
Masih dengan keheningan, Alfa sangat yakin bahwa Aqilla dan Haykal adalah cucunya. Apalagi, disaat Alfa menunjukkan foto Ayah mereka. Membuat Aqilla dan Haykal sedikit percaya, namun masih belum sepenuhnya.
" Maafkan kakek, terlalu lama membiarkan kalian hidup seperti ini. Ayah kalian sungguh keras kepala, ingin hidup dengan hasil kerja kerasnya sendiri tanpa bantuan dari kakek. Di saat orangtua kalian tiada, kakek sudah mencari keberadaan kalian hampir diseluruh dunia. Sekarang kita sudah bertemu, kalian ikut kakek. Jangan menolak, dan percayalah. Kakek tidak membohongi kalian, kalian berdua itu adalah cucu serta harta berharga buat kakek. Tidak perlu membawa barang-barang, bawa yang kalian anggap penting saja. Bersiaplah!." Alfa tidak ingin kehilangan keluarganya kembali.
Aqilla merasa sangat aneh dan bingung.
" Maaf kek, kami tidak bisa ikut." ujar Aqilla.
Mendengar perkataan Aqilla, membuat Alfa melebarkan bola matanya. Siapapun yang melihatnya, pasti akan ciut.
" Kenapa? berikan alasan yang tepat untuk Kakek."
" Aqilla dan Haykal sudah berjanji kepada Ayah dan Ibu, apapun yang terjadi. Kami tidak akan meninggalkan rumah ini." jawab Aqilla.
" Sekarang mereka sudah tiada, kalian saat ini dan sampai kapanpun. Adalah tanggung jawab kakek, apa salah kakek membawa kalian untuk tinggal bersama?" Alfa semakin menekankan perkataannya.
" Kakek tidak bisa membiarkan kalian untuk hidup seperti ini, cukup keras kepala Ayah kalian saja yang sudah menghukum kakek. Kali ini, kabulkan permintaan kakek." Alfa tidak bisa menahan air mata yang menggalir.
Melihat Alfa yang sangat sedih, Aqilla merasa tersentuh untuk mendekatinya.
" Kakek, kami percaya kok. Kalau kakek adalah orangtua dari Ayah kami, Ayah dan Ibu juga pernah cerita kalau kakek adalah orang yang baik. Walaupun, wajahnya sedikit menyeramkan." Aqilla tersenyum dengan menggenggam tangan Alfa.
Alfa sontak melotot mendengar kalimat 'menyeramkan' dari Aqilla.
" Hei, kakek tidak menyeramkan. Wajah kakek memang dari lahir seperti ini, wah tidak bisa dibiarkan. Kalian harus diberi hukuman, dan hukuman kakek kali ini tidak bisa kalian tolak lagi. " Alfa memandang wajah Aqilla dan Haykal.
__ADS_1
" Apa itu kek?" tanya Aqilla dan Haykal bersamaan.
" Tinggal dirumah kakek, titik. Hayo, kita pulang. Rumah ini akan tetap aman, kalian tidak perlu menghawatirkannya. Nanti biar kakek utus pekerja untuk merawatnya, sudah ayo. Keras kepala kalian, membuat kakek cepat tua." Alfa menarik tangan Aqilla dan Haykal menuju mobilnya.
" Eh, bukannya kakek memang sudah tua ya!." Haykal tanpa merasa berdosa menggucapkannya.
" Kau ini, seperti kakak sepupumu saja yang selalu membuat kakek darah tinggi. Diam, dan naiklah ke mobil." Alfa menggusap kepala Haykal dengan perlahan.
Aqilla dan Haykal hanya membawa yang ia anggap penting saja, untuk pakaian dan barang-barang pribadi lainnya. Dibiarkan saja disana, sewaktu-waktu ingin kembali. Mereka tidak perlu membawa pakaian lagi.
Menatap Aqilla dan Haykal yang sedang menuju mobil, Alfa merasakan kebahagian yang sungguh luar biasa. Air mata kebahagian itu menggalir tanpa izin.
Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang, mereka bertiga sambil menggobrol selama perjalanan. Walaupun pertama kalinya bertemu, namun tidak ada kecanggunggan diantara mereka.
Para bawahan Alfa yang melihat pemandangan kali ini, sangat dibuat terkejut. Bagaimana tidak, Difander Alfansa! Sangat ditakuti oleh semua kelompok Mafia di Asia (Sekali lagi, ini versi author saja ya), bisa bergurau dengan kocaknya.
" Ya, kau benar. Ternyata, malah tuan Steiven sendiri yang membuka jalan pencarian mereka berdua." Dennis mengganggukkan kepala, ia merupakan orang kepercayaan tuan Alfa.
......................
Leo sedang berdiri mendampingi tuannya, kini mereka sedang berada di sebuah tempat rahasia yang biasa digunakan Akhtar untuk memberikan hukuman kepada pekerjanya yang melakukan kesalahan ataupun terjadi pengkhianatan.
Abraham duduk dengan keadaan ke dua tangan dan kakinya terikat seutas tali, Akhtar berjalan mendekatinya dan duduk di kursi yang berada dihadapan Abraham.
Dengan kaki kanan menyilang pada kaki kiri, menyandarkan punggungnya dan menatap Abraham dengan sangat tajam.
__ADS_1
" Aku tidak ingin menggotori tanganku ini, lebih baik katakan yang sebenarnya." ujar Akhtar dengan santai.
" Maafkan saya tuan, saya hanya disuruh." Abraham mengakui kesalahannya.
" Heh, kau kira aku akan percaya?"
Akhtar menggambil sebuah senjata dari tangan Leo, memainkannya dihadapan Abraham yang sudah sangat pucat.
Ssreettt!!!
Ssrreeett!!!
Aakkkhhh!!! Jerit Abraham, ketika ujung dari sebuah pisau kecil menggoyak kain dan pahanya. Senjata itu sangat kecil dari ukuran biasa, namun ketajamannya tak perlu diragukan.
Darah menggalir cukup banyak, lalu Akhtar bertanya kembali pada Abraham.
" Katakan!!!." Tegas Akhtar.
" Benar tuan, saya hanya disuruh oleh seseorang. Saya tidak tau namany, tapi orang itu bertubuh besar dan sedikit gemuk. Rambutnya sudah memutih, bawahan mereka memanggilnya dengan sebutan Alfa." Abraham akhirnya menjelaskan dengan sangat jelas kepada Akhtar.
" Heh, Alfa lagi. Akan ku habisi orang itu, dia kira aku akan takut. Tidak ada kata takut dalam kepemimpinanku!!!." Akhtar bersuara keras dan menggepalkan tanganya, tanpa menunggu lama. Senjata itu langsung ia tancamkan tepat di dada bagian kirinya, memutarnya dengan sangat kuat dan mengginjak bagian tersebut dengan kakinya. Seketika itu juga, Abrahan menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Huh
Huh
__ADS_1
Huh
" Urus semuanya dan tanpa jejak." Akhtar meninggalkan tempat tersebut, dengan Leo yang menggekor.