Permata Hatiku

Permata Hatiku
Kau salah Mendengar.


__ADS_3

siapa ?


hei, menjauhlah jangan dekati aku !


hei, kau mau membawa ku kemana ?


sekali dua kali ia mencoba menarik tangannya agar terlepas dari genggaman sosok itu, tapi ia tetap tidak bisa melepaskannya.


apa yang kau lakukan !


lepaskan aku !


suaranya seakan angin kosong yang tak terasa. ia dapat berbicara tapi suara itu tertahan tanpa bunyi di setiap katanya.


lelah, sungguh itu yang ia rasakan karena semakin ia mencoba melepaskan dirinya, sosok itu akan terus menariknya.


jangan !


tolong jangan bawa aku !


" kau tidak akan aku biarkan pergi dariku ! " suara itu membuat Berlian menggigil ketakutan.


tidak tidak tidak !


jangan bawa aku !


jangaaaan !


" kau milikku, dan akan selamanya menjadi milikku ! " suara itu kembali bergema. Berlian menggelengkan kepalanya tidak ingin menyetujui permintaan suara itu.


kau, pembohong !


aku bukan milikmu !


hah hah hah, Berlian letih. nafasnya tersengal sengal, suaranya tetap saja tidak ada walaupun ia sudah berkali kali mencobanya.


sekali lagi, ia akan mencoba sekali lagi mengeluarkan suaranya. ia berharap kali ini suaranya akan menembus keluar.


jangaaannn !


dengan satu tarikan suara yang melengking memecahkan indera kesadaran Berlian. walaupun ia tidak bersuara, tapi matanya membuka sempurna.


silau cahaya lampu itu menyorot pada kedua bola matanya membuat pandangan matanya menghitam sejenak dan kepalanya terasa berat.


" sayang " satu kata membuat Berlian kembali menekan nafasnya dalam dalam.


ia takut, ia begitu takut. bahkan ia sendiripun tak sanggup untuk menoleh ke arahnya. ia hanya terdiam dengan pandangan lurus menatap langit langit kamar.


" akhirnya kau sadar. " ucap nya lagi dengan binar di matanya.


ia belai rambut Berlian kemudian ia kecup kening Berlian beberapa kali.


Berlian hanya diam dan kaku tanpa melihat.


ia tetap tidak ingin melihat pria itu.


" pergi ! " ucap Berlian tegas walaupun terdengar pelan.


tidak tidak, Aaron tidak ingin melepaskan Berlian kembali. ia bersikukuh tetap berada di samping Berlian. ia tidak ingin pergi.


" tidak tidak, jangan katakan itu ! " tolak aaron dengan mengecup beberapa jari jemari Berlian.

__ADS_1


ia sungguh tidak ingin menjauh dari Berlian.


" pergi ! " ucap Berlian kembali, kali ini dengan intonasi yang sedikit keras tapi tetap menekan.


Aaron menggelengkan kepalanya. ia tetap tidak ingin pergi dari sisi Berlian. " kau istriku ! jangan biarkan aku pergi darimu ! " ya ya, aku adalah suaminya lanjut Aaron dalam hatinya.


" aku bukan istrimu ! " Berlian mengingat bahwa dirinya bukanlah istri Aaron lagi. bahkan setiap hinaan itu masih membulirkan air mata di pipinya.


kepercayaan nya telah sirna, tapi cintanya sungguh saat ini masih berada pada dirinya.


dan itu membuat dirinya sakit, terpuruk dan terbelenggu.


ingin rasanya ia berteriak memaki sosok yang kini memeluk dirinya erat, tapi apalah daya tenaganya masih belum baik baik saja.


" kau masih istriku ! kau akan tetap menjadi istriku ! " Aaron pun belum menceraikan Berlian. kebodohannya itu belum sampai fatal pada ujungnya.


ia masih dalam keadaan tertolong untuk tidak menceraikan Berlian. sungguh Tuhan menolongnya walaupun kini ia harus berlutut memohon Berlian kembali padanya.


apapun caranya akan ia lakukan agar Berlian kembali bersamanya.


" dimana putraku ! " Berlian enggan untuk berdebat pada Aaron dimasa dirinya lemah. ia tidak ingin menguras tenaganya dengan dia sia.


" putra kita masih tertidur. " satu kata kembali membuat Berlian merasakan denyut di jantungnya.


" ka kau ! " bibir Berlian terasa tercekat.


tidak mungkin jika Aaron mengetahui bahwa kedua putranya adalah anak Aaron sendiri.


tidak tidak, ini mustahil.


" mereka putraku bukan putramu ! " bagaimanapun Aaron tidak perlu tahu bahwa mereka adalah putranya.


" Rean bukan Daddy mereka, jadi mereka putraku ! " sorot mata Aaron menghunus ke mata Berlian membuat dingin di sekujur tubuhnya.


nit


nit


nit


alat itu menangkap bahwa detak jantung Berlian naik dan cepat.


" ya mereka putramu dan putraku ! " kata Aaron dengan memperhatikan setiap buliran air mata yang membasahi pipi Berlian.


" kau tidak berhak atas mereka. " nafas Berlian tersengal sengal.


