Permata Hatiku

Permata Hatiku
Berbelas Kasih


__ADS_3

" nyonya jangan pergi " ucap seorag pekerja wanita yang mengikuti langkah kaki Berlian menuruni anak tangga.


" ku mohon nyonya jangan pergi. " ucapnya lagi dengan guratan cemas.


nampak sekali wajahnya penuh guratan dan ketakutan saat mengetahui Berlian hendak pergi.


Berlian tak menghiraukan ucapan wanita itu. dia terus saja melangkahkan kakinya untuk pergi.


kegaduhan itu pun mengundang perhatian pekerja yang lainnya. nampak terlihat oleh mereka saat seorang pekerja wanita yang memohon pada Berlian.


" kau tenang saja. aku pergi tidak akan lama. " ucap Berlian pada pekerja wanita.


bukannya tenang, pekerja wanita itu makin pias saja wajahnya.


" nyo nyonya mau kemana ? " tanya salah satu dari mereka yang memberanikan diri untuk bertanya.


Berlian pun mengangguk membenarkan pertanyaan itu. dan membuat mereka semua berwajah pias sama seperti pekerja wanita.


" ba bagaimana dengan tuan ? " ucapnya lagi dengan meremas buku tangannya yang terasa basah.


ah, Aaron.


memikirkan pria itu membuatnya frustasi.


" kalian tidak perlu cemas. aku hanya pergi sementara. " ucap Berlian sebelum pergi.


Aaron !


semoga saja pria itu tidak berbuat semaunya.


makin bergetar dan pias saja wajah mereka seakan tak ada oksigen diseluruh tubuh mereka.


setelah kepergian Berlian, mereka semua pun kini menghadapi sesuatu yang membuat seluruh tubuh mereka luluh tak berdaya.


semua menunduk dan melirik satu sama lain. dari mereka semua tak ada yang berani menatap pria yang berdiri dihadapan mereka.


malapetaka pun tiba.


gleg, matilah !


aku pasti akan mati !

__ADS_1


tamatlah sudah !


itulah salah satu suara hati dari mereka saat Aaron dengan wajah datar dan rahang mengerasnya menatap mereka semua.


" pecat mereka semua ! " satu kalimat itu mampu membuat tubuh mereka terduduk bersimpuh dan bergetar.


" tuan mohon maafkan kami. " ucap salah satu dari mereka dengan bibir yang bergetar dan menangis memohon belas kasih.


Aaron tetaplah Aaron. ia tak mengindahkan belas kasih mereka.


Aaron memilih pergi menuju ruang kerjanya tanpa berkata sepatah pun kembali.


braaakk,


prang,


suara kegaduhan dalam ruang kerja Aaron terdengar sampai ditelinga mereka. sehingga membuat mereka makin ketakutan.


Hans dan Rao pun bergegas masuk kedalam. nampak oleh mereka ruangan yang begitu rapih dan bersih, kini terlihat seperti terkena angin topan.


benda benda tergeletak begitu saja ditempat yang tak seharusnya. nampak juga yang tak sedikit hancur akibat amarah Aaron.


" jangan biarkan aku melihatnya lagi. " ucap Aaron dengan memukul keras meja kerjanya.


beraninya kau pergi !


lihat apa yang akan ku lakukan jika kau berani menampakkan wajahmu di hadapanku !


sementara itu wanita yang membuat keributan, kini tengah berdiri dengan menompang tubuhnya yang sudah tak bertenaga.


Berlian yang mendapatkan adiknya tengah disekap oleh orang yang tidak dikenal, langsung bergegas tanpa memperdulikan yang lain.


yang ada dipikirannya hanya ada adiknya dan keselamatan adiknya.


jarak dan waktu tempuh yang begitu jauh tak membuat Berlian letih. ia terus saja mencari dimana sang adik disandera.


saat ia sudah menemukan sang adik, betapa terkejutnya ia melihat sang adik terikat di sebuah kursi.


" kakak.. hiks " ucap Amey terbata dengan tangisan piluh.


Berlian berlari kearah Amey dan memeluknya dengan erat.

__ADS_1


" jangan takut, kakak disini. " ucap Berlian mencoba menenangkan sang adik.


" kita pergi dari sini ok. " ucap Berlian dan Amey mengangguk kepalanya patuh.


saat hendak membawa Amey pergi, langkah mereka terhenti saat beberapa orang masuk mencegahnya.


" ikan sudah memakan umpannya." ucap salah satu dari mereka yang diketahui sebagai ketua dari mereka.


" siapa kalian ? " tanya Berlian yang asing melihat wajah mereka semua.


" kak ... " Amey takut. tubuhnya pun berangsur menyusut dibalik tubuh Berlian.


" kau tidak usah takut. kakak disini ! " bisik Berlian meyakinkan Amey.


" kau tidak perlu tahu siapa kami. yang kau perlu tahu, Kematianmu sudah dekat ! " ucap ketua Mereka dengan seringai di bibirnya.


kemudian ia memerintahkan beberapa orang untuk mendekati Berlian. Berlian dan Amey pun mundur beberapa langkah menjauhi mereka.


" kau diam disini ok. ingat, kau tidak harus takut. " Berlian mengusap kepala Amey dan Amey masih patuh.


Berlian pun berjalan ke arah mereka yang berjalan menghampiri dirinya. tanpa persiapan, Berlian pun menendang salah satu dari mereka sehingga membuat tubuh salah satu dari mereka terhuyung dan jatuh.


mereka yang melihat rekannya terjatuh pun menjadi lebih marah dan menyerang Berlian bersamaan.


Berlian mengambil kuda kuda dan membuat perlawanan dari mereka.


begitu banyak yang Berlian lawan membuat tubuhnya letih.


" ternyata kau hebat juga. tapi sayang sekali kau harus benar benar mati ditangan kami. " ucap ketua itu dengan nafas yang naik turun karena letih.


Berlian yang mendengar itu tersenyum menyeringai. " tidak akan mudah untuk membunuhku ! " ucap Berlian.


benar saja apa yang dikatakan Berlian. sudah beberapa kali mereka menyerang Berlian, bahkan dengan senjata api dan alat tajampun Berlian sanggup menahannya.


itu yang membuat mereka menggeram kesal. Berlian seperti punya seribu nyawa.


" jika aku tidak bisa membunuhmu, maka aku akan membunuh adikmu. " ketua mereka pun berlari mengambil pistol yang tergeletak tak jauh dari sana.


Berlian yang melihat ketua mereka ingin mengambil pistol itu pun membuatnya berlari cepat ke arah Amey.


Dooorrrr !

__ADS_1


" kakak ..... ! "


__ADS_2