Perjalanan Cinta Boss Mafia

Perjalanan Cinta Boss Mafia
Bab 42


__ADS_3

Kegiatan Aqilla kembali seperti biasanya, dengan berbagai bunga yang ada. Ia kembali merangkainya menjadi sebuah karya, pesanan kembali datang. Haykal ingin sekali membantu sang kakak, namun kegiatannya disekolah semakin padat mendekati ujian akhir sekolah.


" Kak, gimana kalau kita cari orang yang bisa bantu kakak? kan lumayan kak bisa berbagi dan menggurangi penggangguran." ujar Haykal.


" Bener juga ya, nanti kita pikirkan lagi ya. Kamu berangkat sana, nanti telat lagi."


" Iya kak, oh iya pesanan atas nama Steiven itu gimana kak? Apa nanti orangnya ambil sendiri atau kita yang anterin?." Haykal melihat banyak sekali pesanannya.


" Hem, katanya si mau ambil sendiri kesini. Lumayan, hemat ongkos. Hehehe." Aqilla tertawa renyah.


" Baguslah kak, jadinya kita nggak repot. Haykal berangkat ya, Assalamu'alaikum." Haykal menciumi punggung tangan Aqilla.


" Wa'alaikumussalam, hati-hati." Teriak Aqilla.


Setelah Haykal berangkat kesekolah, Aqilla meneruskan mengerjakan beberapa pesanan bunga. Karena keasikan dalam merangkai bunga, hingga waktu tak terasa semakin berlalu.


" Aakhh! Kok perutku terasa sakit ya, padahal tadi sudah makan." Aqilla segera berhenti dari aktivitasnya.


Merebahkan dirinya ditempat tidur, karena sakit yang ia rasakan sangat berbeda. Cukup lama ia berbaring, dan sakit itu pun berangsur hilang.


Dddrrtttt...


Dddrrtttt...


Ponsel Aqilla yang berada diatas meja bergetar, perlahan Aqilla menggambilnya. Dan ternyata, nama si pemesan bunga menghubunginya.


Tuan Steiven is calling...


" Hallo, tuan." Jawab Aqilla.


" Hallo nona, saya sudah berada didepan rumah anda. Apakah pesanan saya sudah selesai dan bisa saya ambil ?" Steiven menggatakan hal itu.


" Hah, iya tuan sudah selesai. Baiklah, saya akan membukakan pintu." Aqilla mengakhiri percakapannya melalui ponsel.


Dengan cepat Aqilla segera membukakan pintu rumahnya, tidak ingin membuat pelanggannya menunggu terlalu lama.


Ceklek...

__ADS_1


Suara pintu terbuka...


" Ah tuan, maaf membuat anda jadi menunggu. Mari, silahkan masuk." Aqilla mempersilahkan tamunya.


Steiven melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah Aqilla, menatap si empunya rumah dengan tatapan yang membinggungkan.


Disaat Aqilla sedang berhadapan dan menggobrol dengan Steiven, ponsel Aqilla kembali bergetar. Dan ternyata...


Pria aneh is calling...


" Assalamu'alaikum tuan."


" Wa'alaikumussalam sayang, masih banyak rangkaiannya? " Sapa Akhtar.


" Lagi ada pelanggan, ini lagi mau ambil pesanannya." Aqilla menggarahkan kameranya, karena Akhtar selalu video call.


Ketika kamera ponsel Aqilla menggarah kepada wajah si pelanggan, dengan santainya juga. Steiven melambaikan tangannya, dan tersenyum meremehkan. Tiba-tiba saja video call tersebut terputus seketika, tidak ada ucapan sebelumnya.


" Ada apa dengannya? tidak biasanya langsung memutuskan panggilan. " Aqilla merasa ada yang tidak biasa, dari Akhtar.


" Eh, maaf tuan. Pesanan anda sudah selesai semuanya, maaf juga sudah membuat anda repot untuk membawanya sendiri." Aqilla menunjukkan letak dimana pesanannya itu berada.


" Terima kasih tuan." Disaat Aqilla ingin berjalan berbalik, ia tak sengaja tersandung kaki Steiven. Sehingga tubuhnya terhuyung ke belakang.


" Akh!" Jerit Aqilla.


