
mata itu penuh dengan amarah, pun hawa mendominan kini mulai terasa. sekujur tubuh terasa merinding setiap langkah kakinya mendekat.
" apa kau tuli ? menjauhlah dari istriku ! " suara Aaron kembali menggema dengan penuh amarah.
di tatapnya Diordan dengan penuh kemarahan. ia tidak suka jika miliknya disentuh oleh orang lain apalagi yang mencoba menyentuhnya adalah masa lalu Berlian.
Diordan bukan mundur, ia lebih sengaja memberanikan mengecup kening Berlian. Berlian dan yang lainnya terkejut, dan Aaron menambah kemarahannya.
ia tarik Diordan dan satu pukulan tepat mendarat di wajahnya. Diordan terhuyung kebelakang dan Ragis dengan sigap menahan tubuh tuannya agar tidak terjatuh.
kembali Aaron ingin menghajar Diordan, tapi kini ia terhalang oleh beberapa orang yang memasang badan untuk menjadi benteng Diordan.
Aaron tersenyum meremehkan, baginya mereka adalah hal kecil yang mudah ia tangani. saat hendak melayangkan tangannya, Berlian membuka suara.
" cukup ! jangan membuat keributan, ini rumah sakit ! " Aaron menatap Berlian dengan menahan amarahnya.
Aaron menggelap, ia melangkah ke arah Berlian dan ia dengan cepat menarik tengkuk leher Berlian.
cup, Aaron ******* bibir manis milik Berlian. Diordan yang tidak terima jika Berlian di sentuh seperti itu, ia berjalan menghampiri mereka.
tapi kini anak buah Aaron menghalangi gerakannya. sungguh mereka sama sama ingin mempertahankan otoritasnya.
" dasar k*p***t ! jauhkan Berlian, Berlian milikku ! " ucap Diordan yang memancing kemarahan Aaron.
Aaron menarik diri, ia tatap wajah cantik Berlian. ia usap sisa penyatuan mereka dengan ibu jarinya. Berlian merasakan Aaron sedang dalam keadaan puncak kemarahannya.
ada rasa takut dalam diri Berlian saat melihat mata yang tajam itu. matanya dapat menembus setiap organ tubuhnya.
Aaron yang ingin menjawab perkataan Diordan dengan caranya, Berlian dengan berani memeluk Aaron agar tidak tergoyahkan dengan ucapan Diordan.
" jangan kau berbuat sama gilanya dengan dirinya. dia hanyalah masa lalu dan itu tidak penting bagiku dimasa kini ! " bisik Berlian di telinga Aaron.
ada perasaan asing yang menyusup di hati Diordan saat Berlian memeluk Aaron. wajahnya tergurat akan tidak suka dan tangannya mengepal erat menampakkan urat kebiruan.
__ADS_1
Berlian yang melihat Aaron sudah mulai tenang, ia memberanikan diri untuk melihat ke arah Diordan.
" Dio, ini yang terakhir kalinya aku katakan. jangan pernah berbuat gila seperti ini lagi. perhatikanlah adikku Ruby dan calon anakmu itu ! mereka butuh dirimu ! " ucapan Berlian membuatnya sedih.
" tapi aku mencintaimu sayang ! " Diordan masih bersih kukuh pada pendiriannya.
" jangan egois ! fikirkan tentang anakmu ! " ucap Berlian yang tidak ingin Diordan melupakan keluarganya.
Diordan terdiam lemas, dirinya benar benar telah terpukul jauh. jika saja tidak ada anak mungkin Berlian dan dirinya bisa bersama.
aarrrrrrgggghhhhhh, Diordan berteriak kencang mengeluarkan keganjalan yang ada dihatinya.
*********
buugghh,
buugghhh,
Rao tidak membalas, karena dirinya pun telah gagal menjaga sang nyonya. ini hukuman yang harus ia dapatkan.
Berlian cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Aaron. ia membabi buta menghajar Rao.
" dia tidak bersalah ! jangan hukum dia ! " Aaron berhenti saat Berlian membuka suaranya.
kemarahannya masih di puncaknya. baginya Rao telah salah. dan yang salah harus di hukum.
" jika ia tidak salah, siapa yang harusnya bersalah ? " tanya Aaron dengan bariton beratnya.
gleg, Berlian kesulitan menelan salivanya. mendadak pasokan oksigennya berkurang dan sulit untuk bernafas.
" a a aku " ucap gugup Berlian dengan nafas yang naik turun menahan takut.
Aaron melepaskan Rao dengan hentakan kasar. ia mengadahkan wajahnya kelangit langit dan tak lama menatap Berlian dengan dinginnya.
__ADS_1
Berlian makin tertunduk takut saat Aaron menghampirinya. sepertinya keganasan dirinya sedang pergi entah kemana sehingga ia bisa takut menghadapi pria satu ini.
grep, Aaron membopong tubuh Berlian. ia membawa tubuh Berlian menuju kamarnya.
" selamatkan nyonya ya tuhan " Rao masih bersempat memikirkan nyonya nya agar tidak merasakan kebuasan tuannya.
bagi Rao, Berlian sangat berkesan. ia berani mengalihkan perhatian tuannya jika sedang dalam keadaan puncak amarahnya.
di dalam kamar, Aaron menghempaskan tubuh Berlian di atas kasur dengan kasarnya.
saaakiit !
kasar sekali !
Berlian ingin berdemo karena merasakan sakit akibat dirinya di hempaskan begitu saja, tapi ia tidak berani saat Aaron menatapnya dengan raut wajah seperti itu.
Aaron mengukung tubuh Berlian, sehingga membuat Berlian tertunduk tak berani menatap wajah Aaron.
Aaron yang gelap mata, kembali ******* Berlian dengan dalamnya.
setelah puas dengan bibir Berlian, Aaron bermain di leher Berlian. Berlian merasa sekujur tubuhnya bergetar hebat.
apa Aaron ingin melakukannya, tapi bukankah dirinya sudah berjanji menunggu ia siap.
Aaron yang di kuasai oleh nafsu dan amarahnya, kini tangannya mulai bergerilya pada tubuh Berlian yang membuat Berlian makin takut.
dipukulnya bahu Aaron agar ia berhenti. tapi Aaron kini berpindah kembali mencium bibir Berlian dengan rakusnya.
Berlian terus memukul Aaron agar ia berhenti dari yang ia lakukan. Aaron pun berhenti, ia memejamkan matanya untuk mengatur nafasnya.
ia satukan keningnya dengan kening Berlian, ia tatap Berlian dengan dalamnya.
" aku tidak ingin kau menemui pria itu lagi atau pria lainnya. jika aku melihat kau melanggarnya, maka aku akan mengambil hak ku baik kau suka maupun tidak ! "
__ADS_1