Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 47


__ADS_3

Keadan perusahaan Akhtar menggalami sedikit masalah, keberadaan wanita yang sangat ia benci itu berada di salah satu ruangan.


" Kenapa bisa jadi begini, Jas? Pria tua itu selalu saja semaunya sendiri, apa yang sedang ia rencanakan?." Akhtar mencoba berdiskusi.


" Saya juga tidak begitu menggetahuinya tuan, lebih baik kita ikuti saja permainan tuan besar." Jason memberikan saran.


Selama Akhtar menjalani penggobatan, papanya. Tuan Wijaya sedikit merubah struktur perusahaannya, dengan menempatkan Joana sebagai sekretaris pribadi Akhtar. Entah darimana mereka bisa merencanakan semuanya itu. Hal ini membuat Akhtar sangat marah, ingin sekali ia membalas perlakuan papanya. Namun ancaman yang diberikan tuan Wijaya kepada Akhtar, membuatnya tidak bisa menghindar lagi. Dengan membawa dua nama wanita yang sangat ia cintai, mama Amirah dan Aqilla.


Menolak kemauan tuan Wijaya, sama saja menyerahkan nyawa kedua wanita itu untuk di akhiri. Kepala Akhtar sungguh sangat pusing dibuatnya, di salah satu sisi. Joana sangat memanfaatkan peluang ini, ia berusaha selalu mendekati Akhtar dengan berbagai cara.


Jason dan Akhtar sudah menyusun strategi untuk menghadapi perbuatan papanya, memasang CCTV tambahan disetiap sudut ruangan tanpa ada yang mengetahuinya. Terutama di ruangan kerja dan ruang pribadi Akhtar, begitu juga di mansionnya.


" Bagaimana keadaan Aqilla, Jas? Ah, Aku sangat merindukannya."


" Baik tuan, saat ini. Nona Aqilla berkerja di sebuah cafe, dan sepertinya ada yang merebut semua pelanggan nona, tuan." Jawab Jason dengan memberikan informasi terkini.


" Apa? Kenapa bisa begitu? Kau sudah cari tau penyebabnya?."


" Lebih baik, tuan tanyakan kepada calon kakak ipar anda sendiri. Nona Cila, salah satu pelanggan tetap nona Aqilla."


" Apa sudah ada laporan penggunana black card Aqilla?".


" Belum ada tuan, bahkan info yang Leo berikan. Bahwa, ponsel nona juga jarang digunakan. GPS itu selalu berada di titik yang sama, dirumah." Jelas Jason.


Perkataan Jason semakin membuat Akhtar geram, sifat Aqilla yang selalu tidak ingin menggunakan apa yang bukan miliknya itu membuat kepala Akhtar semakin pusing. Dan bagaimana pula bisa, ia kecolongan dalam hal ini.

__ADS_1


Ingin rasanya Akhtar menemui sang kekasih, namun hal itu sangat membahayakan baik posisinya maupun Aqilla. Melepaskan Aqilla untuk beraktivitas seperti orang lainnya, agar tidak menimbulkan kecurigaan dengan lawannya. Namun Akhtar tetap memberikan penjagaan pada Aqilla, tanpa ia ketahui.


Sayang! Maaf sudah membuatmu menjadi seperti ini, aku akan berusaha dengan secepatnya untuk membawamu seutuhnya bersamaku. Tapi saat ini, sangat tidak memungkin. Menggingat papa sangat ingin memisahkan kita, apalagi dengan statusku yang hanya anak pungut di keluarga mereka. Banyak lawan mengincar posisiku saat ini sebagai pimpinan dunia bawah, aku tidak ingin membuatmu terluka. Aku mencintaimu sayang, Aqilla.


Akhtar bermonolog dalam hati, sambil melihat foto sang kekasih di layar ponselnya.


......................


Beni saat ini sedang berada di kantornya, sebagai pemimpin kantor pusat. Ia dengan bebas berbuat semaunya, ia sangat tidak menyukai sang adik. Yang dari dulu selalu menjadi saingannya dalam berbagai hal, merebut perhatian sang mama. Namun sang papa, selalu membuatnya semakin membenci sang adik. Walau hati kecilnya sangat menyayangi Akhtar.


Tok


Tok


" Oh, baiklah. Langsung saja bawa masuk." Titah Beni.


Setelah Angel pergi, Cila memasuki ruangan sang tunangan.


" Kenapa tidak langsung masuk saja, sayang? " Beni memeluk Cila dan mempersilahkannya untuk duduk.


Menggambilkan air minum dan menyuguhkannya kepada Cila, Beni pun ikut duduk bersama.


" Ada apa kamu menyuruhku untuk datang kesini, Ben? tidak biasanya." Tanya Cila.


" Huh! Ini masalah papa dan Akhtar, sungguh membuatku pusing saja. Anak itu selalu membuat papa menjadi marah, entah apa lagi yang ia lakukan." Beni memijat

__ADS_1


keningnya.


" Sebenarnya, apa yang terjadi di keluarga kalian? " Cila sangat ingi tau.


Keheningan yang terjadi, Beni menatap langit-langit ruangannya. Mata yang terpejam, seakan memikirkan sesuatu.


" Huh!!! Entahlah, sebenarnya aku sangat bingung dengan keadaan seperti ini. Papa sangat keras kepada kami, bahkan mama tidak bisa membuat hatinya luluh." Beni menatap kosong.


Cila menepuk punggung tangan Beni dengan perlahan, ingin sekali berbagi beban yang ia rasakan saat ini.


" Jika kamu mau, berbagilah beban itu denganku." Cila membujuk.


" Yah, kamu juga harus mengetahui ini. Bagimana pun, kamu akan menjadi bagian dari keluargaku. Apa kamu siap mendengar dan menerima apa yang akan aku ceritakan?." Beni menatap Cila.


" Insyaa Allah aku siap!." Cila menyakinkan Beni.


Beni mulai menceritakan permasalahan yang terjadi di dalam keluarga, sangat amat berat untuk di memberitahukan ini semua kepada Cila. Air mata yang menggalir, tidak dapat membohongi isi hati seseorang. Dibalik sifatnya yang angkuh, menyimpan banyak kepedihan.


Setelah Beni selesai menceritakan semuanya, Cila kembali menyakinkan Beni.


" Tidak perlu takut untuk berkata jujur, apalagi malu untuk mengungkapkan kasih sayang dan jangan takut untuk menghadapi kejahatan. Yakinlah, orang yang benar-benar menyayangi diri kita. Tidak akan sanggup membuat apalagi melihat kita terluka, terlebih lagi itu adalah keluarga kita sendiri. Mulailah memperbaiki semuanya, aku akan selalu berada disampingmu." Cila memberikan senyuman yang tulus kepada Beni.


" Terima kasih sayang, terima kasih." Beni masih menanggis dan memeluk Cila.


Begitu beratnya beban yang kau tanggung sendiri selama ini, sungguh sangat disayangkan sikapnya sebagai seorang Ayah. Dengan sangat tega, membiarkan darah dagingnya sendiri menderita. Menyembunyikan kebohongan selama ini, sungguh sangat menyedihkan. Batin Cila.

__ADS_1


__ADS_2