
Keesokan paginya, ketika Aqilla membuka matanya. Ia sangat kaget dengan keadaannya saat itu dan mendapatkan Akhtar sedang tidur bersamanya.
" Aakkhh!!!." Aqilla berteriak, sontak saja hal itu membuat Akhtar kaget dan terbangun dari tidurnya.
" Ada apa sayang? Kenapa teriak-teriak, hoam!." Akhtar masih menguap, tubuhnya masih merasa lelah.
Sejenak Aqilla jadi merenung, mengingat bahwa dia sudah menjadi istri dari seorang Akhtar Wijaya.
" Hei, kenapa melamun!" Akhtar menggerakkan tanganya dihadapan muka Aqilla.
" Eh! " Aqilla menatap wajah suaminya.
Akhtar langsung menarik tubuh Aqilla dan memeluknya.
" Kenapa? Kaget ya! Nanti juga terbiasa sayang."
" Iya mas, bangun ya. Mau bersih-bersih, sudah mau masuk subuh, kita sholat ya."
" Hem, kalau itu. Mas sudah lupa bagaimana caranya sholat, maafkan mas." Akhtar melepaskan pelukkannya dan memunggungi Aqilla.
Hening yang terjadi diantara mereka berdua, Aqilla sangat kaget mendengarnya. Bahkan, Akhtar merasa sangat malu disaat Aqilla mengajaknya untuk sholat bersama. Namun semuanya Aqilla sadari, jika pria yang saat ini sudah berubah status menjadi suaminya. Memiliki kekurangan dibalik kebaikan yang ada padanya.
" Mas, coba lihat Qilla!." Tangan Aqilla menarik bahu suaminya, hingga mereka berdua saling bertatapan.
" Semua manusia mempunyai kekurangan dan kelebihan pada diri mereka masing-masing, begitu juga pada mas maupun Qilla. Jika mas mau, kita bisa saling melengkapi hal tersebut. Tidak ada kata terlambat untuk semuanya dan tidak ada salahnya juga kan kita mencobanya!." tangan Aqilla membelai wajah sang suami dan memberikan senyuman termanisnya.
Tangan Akhtar menangkap jemari istrinya yang berada diwajahnya, menatap dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
" Maaf, maafkan mas. Mas belum bisa menjadi suami yang baik untukmu, ajari mas untuk memperbaikinya."
" Mas nggak salah, Qilla juga masih banyak kekurangannya mas. Jadi, mari kita sama-sama saling melengkapinya. Ya sudah, yuk bersih-bersih. Waktunya sudah mau subuh, nanti perlahan-lahan Qilla ajrin mas ya. Ayok!!!." Perlahan Aqilla menarik Akhtar menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri dan bersiap untuk shalat subuh.
" Sayang, kamu yakin mau narik mas kayak gini.!" Akhtar mengarahkan matanya untuk melihat ke arah bawah.
__ADS_1
Bagaikan terkena terpaan angin topan dimatanya, Aqilla langsung langsung melepaskan tangan Akhtar dan segera berlari memasuki kamar mandi lalu menguncinya rapat-rapat.
" Hahaha, sayang buka pintunya.!"
" Tidak!!! Mas mesum." teriak Aqilla dari dalam kamar mandi.
Akhtar tertawa mendengar perkataan Aqilla, tanpa ia sadari disaat menarik Akhtar untuk membersihkam diri. Tubuh mereka masih dalam keadaan polos tanpa pakaian satu helai pun.
Bodoh, bodoh, bodoh. Kenapa bisa seceroboh itu si, mas Akhtar juga nggak cepet bilang. Ya ampun, malunya! Aqilla.
Selesai dengan acara bersih-bersihnya, walaupun ada kecanggungan diantar mereka. Aqilla dengan perlahan dan sabar membimbing Akhtar untuk belajar sholat. Mulai dari bacaan, gerakan sampai adab-adabnya.
......................
Tak terasa pernikahan Aqilla dan Akhtar memasuki bulan ketiga, dimana masih sangat mesra-mesranya.
" Sayang, sayang." teriakan Akhtar bergema didalam rumah mereka.
Aqilla yang saat itu berada didapur bersama dengan asisten rumah tangganya bik Siti dan Ayu menjadi kaget.
" Iya non, nanti bik Ayu juga ketularan jantungan." Mereka berdua adalah asisten dari mansion Alfa, sengaja dikirimkan untuk bantu-bantu dirumah Aqilla.
" Huh! Menyebalkan, kenapa akhir-akhir ini mas Akhtar sangat menyebalkan sih! Maaf ya bik, jadinya nggak sampai selesai." Lalu Aqilla segera menuju kamarnya, karena suara Akhtar sangat membuatnya pusing.
Kedua asisten rumah tangga itu hanya bisa menggelengkan kepala, mereka sudah bisa memahami karakter tuannya yang sangat posesif terhadap istrinya.
Dengan mulut yang ngedumel, Aqilla memasuki kamarnya. Melihat suaminya itu masih berada didepan kaca untuk merapikan dasi yang ia gunakan.
" Nggak pakek teriak-teriak juga kan bisa mas, kasihan tu bik Siti dan bik Ayu. Mereka serasa jantungan dengan suara kamu mas."
" Mereka juga yang jantungan kan, bukan kita. Betulin ini sayang, dari tadi kok nggk rapi-rapi." tangan Akhtar sibuk membolak balik dasinya yang belum siap.
Dengan malasnya Aqilla mendekati suaminya, tangannya mulai membenarkan bentuk dari dasi yang digunakan Akhtar.
__ADS_1
" Selesai, gini aja kok susah. Aneh kamu mas, biasanya juga nggak. Ya udah, sarapan gih, nanti keburu siang." Aqilla berbalik dan berjalan menuju pintu.
Namun baru saja ingin melangkahkan kakinya, tangan Akhtar sudah melingkar dengan sempurna di perut Aqilla. Menaruh dagunya di atas bahu sang istri, menikmati aroma yang berasal dari tubuh Aqilla.
" Hem enaknya, kamu semakin hari semakin wangi sayang."
" Mas, berat ih. Dagu mas itu tajam, sakit bahu Qilla. Lagian mas ini aneh deh, parfum Qilla masih sama kok. " Aqilla melepaskan tangan Akhtar dan menariknya untuk segera sarapan.
" Aneh gimana? Huh, mau mesra-mesra aja nggak boleh.!."
Tanpa menjawab perkataan suaminya, Aqilla menarik Akhtar menuju meja makan dan menyediakan sarapan untuknya. Akhtar mulai menikmati sarapannya hingga selesai. Tak lama kemudian, Adam memberitahukan kesiapan kendaraan dan sudah saatnya berangkat.
" Hati-hati dirumah ya, jangan terlalu capek.!" Akhtar memberikan kecupan didahi Aqilla.
Cup...
" Mas berangkat ya."
" Iya mas, hati-hati."
Kini mobil yang Adam kemudikan berjalan meninggalkan halaman rumah mereka, lalu Aqilla kembali pada rutinitasnya semula.
......................
Dipertengahan jalan menuju perusahaan, Akhtar mendapatkan informasi dari Adam.
" Bos, kita sudah mengetahui otak dari penyerangan di pernikahan bos waktu itu."
" Lambat sekali kalian, langsung bawa saja." Akhtar menyeringai.
" Maaf bos! Leo sudah menahannya ditempat biasa."
" Hem, tunggu aba-aba dariku."
__ADS_1
" Baik bos."