Permata Hatiku

Permata Hatiku
Kelihangan Elvis


__ADS_3

" apa yang kau katakan ? " Amey begitu terkejut dengan perkataan putrinya sehingga menarik kedua tangan Elvis agak kasar.


" ma maafkan aku. " kata Elvis dengan rasa takut. ia takut melihat wajah Amey yang mulai menajam memandangnya.


Elvis menunduk tak berani menatap wajah Amey. pun Amey merasakan bahwa tubuh Elvis gemetar ketakutan.


Amey tersentak dengan rasa terkejut, ia tidak bermaksud untuk memarahi Elvis. ia tak menyangka jika Elvis bukanlah anak kandung dari Rean.


apa ia anak dari kak Aaron ?


Amey menatap kedua mata Elvis yang mulai memerah itu. dilihatnya lamat lamat wajah Elvis dari atas sampai bawah. ia mencari letak kemiripan di wajah Elvis.


" dimana mommy mu ? " Amey ingin menanyakan secara langsung pada Berlian. ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Elvis terdiam tidak menjawab pertanyaan Amey. ia begitu takut jika Amey menemui mommynya dan memarahi mommynya.


pasalnya ia tidak ingin memperburuk keadaan mommynya yang sedang tidak sehat.


" katakan ! " Amey sedikit meninggikan suaranya dan mengguncang kedua lengan Elvis.


Elvis semakin ketakutan, bibirnya bergetar dan keluh. ia semakin mengerutkan tubuhnya menggigil ketakutan.


" mom mommy. hiks hiks " Elvis menangis tak tahan dengan rasa takutnya. " mommy di rumah sakit. i ia di rawat di rumah sakit. " Elvis merontah dari genggaman Amey. ia pun melarikan diri saat Amey tengah lengah.


Amey semakin terkejut mendengar penuturan Elvis. ia tidak menyangka jika kakaknya kini telah berbaring di rumah sakit.


" maafkan aku mommy, maafkan aku. " Elvis berlari dengan sekuat tenaganya menjauh dari Amey. bahkan ia tidak menghiraukan beberapa orang yang telah ia tabrak.


Amey limbung seperti tak bertenaga mendengar perkataan bocah kecil itu. ia pun bergegas meraih tubuh mungil putrinya untuk pergi ke rumah sakit.


rumah sakit mana yang harus ia tuju, mungkin jawaban itu berada di tangan Gustav karena sudah pasti kakak tertuanya itulah yang akan menjaga Berlian.


sementara itu, kegaduhan terjadi di kediaman Gustav. Gustav begitu bingung harus mencari dimana keponakannya yang satu itu. bahkan Ray yang biasanya selalu bersama dengan Elvis, ia tidak mengetahui keberadaan dimana Elvis saat ini.


" apa yang kalian lakukan. cari dia sampai ketemu ! " Gustav memaki setiap anak buahnya. mereka pun membubarkan diri bergerak mencari keberadaan elvis.


Gustav merasakan kepalanya begitu sakit, belum saja selesai masalah Berlian, kini ia harus memikirkan tentang keberadaan keponakannya. pun ia tidak mengerti dengan anak buahnya yang tidak dapat menemukan seorang anak saja.


tidak berguna. Gustav terus saja berguman guman menyalahkan anak buahnya yang tidak dapat di andalkan.

__ADS_1


" katakan dimana putraku ! " Rean datang dengan keadaan lusuh.


hah, Gustav mendesah mendapatkan Rean yang kini makin ia tidak sukai.


Rean pria yang baru saja terpuruk akan Berlian yang terbaring di rumah sakit dan hendak menemuinya, kini ia harus di kejutkan dengan kabar satu putranya telah menghilang.


" kau tidak berhak mengetahuinya. " jawab ketus Gustav dan itu lagi lagi menyulut kemarahan Rean. jika ia tidak melihat Ray ada disana dengan duduk termenung, mungkin saat ini ia akan menghajar Gustav.


Rean tak peduli tatapan tak suka Gustav yang tidak menyukai dirinya. ia hanya ingin keluarga kecilnya bersama dirinya walaupun berbagai rintangan harus ia lalui.


" dad Daddy. " suara Ray yang terdengar tidak seperti biasanya. ia biasanya lebih tegar dari Elvis kini terlihat tidak baik baik saja. sudut matanya sedikit basah menahan tangis, serta wajahnya yang pucat.


Rean pun berjalan menghampiri Ray dan memeluknya dengan erat. ia beberapa kali mengusap punggung Ray untuk menenangkannya.


