Permata Hatiku

Permata Hatiku
Terlalu Bermimpi


__ADS_3

" menjauhlah dari calon istriku ! " Aaron menggeram kesal kepada sosok yang ada dihadapannya.


Aaron menghempaskan Ruby hingga terhuyung kebelakang, serta pisau itu jatuh tergeletak di lantai.


Aaron tidak memperdulikan Ruby yang tengah hamil. baginya siapapun yang mencoba membuat wanitanya dalam bahaya, akan ia buat perhitungan pada mereka sehingga mereka akan berfikir lagi apa yang akan mereka perbuat.


dan disinilah ia sekarang menjadi benteng pertahanan Berlian. mengorbankan dirinya untuk melindungi wanitanya.


Ruby makin menggeram kesal melihat Pria mana lagi yang tergoda oleh kakaknya.


Ruby bukannya takut akan Aaron malah mentertawakan dirinya.


" hei ! kau benar benar ya seperti seorang j*l*ng ! tidak puas dengan yang satu sekarang naik keranjang yang satu ! " ucap Ruby mengejek Berlian.


Aaron menatap Ruby dengan lebih gelap. ia berjalan ke arah Ruby dan dengan waktu sekejap, ia meraih leher Ruby untuk ia cekik.


Ruby terkejut bukan main. ruang oksigen yang masuk ke rongga hidungnya terhenti seketika. wajahnya pun mulai Pasih kekurangan oksigen.


" lepaskan dia ! " ucap Berlian.


Berlian tidak ingin Ruby mati menggenaskan di depan matanya. mau bagaimana pun Ruby tetap adik kecilnya.


" hey lepaskanlah dia ! "


untuk kedua kalinya Berlian berucap barulah Aaron melepaskan Ruby dan mendorong tubuhnya.


Ruby terbatuk batuk dan mencoba menghirup udara agar segera masuk ke dalam rongga hidungnya.

__ADS_1


pria ini sungguh menakutkan bagi Ruby. Diordan sang suaminya pun walaupun marah dengan dirinya tidak pernah berbuat sejauh ini.


benar benar aura penuh dengan penekanan sehingga membuat Ruby beringsut mundur beberapa langkah menjauh dari Aaron.


" kenapa kau masih peduli padanya sementara ia akan mencelakai dirimu ! " Aaron kesal.


" aku tidak ingin keponakan ku kenapa kenapa. "


Aaron menatap Berlian kemudian menatap Ruby. Ruby yang di tatap oleh Aaron menjadi bergetar ketakutan.


Aaron tersenyum sinis pada Ruby, ia melihat banyak perbedaan dari kedua kakak beradik itu. yang satu suka menindas dan yang satu berpura pura tidak peduli.


" kau ingat ini baik baik ! jika lain waktu kita bertemu dan dia tidak ada " ucap Aaron dengan menunjuk Berlian " maka berakhirlah kehidupanmu ! " ancam Aaron.


Ruby tehentak makin ketakutan. pria ini tidak mempunyai rasa belas kasih sedikitpun.


*


*


*


*


*


beberapa saat kemudian setelah kejadian itu, Berlian dan Aaron masih terdiam dalam dunianya masing masing.

__ADS_1


Aaron sibuk dengan pekerjaannya yang ia bawa ke rumah sakit agar ia bisa terus menjaga Berlian. dan Berlian masih dengan asiknya membaca fashion masa kini.


merasa bosan dan jengah dengan pria yang satu ini, membuat Berlian sedikit melirik ke arah pria itu.


" apa kau tidak ingin pergi ? " tanya Berlian.


" tidak ! " jawab Aaron yang masih dengan terfokus pada pekerjaannya.


Berlian menaruh majalah itu dengan sedikit hentakkan. Aaron tahu jika Berlian kesal tapi dirinya tak mementingkan itu.


" kau pergilah ! " Berlian mengusir Aaron.


Aaron mengadahkan kepalanya melihat Berlian dan tersenyum.


" tidak ! " jawaban itu sukses membuat Berlian makin kesal.


" apa kau bisa selain berkata tidak ! " geram Berlian.


Aaron tersenyum dan beranjak duduk di sebelah Berlian. di usapnya rambut Berlian tapi dengan cepatnya Berlian tepis tangan Aaron.


Aaron meraih dagu Berlian di tatapnya kedua bola mata indah itu. Berlian yang ditatap seperti itu menjadi terdiam kaku.


dalam tatapan itu mengandung sebuah intimidasi sehingga membuatnya tak berkutik sedikitpun.


" kau tahu, aku akan berkata iya saat kita menikah nanti " bisik Aaron ditelinga Berlian.


Berlian menepis tangan Aaron dengan kasar.

__ADS_1


" terlalu bermimpi ! "


__ADS_2