
Dor
Dor
Bak, buk!!!
Suara letusan senjata api yang silih berganti terdengar, terjadi perkelahian dan saling serang diantara dua kelompok.
" Tuan! Evan berada di lantai atas, sepertinya nona Aqilla juga berada disana." Leo memberitahukan keadaan mansion itu kepada bosnya.
" Jas!! Kau ambil alih perlawanan disini, saya akan masuk ke dalam." Akhtar sudah sangat mengkhawatirkan Aqilla.
" Baik tuan!!!." Jawab jason.
Jason mulai menggelabuhi beberapa lawan, untuk memberikan jalan bosnya untuk bisa lolos kedalam mansion. Akhtar yang telah masuk kedalam mansion tersebut, segera mencari jalan untuk menemukan Aqilla.
Prok!!!
Prok!!!
Prok!!!
__ADS_1
Suara tepukan tangan yang menggema, ternyata steiven sudah mengetahui kekacauan ini adalah ulah dari Akhtar.
" Wooww.... Lihatlah!!! Seorang pemimpin dunia bawah, sedang mencari kekasih tercintanya. Bravo ...!!!." Seringai Steiven.
" Hentikan kegilaanmu ini Steiv, jangan libatkan Aqilla dalam urusan kita. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini, lepaskan dia." Akhtar bernegoisasi.
" Heh! Lepaskan? Kau bilang lepaskan. Tidak akan ku biarkan, cukup Joana yang kulepaskan untukmu. Tapi apa buktinya? Kau membuangnya seperti sampah, hingga kini dia tidak tau dimana keberadaannya." Suara Steiven meninggi.
" Semuanya itu tidak seperti yang kau tuduhkan padaku Steiv, Joana itu perempuan gila. Untuk apa aku berbohong, kau adalah sahabatku, lupakanlah wanita itu. " Akhtar perlahan mendekati Steiven.
" Dasar breng**ek kau!!! Setelah kau tidak menyukainya, dengan mudah kau menyampakkannya demi wanita seperti itu. Akan kubuat, kau merasakan apa yang aku rasakan selama ini." Steiven menggetahui gerakan Akhtar.
" Jangan ikut campur, itu masalah pribadi mereka. " Jason melebarkan matanya pada Leo.
" Woi... Cepat!!! Aqilla kritis!!!." tiba-tiba terdengar teriak Evan dari atas tangga.
Mereka semua secara bersamaan menoleh ke arah sumber suara, terlihat Evan menggendong Aqilla menuruni tangga. Mau tidak mau, Akhirnya Jason dan Leo menahan Steiven untuk membiarkan bosnya membawa Aqilla.
Akhtar segera menggambil tubuh Aqilla yang semakin terlihat menggenaskan.
__ADS_1
" Van, ada apa dengan Aqilla?." Wajah Akhtar sangat cemas.
" Tidak usah banyak tanya, cepat kerumah sakit!!!." Teriak Evan.
Akhtar seperti orang gila, rasa cemas dan khawatirnya sudah overload. Evan dengan cepat menggendarai mobil milik Akhtar, tidak menggiraukan lagi peraturan lalu lintas. Ia menghidupkan lampu tanda khusus untuk keluarga Wijaya, hingga ia dengan cepat menguasai jalan.
Memasuki halaman rumah sakit, semuanya dibuat heboh kedatangan mereka. Memasuki IGD dengan mendobrak pintunya
Brrakk!!!...
" Seluruh dokter spesialis, semuanya bersiap!!! Ruangan operasi sterilkan!!." Teriak Evan.
Semua para medis menjadi terkejut dengan perintah dari Evan, apalagi dengan kedatangan sang pemilik rumah sakit itu sendiri, Akhtar. Evan dengan cepat bergerak mandar mandir beserta para dokter ahli, ruangan itu terasa sangat tegang.
Akhtar yang semula bersikeras untuk berada dalam ruangan itu, dengan sangat marah Evan sedikit menghajarnya. Walaupun tidak ada perlawanan dari Akhtar, Evan tetap menghajarnya. Hitung-hitung pelampiasan amarahnya.
" Keluar bo*oh!!! Kau ingin Aqilla mati, hah!!! KELUAR!!!."
Dengan dibantu para keamanan rumah salit, Akhtar akhirnya bisa dibuat keluar dari ruanagan itu. Tampak sangat wajah Akhtar begitu khawatir dan cemas, tak lama kemudian Jason dan Leo tiba disana.
" Tuan, lebih baik anda duduk saja." Ucap Jason.
__ADS_1
" Bagaimana aku bisa duduk dengan tenang Jas, Aqilla didalam sana. Apa yang mereka lakukan pada Aqilla, akh!!!." Akhtar meninju dinding dihadapannya.
Leo dan Jason hanya bisa memandanginya, percuma saja mencegah tuannya itu. Bisa-bisa mereka yang akan menjadi bahan pelampiasannya, merek memilih diam.