
Mansion yang biasanya sunyi dan senyap, kini kembali ramai dengan kehadiran orang-orang yang ia cintai.
" Kau !! Ikut aku ." Alfa menunjuk Akhtar.
Semua orang yang berada disana sangat terkejut dengan hal itu, bagimana tidak. Alfa yang sesungguhnya menaruh dendam pada keluarga Akhtar, apalagi kini cucunya menjalin hubungan dengannya.
" Mas !." Aqilla yang merasakan sedikit khawatir dengan Akhtar, matanya tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
" Tidak apa-apa, jangan khawatir." Akhtar tersenyum dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut, mengikuti arah dimana Alfa berjalan.
" Kak!" Aqilla menatap Steiven dengan tatapan khawatir dan cemas, ia tidak ingin terjadi apa-apa pada Akhtar.
" Jangan khawatir, kakek tidak akan melakukan apa-apa pada dia. Sama-sama pemimpin dunia bawah, tidak perlu ditakutkan." Steiven mendekati Aqilla dan mengarahkannya untuk duduk.
Meyra yang saat itu bersama menghantarkan Aqilla untuk pulang, ikut merasakan apa yang sahabatnya itu rasakan.
" Tenang saja Qil, semoga saja tidak terjadi apa-apa. Kan pria anehmu itu kuat, sekuat baja!" Meyra menenangkan sahabatnya itu, agar tidak terlalu kepikiran.
" Benar kak, kak Akhtar itu nggak bakalan juga kalah sama kakek. Kan kakek sudah tua, tenaganya juga tidak sebanding dengan kak Akhtar. Ya kalaupun kakek kewalahan, pasti tu tongkat yang melayang. Ya nggak kak Steiv?!!." Haykal yang baru saja hadir ditengah-tengah mereka, langsung saja melontarkan perkataan yang sedikit meremehkan kekuatan sang kakek.
Mendenggar perkataan Haykal, Steiven sedikit setuju dan mendukungnya. Ia menganggukkan kepalanya, sebagai tanda ia sepakat dengan pernyataan dari Haykal tadi. Karena baginya, Haykal dan sang kakek sama-sama menyebalkan.
" Tapi, si kakek tua itu. Walaupun usianya sudah sepuh, masih bisa bertarung dan melenyapkan nyawa orang." Tiba-tiba Jason yang sedari awal datang di mansion itu hanya diam, kini menggeluarkan kata. Dan perkataannya itu membuat Aqilla semakin merasa khawatir, hal itu membuat Haykal, Meyra, Steiven dan Robert menjadi sangat kesal pada Jason.
__ADS_1
Semua mata mereka yang berada disana, menatap tajam kepada Jason. Terkecuali Aqilla, matanya kini mengeluarkan air yang menetes disudut matanya.
" Dasar manusia kaku, perkataanmu itu membuat Qilla semakin sedih tau nggak!!! " Meyra memukul bahu Jason menggunakan tasnya.
Mendapatkan tatapan tajam dan pukulan dari Meyra, membuat Jason menjadi tidak enak hati dan sangat merasa bersalah. Hanya bisa menundukkan kepalanya, tidak ingin mendapatkan tatapan dari mereka lagi yang seakan membunuhnya saat itu juga.
Dasar manusia kaku, asal nyeblak aja tu lumut. Nggak liat apa, Qilla sangat khawatir dengan keadaan Akhtar. Apa dia senang kali ya, jika bosnya itu ko'it ditangan kakeknya Qilla? Aih, sungguh manusia tidak berperasaan. Meyra.
Mampus, salah lagi! Ini juga mulut, kok ngampang banget nyerocos kayak nggak ada remnya lagi. Aduh! kalau bos tau, bakalan berabe ini! Gawat... Jason.
......................
Akhtar berjalan mengikuti arah dimana Alfa berjalan terlebih dahulu, mereka berdua berjalan menuju ruang kerja milik Alfa.
Akhtar menuruti perkataan Alfa untuk duduk, dengan tenang ia menatap Alfa yang juga menatapnya saat itu. Belum ada satu katapun yang mereka ucapkan, hanya saling berdiam diri dan menatap satu sama lain.
Hingga akhirnya, setelah beberapa waktu.
" Kapan kalian akan menikah?!." Alfa dengan tatapan tajamnya, duduk bersandar pada kursinya dan mengangkat salah satu kaki untuk bersilang.
" Jika anda berkenan, saat ini juga saya akan menikahinya!." Akhtar dengan tenang menjawab pertanyaan dari Alfa.
" Lakukanlah!!." dengan menggoyangkan kakinya, Alfa menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Seketika itu juga, mata Akhtar membulat dan ia menegakkan punggungnya dari sandaran kursi yang saat itu ia duduki.
" Anda tidak salah bicara, tuan!!." Akhtar masih tidak percaya dengan ucapan Alfa
" Hem, lupakan masalalu. Kini, kebahagian kalian adalah yang utama untukku. Umurku sudah tidak muda lagi, biarkan disisa usia ini. Aku bisa menikmati masa-masa dimana bisa berkumpul dengan keluarga, apalagi ditambah dengan keturunan yang akan kalian berikan." Pandangan Alfa menatap satu arah.
Bagaikan angin segar yang menerpanya, Akhtar tersenyum sangat bahagia.
" Bagaimana dengan kelompok yang saat ini kau pimpin? Apakah cucuku menerimanya?."
" Dia menerimaku dengan semua masalalu yang aku miliki, hanya saja. Harapan terbesarnya, agar aku bisa meninggalkan dunia bawah secara perlahan." Akhtar menjawab dan menjelaskan perkataannya kepada Alfa.
" Hem, Baiklah! Aku serahkan semuanya kepadamu, lakukanlah yang terbaik untuk cucuku. Jaga dia baik-baik, jika terjadi sesuatu padanya! Kau tau akan berhadapan dengan siapa, bukan!."
" Terima kasih, tuan. Akan aku jaga dia dengan nyawaku!."
Alfa pun berdiri dari duduknya dan sedikit merapikan pakaiannya. Akhtar pun mengikutinya untuk berdiri. Melihat Alfa merentangkan kedua tangannya, membuat Akhtar mengkerutkan dahinya.
" Kemarilah!." Alfa memberikan kode agar Akhtar menghampirinya, lalu Alfa memeluk Akhtar dan menepuk pundaknya.
" Panggil aku kakek! Saat ini, kau juga adalah cucuku!!."
Kaget!!! Itulah yang Akhtar rasakan, namun Akhtar sangat teramat bahagia dengan keadaan ini.
" Kakek ". Akhtar menyebutkan nama itu untuk Alfa.
__ADS_1
" Cucuku, kalian adalah cucuku. Kebahagian kalian adalah nyawaku." Alfa memeluk pundak Akhtar berkali-kali dengan perlahan, tak terasa ada air yang keluar dari sudut matanya.
......................