
hari yang tergambarkan indah di pelupuk mata Vanilla, kini tinggallah sebuah cerita. ia kini hanya bisa menjerit menahan sakit dan luka yang sungguh menyiksa dalam jiwanya.
aaaahhhhhhhh.
suara jeritannya tak di dengar oleh Aaron. ia tidak peduli akan rasa sakit yang di derita oleh Vanilla. pun bahkan tubuh mungil yang sudah tak berdaya itu tak sanggup meluluhkan hati Aaron.
Aaron begitu marah pada sosok Vanilla, ia begitu membenci dengan wanita yang sudah ia anggap sebagai saudara nya itu.
Aaron begitu tidak mengerti bagaimana bisa wanita yang sekarang terbaring dilantai dengan luka lebam di sekujur tubuhnya, tega melukai wanitanya. bahkan ia tidak mengerti jika semua kejadian yang menimpa istrinya adalah ulah Vanilla.
" Ar Aaron " Vanilla dengan sisa tenaganya bergerak mendekati Aaron, ia berharap ada sedikit belas kasih dari Aaron.
Aaron menendang tangan yang hampir menyentuhnya itu membuat Vanilla meringis kembali.
hati Vanilla sungguh sakit, ia benar benar sakit. pria yang ia cintai tidak sedikitpun menoleh ke arahnya melainkan hanya terus menatap pada wanita yang baru saja ia kenal.
" apa yang kurang dariku. " Isak Vanilla dengan rasa bencinya pada sosok Berlian. ia mencoba membandingkan dirinya dengan Berlian.
ia cantik, ia pun juga kaya. bahkan ia mengerti Aaron dan mengenal Aaron dari dulu sebelum Berlian.
tapi kenapa cintanya tidak untuk dirinya.
apa yang salah ?
apa yang kurang ?
" kau jauh dari kata sempurna seperti dirinya. " ucap Aaron dengan tegas membuat Vanilla mengepalkan tangannya.
" bahkan hatimu tidak seperti dirinya. " ucap Aaron lagi yang membandingkan dirinya dengan Berlian. bahkan jika di sandingkan, Aaron berfikir Vanilla tidak pantas jika harus di sandingkan dengan Berlian.
Wanitanya tidak hanya cantik, tapi memiliki hati yang luar biasa. ia begitu sempurna Dimata Aaron sehingga tidak ada satupun yang mampu menggantikannya.
" ini tidak adil ! " jerit melengking Vanilla dengan Air mata yang terisak Isak. ia tidak terima jika dirinya terlalu di rendahkan. pun itu dengan seseorang wanita yang bukan seharusnya berada di samping Aaron begitulah pemikiran Vanilla.
braaak,
Aaron melempar sebuah botol kosong di dekat nakas yang kini remuk menjadi kepingan setelah membentur dinding tepat di belakang Vanilla membuat Vanilla menegang ketakutan.
" singkirkan wanita ini. " setelah mendengar perintah dari Aaron, beberapa orang di belakang Aaron pun menyeret paksa Vanilla.
__ADS_1
" kau tidak bisa melakukan ini padaku Ar. " Vanilla meronta ronta tidak ingin di sentuh oleh orang orang itu. dengan tubuh mungilnya, ia tidak bisa berbuat banyak. hanya kaki yang mengatung di udara dengan berayun ayun meminta untuk dilepaskan.
jeritan demi jeritan dapat Aaron dengar sampai jeritan itu hilang seiring tubuh Vanilla menghilang dari pandangannya.
satu persatu akan ku hitung semua yang telah menyakitimu.
janji Aaron pada Berlian sebelum dirinya membawa kembali Berlian di sisinya. ia ingin segera mungkin membereskan akar masalah dan setelah itu ia akan menarik Berlian dalam pelukannya.
ia tidak peduli akan status Berlian yang kini sudah berubah dan menjadi istri Rean. baginya Berlian tetap menjadi miliknya dan seutuhnya akan menjadi miliknya.
dan masalah kedua putra Berlian, ia akan berusaha menerima mereka dan menganggap mereka putranya juga.
hiks
hiks
hiks
tangisan seorang anak kecil terdengar samar samar di sebuah sudut.