" jangan takut, ia akan baik baik saja. " Ray memperdalam mencari sisi hangat dalam pelukan Rean. ia sungguh takut jika sesuatu hal terjadi pada Elvis.


Rean pun sama takutnya dengan Ray. hanya saja ia berusaha untuk tegar dan tak memperlihatkan sisi takutnya agar Ray tidak merasa lebih khawatir.


_____________


seorang pelayan tergesah gesah datang ke dalam kamar milik seorang wanita.


ini kabar bagus fikir pelayan itu.


pelayan itu terus tersenyum dengan berjalan menghampiri Nona nya yang duduk merapihkan rambutnya.


" Nona " wanita itu menoleh dan menaruh sisirnya di atas meja riasnya. dilihatnya wajah pelayan itu Yang sedari tadi terus saja mengembangkan senyumnya.


" ada apa ? " tanya wanita itu acuh tak acuh. ia tidak peduli dengan wajah yang begitu senang itu jika bukan hal yang baik yang akan pelayan itu sampaikan.


" kabar bagus Nona. " ucap pelayan itu dengan makin bahagianya. ia berharap Nona nya benar benar tertular rasa bahagianya.


wanita itu berdecak kesal karena kabar baik yang selalu datang itu pastilah bukan yang benar benar ia harapkan.


" Nona. " panggil pelayan itu yang mendapatkan tatapan dingin dari wanita itu. pelayan itu tetap tersenyum dan tak menghiraukan wajah yang siap menerkamnya.


" ada tuan Aaron di bawah Nona. " kali ini wanita itu yang terkejut akan penuturan pelayan itu. dengan senyum di wajah pelayan yang masih mengembang, wanita itu terdiam.


" ap apa ? "

__ADS_1


deg deg deg


tidak mungkin


jantung wanita itu rasanya seperti ingin melompat dari tempatnya. pasalnya ini pertama kalinya Aaron berinsiatif menemui dirinya.


" iya Nona, tuan Aaron sedang menunggumu di taman belakang. " perlahan lahan sebuah senyum samar di wjaah wanita itu terlihat dan makin lama semakin merekah. ia merasakan bunga bunga bertaburan di dalam hatinya.


aaahh sungguh indah fikirnya.


ia pun bergegas menoleh ke cermin untuk melihat penampilannya kembali. setelah ia merasa cukup bahkan sangat cantik, ia pun pergi keluar untuk menemui Aaron tanpa mendengarkan kelanjutan dari ucapan pelayannya.


akhirnya kau menemui diriku.


siapa lagi kalau bukan Vanilla, wanita yang sangat menggilai Aaron. ia begitu menunggu moment dimana Aaron datang untuk dirinya. dan saat inilah moment itu datang membuat dirinya begitu bahagia.


pria itu sungguh menawan.


vanilla sungguh terpana melihat Aaron dengan setelan casualnya yang duduk dengan menatap halaman luasnya. ia begitu menggilai pria yang sebentar lagi menjadi miliknya.


jari jarinya yang kokoh menggenggam secangkir kopi di tangannya, serta mata yang tajam mampu melelehkan siapapun yang melihatnya.


" apa kau sudah siap ? "


siap ? untuk apa ?


Vanilla terdiam beberapa kali karena ia belum tahu harus siap untuk apa. pun sedari tadi dirinya sibuk melamunkan Aaron.


" siap untuk apa ? " tanya vanilla


Aaron berjalan menghampiri Vanilla, dan Vanilla menantikan itu. kedatangan Aaron menyakinkan bahwa dirinya kini telah berhasil mendapatkan cinta dari Aaron.


" ikutlah aku, aku akan mengajakmu ke sesuatu tempat. " bisik Aaron membuat bulu kuduk Vanilla meremang. aroma segar dari tubuh Aaron mampu mematikan nafas Vanilla. ia lemas dan tak bertenaga saat Aaron kini sangatlah dekat dengannya.


bahkan fikiran liarnya kini berlarian ke arah yang tak semestinya. ia membayangkan tempat yang Aaron maksud. mungkin saja ia akan mengajaknya untuk......


aaaahhhhhh


jeritan hati Vanilla yang begitu riangnya. ia pun mengangguk cepat menyetujui ajakan Aaron.

__ADS_1


" baiklah, kau tunggu sebentar. aku akan bersiap " Vanilla pun berlari kecil menuju kamarnya dengan senyum lebar di wajahnya.


hari ini adalah hari yang bagus fikirnya. ia tidak akan melewatkan kesempatan kali ini. ia akan membuat Aaron sangat menginginkan dirinya.


__ADS_2