Tubuh Aqilla terjatuh kebelakang, namun anehnya ia tidak sampai menyentuh lantai. Rupanya, Steiven sudah terlebih dahulu menahan tubuh Aqilla dengan cara memeluknya, agar tidak terhempas ke lantai. Pandangan mereka berdua saling menatap, hingga terdengar suara yang membuyarkan semuanya.


" AQILLA !!!." Suara Akhtar menggema.


" Tuan ! Akh!!!." Tubuh Aqilla terhempas ke lantai.


Steiven memang telah menggatur hal tersebut, ia tersenyum sangat puas melihat Akhtar dengan wajah merah menahan amarah. Akhtar langsung mendekati Steiven dan sebuah pukulan menggenai wajahnya.


Buk !!!


" Keparat kau!!! Mau apa lagi kau, hah? Jangan pernah lagi kau menyentuh milikku, milikku!!! Bang**sat!!!." Teriak Akhtar dengan sangat marah.

__ADS_1


" Heh, memangnya kenapa tuan Akhtar Wijaya sang anak punggut. Siapa yang menjadi milikmu? Apa wanita ini? Wow, sungguh sudah jauh sekali seleramu ya." Tawa Steiven dengan sangat mengejek.


" Ba**sat kau!!!." Akhtar akan melayangkan pukulannya kembali kepada Steiven.


Kini, tubuh Aqilla sudah terlebih dahulu memeluknya. Aqilla merasa ada yang tidak beres dengan mereka berdua, ia berusaha meredamkan emosi Akhtar.


" Lepaskan!!! Aqilla, lepaskan!!!." Teriak Akhtar.


" Tidak!!! jangan saling melukai, apa yang tuan lihat tadi. Itu tidak seperti yang tuan pikirkan, tolong jangan gegabah." Suara Aqilla terputus-putus.


" LEPASKAN AQILLA?" suara Akhtar sudah sangat menyeramkan.


" Tidak!!!" Aqilla.menggelengkan kepalanya.


" Woow, kalian berdua sangat serasi dalam sebuah drama romantis. Heh, tapi ini sangat memuakkan bagiku." Steiven memancing amarah Akhtar.


" Pergi tuan, kumohon pergilah dari sini." Aqilla meneriaki Steiven dan mencoba menahan tubuh Akhtar dengan memeluknya.


" Lepaskan Aqilla." Akhtar menarik tubuh Aqilla dengan sangat kuat, hingga perut Aqilla membentur sudut ujung dari meja.


" Akh!!!."Aqilla meringgis.


Tanpa berbasa-basi lagi, Akhtar dan Steiven langsung saling memukul satu sama lainnya. Ketika Steiven sudah kehabisan tenaga, dengan keadaan yang sangat menggenaskan. Akhtar menggarahkan sebuah pistol ke arah Steiven, dengan platuk yang sudah ditarik.


" Jangan tuan." Suara Aqilla berteriak.


" Jangan, jangan lakukan. Jangan!!! Jangan tembak, jangan." Aqilla meringgis menahan sakit di perutnya.


" Sayang, ada apa? Kenapa wajah kamu sangat pucat? Apa gara-gara saya dorong tadi ya?." Wajah Akhtar sedikit cemas, melihat wajah Aqilla.


" Tidak apa-apa tuan, jangan tembak. Anda nanti bisa berurusan dengan polisi, memangnya ada apa diantara kalian?." Aqilla semakin merasa aneh.


Akhtar tidak ingin membuat Aqilla bertanya lebih banyak lagi, ini belum saatnya ia menceritakan hal tersebut kepada Aqilla. Ia menyimpan kembali senjatanya dibalik jas yang ia kenakan.


" Kau!!! Pergilah dari sini, aku tidak akan memaafkanmu di lain waktu. Beruntunglah kau saat ini."


Steiven mencoba berdiri dengan sekuat tenaga, tubuhnya kini sangat banyak sekali bekas memar dan luka disekujur tubuhnya.

__ADS_1


" Heh, aku akan membalasmu anak pungut!." langkah kakinya Steiven semakin menjauh.


Akhtar mendengar perkataan dari Steiven, membuatnya menjadi tersinggung. Saat ia akan menggejar Steiven, dengan cepat Aqilla menarik tangannya dan menggelengkan kepala. Akhirnya Akhtar menuruti permintaan sang kekasih.


__ADS_2