Aaron yang hendak keluar dari sebuah bangunan setelah selesai berurusan dengan Vanilla, tak sengaja mendengar tangisan itu. ia pun membuka kacamata hitamnya yang bertengger di hidungnya, kemudian melirik ke arah sumber dimana ia dengar suara tangisan kecil itu.
langkahnya seakan menyakinkan bahwa sumber itu berada di dekat sebuah toko kecil disamping gedung tempat ia keluar tadi.
tubuh familiar itu sesungguh membuat Aaron menggerinyitkan alisnya. ia merasakan tubuh itu pernah ia temui walaupun ia melihat dari belakang tubuh bocah itu.
bola mata Aaron begitu membulat saat mengingat kembali tubuh kecil itu. betapa terkejutnya ia melihat sosok Elvis yang duduk di sudut sana. ia pun segera mendekati bocah kecil itu melihat Elvis dengan jarak dekat.
apa yang dilakukan anak ini di tempat seperti ini.
" boy, apa yang kau lakukan disini. " Aaron begitu khawatir pada Elvis hingga ia memeluk bocah itu dalam pelukannya.
ia pun menggendong Elvis dengan sesekali menghapus air matanya. ia tidak melihat Ray disekitar Elvis. ia selalu melihat dua anak itu bersama, tapi sekarang hanya tinggal seorang anak saja ia lihat.
" dimana saudara mu, boy. " ucap Aaron dengan memperhatikan Elvis yang masih terisak di pelukannya.
Elvis tidak menjawab, ia terus saja menangis tak hentinya membuat Aaron kebingungan.
" Carikan anak yang satu lagi. " titah Aaron pada Hans yang masih mengikutinya.
__ADS_1
anak ?. guman Hans, ia bingung anak siapa yang harus ia cari.
Elvis pun menarik kecil kemeja Aaron dan Aaron pun mendekatkan daun telinganya di bibir Elvis. " a aku " Elvis terbata takut jika Aaron akan memarahinya. " a aku kabur dari rumah, paman. "
apa katanya tadi, kabur ?
bagaimana bisa anak yang masih kecil ini kabur dari rumahnya.
" apa kau tahu, tindakanmu ini sangat berbahaya? " Elvis mengangguk, ia membenarkan ucapan Aaron. karena ia pun takut dan tersesat saat dirinya tengah berlari tadi.
ia begitu takut jika mommynya akan memarahi dirinya, saat Amey mengadukan dirinya pada mommynya. ia pun menyesali perbuatannya yang akan membuat cemas seluruh keluarganya.
" maafkan aku, paman. " cicit Elvis membuat hati Aaron luluh. ia pun membawa tubuh kecil Elvis itu ke dalam mobilnya.
" paman akan mengantarmu pulang. "ucap Aaron.
Elvis yang mendengar kata pulang pun sedikit takut. ia takut akan kemarahan keluarganya, tapi satu sisi ia ingin sekali untuk pulang.
Aaron melirik beberapa kali Elvis yang ada dalam pangkuannya, menjadi mengiba dengan keadaan Elvis.
" apa yang kau fikirkan boy ? " tanya Aaron dan Elvis hanya terdiam tak menjawab.
" bagaimana jika, kau kerumah ku dulu nanti aku akan menghubungi orang tuamu. " tawar Aaron pada Elvis.
Elvis mendongakkan wajahnya sedikit menatap Aaron. hati kecilnya ingin pulang tapi ia sungguh takut akan kemarahan mommynya.
Aaron mengerti jika Elvis masih takut dan ragu untuk pulang. " tenanglah, nanti paman akan menyampaikan jika kau bersama ku seharian untuk minum teh. " ucap Aaron.
mungkin dengan sedikit berbohong, Elvis tidak akan terlalu dimarahi oleh orang tuanya. biarkan jika Rean akan menghajarnya membabi buta, yang terpenting anak yang ada dalam pelukannya ini tidak sedih. dan itu Aaron lakukan dengan sepenuh hati.
kau punya sihir yang membuat ku menyukai mu. Aaron.
Daddy.
satu kata terlintas di benak Elvis.
apa Daddy mengkhawatirkanku ?. Elvis
biasanya ia akan berlindung dibelakang Rean yang ia ketahui sebagai Daddynya. tapi saat mengetahui Rean bukanlah Daddynya, ia begitu sedih sampai guratan kesedihan itu begitu nyata.
__ADS_1
" apakah itu boleh ? " cicit bocah kecil itu yang dijawab oleh anggukan kepala Aaron.
" nanti akan aku hubungi orang tuamu. " ucap Aaron dengan mengusap kepala Elvis.