
" kakaaakkk hiks hiks " tangisan Amey pecah tak kala melihat tubuh Berlian berlumur darah.
ia pun makin menjerit saat mereka membawa tubuh Berlian menjauh darinya dan meninggalkan dirinya sendiri.
" kakak kakak. " teriaknya menggema di seluruh ruangan tersebut.
di tatapnya nanar noda darah Berlian di kedua tangannya tat kala saat ia meraba tubuh Berlian yang tertembak oleh senjata api.
andaikan saja ia tak meminta Berlian untuk datang, mungkin saat ini dirinya lah yang berada di posisi Berlian.
semua sudah terjadi dan kini ia hanya bisa menangis pilu kehilangan sang kakak.
********
" mau kita apakan bos wanita ini ? " tunjuk salah seorang dari mereka pada tubuh Berlian yang tergeletak di tanah.
" kita buang saja setelah itu kita bilang pada bos besar bahwa wanita itu sudah mati. " jawab ketua mereka.
mereka pun meraih tubuh Berlian dan membuangnya ke dalam hutan begitu saja. mereka berharap tubuh Berlian di makan hewan buas dan tidak dapat di temukan oleh siapa pun.
setelah jauh meninggalkan Berlian di tengah hutan, mereka pun menghubungi seseorang disana dan mengatakan bahwa misi mereka telah berhasil.
betapa senangnya seseorang disana yang mengetahui bahwa Berlian sudah mati di tangan orang suruhannya.
" akhirnya kau mati juga. " ia pun tertawa senang dan menyesap segelas wine di tangannya merayakan kematian Berlian.
ddrrrtt
drrttt
Aaron melirik malas pada ponselnya saat melihat nama Amey yang muncul di layar ponselnya.
beberapa kali Amey mencoba menghubungi nya tapi Aaron tak kunjung juga mengangkatnya.
Rao dan Hans melihat beberapa kali ponsel Aaron. Hans masih bergeming tak menghiraukan, sementara Rao terasa tangannya gatal dan ingin mengangkatnya.
' jika sekali lagi telepon itu tidak diangkat, maka aku yang mengangkatnya.' guman Rao masih melirik ponsel Aaron.
dan benar saja tak lama Amey pun menghubungi kembali dan dengan cepat Rao mengambil ponsel Aaron sehingga sang empunya marah dan kesal.
" hei kau .... " ucapan Aaron terhenti saat Rao menghadang kan telapak tangan kanannya di depan wajah Aaron.
__ADS_1
berani sekali dia !
Aaron meremas kesal dan menaruh alat tulis itu dengan kencangnya di atas meja sehingga menimbulkan suara keras.
Hans nampak memperhatikan Rao dari awal ia mengangkat telepon tersebut. nampak wajahnya dingin dan alis yang sedikit menajam.
" kau carilah tempat yang aman, dan jangan keluar sebelum aku datang. " Aaron menggerenyit heran saat Rao berkata seperti itu pada adik iparnya.
mungkin lebih tepatnya akan menjadi mantan adik ipar. karena Aaron akan menceraikan dan membebaskan Berlian.
ck, bodohnya pria ini !
" apa kau tahu dimana istrimu ? " Aaron makin tergelak saat Rao menanyakan Berlian.
" aku tidak peduli dia dimana. " jawaban Aaron membuat Rao tersenyum mengejek ke arahnya.
" kau ternyata seseorang yang bodoh rupanya. " ucap Rao menyulutkan kemarahan Aaron.
" berani sekali kau ! " Hans menarik jas Rao dan mengangkatkanya ke atas sehingga nampak leher Rao tercekik.
Rao pun mendorong tubuh Hans dengan kasar sehingga Hans terhuyung kebelakang.
" jangan menyentuhku ! " Hans dan Aaron terdiam melihat perubahan dari sikap Rao.
Rao pun pergi dan tak peduli akan kemarahan Aaron.
" aku terlalu memanjakan bocah itu sehingga dia berani kurang ajar terhadapku ! " Aaron geram dan melempar benda ke arah pintu dimana Rao keluar.
" tuan ? apa kau tidak merasa heran dengan tingkahnya hari ini ? " tanya Hans dengan hati hati.
Aaron pun menghempaskan kasar tubuhnya di kursi kebesarannya serta di pijitnya dahi yang terasa berdenyut.
" kau ikutilah dia, dan laporkan apa yang dikerjakannya. " titah Aaron dan Hans mengangguk patuh.
*
*
*
*
__ADS_1
*
" kakak... hiks... kakak. " Amey masih meraung menangis di dalam pelukan Rao.
" kau tenanglah, mereka akan mencari nyonya. dia akan selamat aku pastikan itu. " ucap Rao dengan menatap semua anak buahnya yang sedang pergi mencari Berlian.
malam ini pun Rao ingin Berlian ditemukan. bahkan ia tak ingin anak buahnya kembali tanpa sosok Berlian.
biarlah jika nanti Aaron marah atau pun membunuhnya karena pembakangannya.
" tu tuan. " Hans terdiam tak berani menatap kedua bola mata Aaron.
" lihat lah kau menjadi gagap setelah kembali datang padaku. " ucap Aaron dengan nada tak suka akan kehadiran Hans.
" nyonya tuan nyonya. " ucap Hans kembali dengan gemuruh di dalam dadanya.
" aku sudah tidak peduli dengan wanita itu. bahkan dia saja sudah berani pergi meninggalkanku demi pria lain. " Aaron mengacuhkan ucapan Hans. dia hanya memilih menikmati kopi hangatnya.
Hans pun kini sama kesalnya dengan Rao. hanya saja ia tak berani untuk melawan langsung. ia hanya bisa mengepalkan tangannya.
" bahkan kau tidak akan peduli jika nyonya diculik dan dibunuh tuan ? " pertanyaan itu mampu membuat Aaron tersedak dan terbatuk batuk.
" uhuk uhuk. apa maksudmu bodoh ! " umpat Aaron dengan suara yang masih terhalang oleh gatal di tenggorokannya.
" lupakan tuan. kau sudah tidak peduli dengannya bukan ? " ucap Hans.
" hei kau .... ! " tunjuk Aaron dengan kesalnya.
" nyonya pergi karena ingin menolong nona Amey tuan. dan bukan seperti yang kau tuduhkan padanya. " ucap Hans membuat Aaron terdiam.
" dan sekarang nyonya menghilang...." ada jeda keheningan dikeduanya. Hans takut untuk melanjutkan ucapannya. " setelah nyonya tertembak oleh salah satu dari mereka. " ucap Hans kembali.
kini nampak guratan kasar menonjol dari wajah Aaron. matanya kini menggelap seakan ingin menelan siapa saja dengan hidup hidup.
tanpa sepatah katapun, Aaron pergi meninggalkan Hans.
_________
...tetap jaga imun kalian ya....
...dan jangan lupa minum vitamin juga....
__ADS_1
...tetap semangat menjalani hari ok....