnya pecah.


" Hahaha...."


Akhtar menjadi bingung dan akhirnya pertahanannya tumbang, akibat terlalu lama berlutut yang menyebabkan kakinya menjadi keram. Aqilla tak tahan dengan tawanya, melihat sang kekasih sudah tersungkur ke lantai. Ia langsung beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Akhtar.


" Hehehe, maaf ya mas!." Akhirnya tawa Aqilla pecah tak tertahankan.


" Jadi, kamu ngerjain mas?!!!." Raut wajah Akhtar sudah sangat geram.

__ADS_1


" Habisnya, kapan lagi bisa ngerjain mas. Kan mas sering garangnya daripada senyum!." Aqilla mentoel hidung Akhtar dengan tertawa.


" Kamu ini ya! Jadi gimana jawabannya? Masa' mas sudah kayak gini tapi nggak ada hasilnya, kamu mau mas bawa kawin lari, hah!." Dengan seringainya Akhtar meraih tangan Aqilla dan menggenggamnya.


" Hehehe, capek kali mas lari-lari. Iya mas, iya. Qilla mau."


" Mau apa, jawab yang jelas!." Akhtar kembali mengerjai Aqilla.


" Ya ampun mas, udah ah kalau mau balas dendam. " Aqilla menepis tangan Akhtar, dan beranjak untuk duduk kembali ketempat semula, karena ia tau Akhtar balik menjahilinya.


Semua penonton hanya menunggu ending dari perseteruan mereka berdua.


" Iya iya, maaf sayang. Hayolah, mas dari tadi nungguin jawaban kamu, tapi kamunya malah ngejahili mas. Jadi gimana? mau kan?!." Mata Akhtar sudah memelas menunggu jawban dari Aqilla.


Genggaman tangan Akhtar ditangan Aqilla, kini semakin erat. Aqilla pun sudah tidak tega dengan raut wajah Akhtar yang sangat menyedihkan saat itu.


" Iya mas, Qilla mau." Senyuman manis ia persembahkan untul Akhtar.


" Coba diulang lagi." Akhtar meminta kepada Aqilla.


" Heh! Iya mas Akhtar Wijaya yang super menjengkelkan. Aqilla mau menikah dengan mas! Puas!!!." Aqilla semakin kesal dengan kejahilan dari Akhtar.


Tanpa memikirkan orang lain disana, Akhtar langsung memeluk Aqilla dengan sangat erat.


" Hore, diterima. !!!." teriakan Meyra dan Steiven yang sangat keras.


Semua orang saat itu berbahagia dengan keputusan Akhtar dan Aqilla yang akan menikah.


" Terima kasih sayang, terima kasih sudah mau menerima semua masa laluku. Terima kasih sudah mencintaiku!." Akhtar berbisik ditelingga Aqilla.


" Iya mas, terima kasih juga sudah mau menerima Qilla apa adanya. Mari kita berjuang bersama-sama."


......................

__ADS_1


__ADS_2