
Dalam suatu bangunan yang merupakan markas dari kelompok Wars, yang berada jauh dari keramaian penduduk. Aqilla berada di dalam suatu ruangan yang minim akan cahaya, masih dengan keadaan tidak sadarkan diri dan kaki maupun tangan terikat.
" Bagaimana keadaan perempuan itu?" Tanya Steiven pada bawahannya bernama Nicki.
" Masih belum sadar tuan, apa harus kita membangunkannya tuan?." Nicki meminta persetujuan.
" Hem, siram saja." Titah Steiven.
Nicki memerintahkan temannya untuk menggambil air, dengan sangat cepat ia menyiramkan air tersebut kepada Aqilla. Tidak ada respon yang diberikan oleh tubuh Aqilla, hal ini membuat Steiven dan Nicki menjadi heran. Mereka lalu mendekati Aqilla, membuka ikatan tali yang berada di kaki dan tangannya.
" Hei, bangun." Nicki menepuk-nepuk pipi Aqilla.
" Tuan!!!" Nicki melihat Steiven.
Steiven pun berjongkok untuk melihat keadaan Aqilla, memeriksa suhu tubuhnya dengan punggung tangan. Tetap saja tidak ada respon, nafasnya sangat pelan dan sangat berat.
" Belum disiksa, rupanya kau sudah menyerah nona. Menyusahkan saja, Nic. Kau panggilkan Andre, aku tidak mau perempuan ini mati begitu saja. Kau urus dia!" Steiven berdiri dan pergi begitu saja.
" Baik, tuan!." Nicki membawa tubuh Aqilla ke sebuah kamar yang layak.
" Bro, lekas ke markas. Bawa peralatan pintar lu, ada yang harus diperiksa." Nicki berbicara melalui ponselnya.
" Siap!." Jawab Andre, ia merupakan dokter pribadi Steiven.
__ADS_1
......................
" Van, gue cabut ya. Ada uang tambahan ni." Ucap Andre.
" Dasar matre' lu, ajakin kek gue sekali-kali." Evan memprotes.
" Ye ni orang, lu udah kaya. Lah gue, mobil aja kredit." Andre membela diri.
" Kredit, kredit. Itu sudah mobil keberapa lu kali, dasar pelit bin matre' lu." Toyor tangan Evan di kepala Andre.
" Kau ini! Ya sudah cepetan, gue udh ditunggu ni."
" Gue di ajak ni ceritanya?" Evan merasa tak percaya.
" Ngmong lagi, gue tinggal lu." Andre melangkah untuk keluar dari ruangan itu.
" Tempat apaan ni Ndre? Serem amat." Evan merasa merinding.
" Sstt, inget kata gue tadi. Nggak usah banyak ngomong, ikuti arahan gue. Kalau nggak, mampus lu ". Andre segera masuk ke dalam gedung itu, yang sebelumnya beberapa penjaga memeriksa dirinya dan Evan.
" Nic, siapa yang mau diperiksa? " Tanya Andre.
" Ini siapa? " Nicki merasa janggal dengan kehadiran Evan.
__ADS_1
" Ini teman satu kantor, gue ajakin aja. Karena lu maunya cepet, yang gitu deh."
" Udah, lu periksa tu orang. Diruangan biasa!." Nicki menggiringi mereka berdua.
Ketika pintu ruangan itu terbuka, terlihat seorang perempuan berada di atas ranjang. Perlahan mereka semakin mendekatinya, dan betapa terkejutnya Evan melihat siapa perempuan itu.
AQILLA!!! Siapa yang membawanya kesini? Gawat ini! Batin Evan.
" Gile, cantik banget ni perempuan. Diapain tuh sama bos?." Tanya Andre pada Nicki.
" Nggak tau, dari awal dibawa kesini. Udah nggak sadar kayak gitu, makanya lu disuruh kesini, pinter! Jawab Nicki geram, lalu meninggalkan mereka.
Andre mulai memeriksa Aqilla, Evan pun tak tinggal diam. Ia ikut membantu Andre, melihat kondisi Aqilla saat ini sungguh menggenaskan. Wajah seperti mayat, deru nafas yang sangat lemah, denyut nadi hampir nggak dapat.
" Van, pikiran lu sama gue pasti sama. Ni perempuan keadaannya bukan main-main." Tatapan Andre kepada Evan.
" Kita harus secepatnya bawa kerumah sakit Ndre, ini sudah sangat kritis." Evan mulai mencemaskan kondisi Aqilla.
Andre segera keluar dari kamar tersebut, dan bermaksud memberitahukan hal itu kepada bosnya, Steiven. Mereka tidak mengetahui kalau Evan adalah sepupu dan dokter pribadi Akhtar. Evan pun tidak menyia-nyiakan waktu, ia segera memberitahukan Leo akan hal ini. Biar selanjutnya, Akhtar yang menyelesaikan.
Kalian secepatnya lah datang, nyawa Aqilla benar-benar harus segera ditolong. Batin Evan.
" Sss sa sa sa k kit!!." terdengar suara yang sangat lemah.
__ADS_1
" Qilla!!! apa yang sakit? Tahan, kamu harus bertahan. Akhtar akan segera kemari dan menyelamatkanmu." Evan cemas.
Hanya sebentar suara itu terdengar, Aqilla benar-benar tidak sadarkan diri.