Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 35


__ADS_3

Dari bandara, Akhtar bersama Jason langsung menuju perusahaannya. Begitu akan memasuki pintu gerbang perusahaan, banyak para wartawan dari berbagai media yang sudah menunggu.


" Hem, apalagi ini Jas?." Akhtar melebarkan matanya.


" Saya juga tidak tau tuan, pihak security hanya memberi tau kala ada awak media yang datang. Mereka menahannya untuk tidak memasuki halaman perusahaan." Jason menjelaskan.


" Selesaikan Jas, aih semakin sakit kepalaku." Akhtar meringgis, perlahan memijit kepalanya.


" Tuan, anda tidak tidak apa-apa tuan?." Jason sangat khawatir, ia mencemaskan ginjal bosnya.


" Akh!!!" Akhtar meringgis memeganggi perutnya.


" Tuan!!!." Jason melihat wajah bosnya dipenuhi dengan keringat.


Dengan cepat, Jason meminta pihak keamanan perusahaan untuk menggamankan pintu gerbang, karena mobil mereka sudah mendekat. Para awak media langsung melakukan tugas mereka, memfoto dan menggetuk jendela mobil. Ada sebagian yang mengajukan pertanyaan, namun tidak terdengar jelas dari dalam mobil.


Setelah tiba di depan lobby, Jason langsung memapah tubuh bosnya. Namun itu di tolak oleh Akhtar, ia berusaha menutupi rasa sakitnya itu dengan berjalan seperti biasanya.


" Jas, segera hubungi Evan." Akhtar melanjutkan langkahnya untuk masuk kedalam lift khusus.


Memasuki ruang kerjanya, Akhtar langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Wajahnya terlihat sangat pucat, tangannya meremas dengan sangat kuat perutnya. Tak lama kemudian, Evan datang.

__ADS_1


" Huh, sudah berapa kali kubilang. Kau tidak akan sekuat dulu, tuan muda yang keras kepala." Evan datang dengan bertolak pinggang.


" Diam, cepat periksa saja."


Evan dengan malas mulai memeriksa tubuh Akhtar, dengan sedikit ngehajili. Evan menyuntikkan obat tidur, ia tidak ingin tubuh Akhtar semakin melemah.


" Jas, kau sudah tau. Kenapa banyak media yang datang?." Tanya Evan.


" Hufh!" Jason melonggarkan dasinya.


" Ini semua, tuan besar yang melakukannya. Mereka selalu menekan tuan muda, nggak tau apa anaknya jadi kayak gini?."


" Busyet!!! Om Wijaya yang ngelakuin ini semua? Nggak nyangka gue Jas. Ada ya, orangtua kayak gitu." Evan sangat terkejut mendengar penjelasan Jason.


" Makanya, emangnya enak jadi kacung Akhtar! Hahaha, gue aja yang kayak gini udah keriting ni otak dibuatnya. " Perkataan Evan semaki pedas.


" Wah, sekate-kate mulut lu ngatain. Kalau gue kacung, trus lu apa, hah? Sesama kacung jangan saling menghina, dasar kau." Jason jadi senewen.


Evan semakin keras tertawa, untung saja si mulut singa sedang dibuat tidur. Kalau tidak, mampus mereka berdua.


......................

__ADS_1


" Malam ma, pa. Gimana menurut papa dan mama dekorasi untuk pertunangan Beni, Bagus kan?" Anak sulung dari keluarga Wijaya sedang berbincang.


" Sangat bangus sekali nak, papa percaya padamu." Tuan Wijaya memuji anaknya.


" Gimana ma?."



" Hem, menurut mama. Ini terlalu berlebihan Ben!." Amirah menatap dekorasi dihadapannya.


" Tapi ini bagus ma, Beni ingin orang-orang melihat keberhasilan dan kesuksesaan yang sudah Beni raih ma. Beni tidak ingin diremehkan, mengertilah ma."


" Terserah kau saja, mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak-anak mama." Amirah tidak mau membuat kecewa.


" Ah mama, terima kasih." Beni memeluk Amirah.


" Kau lanjut saja son, papa dan mama mau pulang. Jangan lupa, anak bandel itu harus datang. Jangan membuat papa malu, ingatkan itu!." Wijaya menekankan perkataannya.


Sampai kapan papa tidak menyukai Akhtar? Dia juga anakmu pa, apa tidak ada rasa kasih sayangmu untuknya. Kenapa selalu dia yang selalu kau jadikan pelampiasan? Anakmu ada dua pa, bukan satu. Amirah menanggis dalam hati.


" Biarkan saja dia pa, kepalaku pusing jika harus menghadapi manusia paling bodoh itu." Beni menolak.

__ADS_1


" Lihat saja, kalau dia tidak hadir. Jangan harap mendapat penggakuanku sebagai anak!" Wijaya melangkahkan kakinya untuk pulang dan di ikuti oleh Amirah.


__ADS_2