" me mereka putraku, aku yang melahirkan mereka. " naik turun dada Berlian membuat Aaron panik.


" sayang, tenanglah. jangan berbicara lagi ! " Aaron membekap mulut Berlian dengan jari telunjuk yang ia tempelkan di bibir pucat Berlian.


" mereka putraku ! mereka putraku ! " nafas Berlian masih tersengal sengal.


" mereka akan selamanya milikku, kau tidak bisa mengambil mereka dariku. " Berlian menekan dadanya yang kian sakit ia rasakan. tapi Berlian tidak kedua putranya jatuh ke tangan Aaron.


" kau Daddynya tapi kau tidak berhak atas mereka. " satu kata yang keluar begitu saja tanpa Berlian sadari dan itu membuat Aaron terdiam.


deg, kali ini Aaron yang merasakan jantungnya berdenyut. ia terkejut akan penuturan dari Berlian. ia tidak menyangka dirinya mempunyai putra.


niat hati ingin menekan Berlian untuk tidak pergi darinya dengan mengakui kedua putranya, kini ia yang terkejut bahwa kedua putra Berlian benar benar putranya.


aku ?

__ADS_1


pu putra ?


Aaron terhuyung ke belakang hingga kakinya membentur kursi dan duduk dengan kasarnya.


" pu putra. " gumannya pelan masih tak percaya bahwa dirinya mempunyai anak.


Ray ?


Elvis. guman Aaron pelan yang terdengar samar ditelinga Berlian.


Berlian yang seakan sadar dengan kesalahan dalam ucapannya tertegun kasar. ia pun menoleh ke arah Aaron yang masih menatapnya dengan pandangan tak menentu.


" ti tidak, a aku salah bicara. " Berlian menggelengkan kepalanya meralat ucapan dirinya.


Aaron masih diam dengan kedua siku tangannya ia letakkan pada kedua pahanya untuk menompang kepalanya yang ia letakkan di antara kedua tangannya.


Berlian hanya bisa menatap Aaron yang mendiamkannya dan kemudian ia menatap langit langit tak berani menatap kembali.


karena mata itu kembali ia, mata yang penuh penekanan sehingga membuat nya sesak dan tak sanggup untuk berkata.


" kau salah dengar, maksudku mereka bukan putramu tapi mereka putraku. "


*


*


*


*


" sejak kapan kau ada disini ? " pagi pagi sekali Elvis sudah menggoyangkan tubuh Ray yang masih terlelap.


beberapa kali Ray pindah posisi untuk menghindari dari gangguan Elvis. tapi Elvis tetap mengganggunya sehingga Ray pun dengan mata beratnya menatap Elvis.


" aku mengantuk. " hanya satu kata yang keluar dan Ray pun kembali memejamkan matanya.


" hei, jangan tidur lagi ! " Elvis kembali menggoyangkan tubuh Ray. kesal karena tidak ada tanggapan dari Ray, ia pun menggelembungkan Pipinya serta melipat kedua tangannya di depan dadanya.


" kau tidur, benar benar tertidur ? " tanya Elvis yang hanya di sahut dengan dengkuran halus Ray.


ck, tidurmu seperti kitten saja. kata Elvis dalam hatinya sambil menggelengkan kepalanya.


sunyi kembali karena Ray masih tertidur sampai membuat Elvis bosan. manik matanya kini melihat sekelilingnya yang belum ia lihat sepenuhnya saat pertama kali ia datang.


Elvis pun turun dari ranjang, ia pun mendekati sudut demi sudut kamar itu. warna yang cantik dan elegan membuat matanya terpesona.


bahkan tangannya tak sedikit meraba satu barang ke barang lainnya. dari sebuah patung, serta kursi di dekat jendela itu pun tak luput dari tangan kecilnya.


sampai akhirnya tangan kecil itu pun berhenti pada deretan foto yang rapih berada di sudut ruangan tersebut.


mata kecilnya membelalak dengan tangan yang mengatung menunjuk pada foto foto tersebut.


" mom~mommy ! " pekiknya saat melihat deretan foto Aaron dan juga Berlian disana. mata kecilnya terus memandang foto tersebut, dari yang hanya sendiri hingga foto mereka berdua.


" hei, kau kenapa ! " ucap Ray dengan mata pandanya menatap Elvis. bagaimana tidak, ia terbangun mendengar jeritan Elvis.


merasa Elvis tak menjawab, Ray pun menyibakkan selimutnya dan berjalan mendekati Elvis.


" hei, kau kenapa ! " Ray menarik bahu Elvis serta menggoyangkannya maju dan mundur ke belakang.


Elvis masih terkejut. ia hanya diam dengan jari telunjuknya yang bergetar menunjuk ke satu arah.

__ADS_1


Ray pun mengikuti arahan jari telunjuk Elvis. dan saat ia menangkap sesuatu, ia pun sama terkejutnya dengan Elvis.


" mom~mommy ? " Ray menutup mulutnya dan kemudian bersuara kembali. " paman ? mereka .... " Ray menggantungkan ucapannya masih belum mengerti apa yang ia lihat.


__ADS_2