
hari ini yang ia nantikan. Aaron sang suami telah kembali pulang.
Berlian yang baru tiba, ia langsung mencari keberadaan Aaron. dan kebetulan sekali Hans dalam waktu yang tepat sehingga ia tidak kesulitan mencari Aaron.
Hans menunjukkan bahwa tuannya kini sudah berada dalam kamarnya. dan Berlian pun bergegas menuju kamarnya.
gemericik air terdengar dari kamar mandi. Berlian pastikan itu suaminya lah yang tengah mandi.
Berlian pun bergegas menyiapkan pakaian yang santai untuk aaron dan meletakkannya di atas ranjang.
kini nampaklah Aaron keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terbungkus jubah mandinya.
" kau sudah pulang ? " tanya Berlian dengan senyuman diwajahnya.
Aaron menatap Berlian dan tak membalas sapaan Berlian. Aaron pun berjalan mengambil pakaian yang Berlian siapkan tadi dan memakainya tepat di depan Berlian membuat Berlian dengan gegas membalik ke sembarang arah.
wajah merah merona nampak jelas di pipi Berlian. walaupun sudah sering melihat seperti ini, tapi Berlian masih saja malu untuk melihatnya.
" apa kau sudah makan ? " tanya Berlian yang masih enggan untuk melihat Aaron. ia takut jika Aaron masih belum berpakaian lengkap.
menunggu lama tanpa jawaban, akhirnya Berlian pun menoleh ke arah Aaron tadi dan yang ia lihat hanya ruangan kosong tanpa Aaron.
" kemana ia ? " Berlian bertanya pada dirinya sendiri.
Berlian pun kembali mencari Aaron keluar kamarnya. dan betapa terkejutnya ia saat melihat di lantai dasar beberapa anak buah Aaron tertunduk dan terluka.
Berlian pun berjalan cepat mendekat ke arah mereka semua yang berada di lantai dasar.
" ada apa ini ? " pekik Berlian dengan melihat satu persatu wajah anak buah Aaron yang terluka.
mata Berlian membola sempurna saat mengenali mereka adalah orang orang yang tadi bersama dengan dirinya.
setahu Berlian tadi mereka baik baik saja, tapi mengapa saat ini mereka sampai seperti ini.
ditatapnya Hans dan kemudian Rao. mereka berdua yang di tatap hanya terdiam tanpa kata dan terlihat lebih dingin dari sebelumnya.
Aaron
kini Berlian memberanikan diri melihat wajah Aaron.
deg, ada rasa denyut d jantungnya saat melihat kilatan kemarahan dari wajah Aaron.
__ADS_1
Berlian memberanikan diri mendekat pada Aaron. makin mendekat makin terlihat pula buku buku kemarahan di wajah Aaron.
" tolong jelaskan ada apa ? " tanya Berlian.
Aaron kini menatap pada sosok utamanya. ia tatap Berlian dengan tajam membuat Berlian memundurkan langkahnya kebelakang.
" apa kau puas ? " tanya Aaron dengan senyum devilnya.
" puas ? puas apa ? " Berlian tidak mengerti apa yang Aaron maksud.
Aaron kembali menatap pada anak buahnya yang sedang duduk bersimpuh dihadapannya dengan luka lebam di tubuh mereka.
" jika aku melihat kelalaian kalian lagi saat menjaga istriku, maka nyawa kalian dan keluarga kalianlah yang menjadi taruhannya. " mereka semua pun mengangguk patuh.
tapi tidak dengan Berlian. ia tak suka Aaron begitu kejam dengan anak buahnya. baginya itu bukan kesalahan mereka. mereka sudah menjaganya dan itu murni bukan kesalahan mereka.
" mereka tidak bersalah. " suara Berlian membuat Aaron makin meradang.
" jadi menurutmu aku yang salah ? " ucap Aaron dengan suara yang dingin.
" bukan begitu. tapi mereka memang tidak bersalah ! " Berlian kembali membela mereka.
" waahh, kau berani menentang ku ? aku saja belum memberikanmu hukuman tapi kau sudah berani menentang ku ? "
hukuman ?
hukuman apa ?
Berlian terkesima akan kata hukuman. apa yang akan Aaron lakukan.
Aaron melirik ke arah Hans, Hans pun mengangguk patuh. dalam seketika ruangan itu hening dan sunyi tanpa ada seorang pun kecuali Aaron dan Berlian.
berdua dengan Aaron yang seperti ini membuat Berlian benar benar kehilangan oksigen nya.
memukulnya ?
jelas itu tidak mungkin karena adu kekuatan pun Berlian masih jauh dari masa terbangnya Aaron.
" kenapa ? " Aaron masih dengan menatap Berlian tajam.
Berlian terdiam dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" tolong jangan salahkan mereka. mereka benar benar tidak bersalah ! " Berlian masih membela anak buah Aaron membuat Aaron makin benar benar tak menyukainya.
Aaron berjalan mendekati Berlian di tatapnya manik mata Berlian dengan tajam sehingga membuat Berlian bergidik linu.
" jangan pernah membela mereka. mereka telah lalai menjaga mu sampai mereka bisa menyentuh dan memelukmu ! "
Berlian tersenyum getir. Aaron mengetahui siapa saja yang menemuinya.
Berlian memeluk tubuh kekar Aaron. ia berharap dengan cara memeluk Aaron, maka kemarahan Aaron akan mereda.
Aaron terdiam dan tak membalas pelukan Berlian. ia masih tak terima jika Berliannya ada yang berani memeluk dan menyentuhnya.
" jangan marah lagi ya. " bujuk Berlian.
Aaron masih diam dan belum membalas pelukan Berlian.
" dia yang memelukku bukan aku yang memeluk dia. " Aaron mengepalkan tangannya.
baiklah Berlian salah berbicara kali ini. Aaron benar benar marah. ia tak menyukai kata kata itu.
" hanya kau yang aku peluk. bukan dia atau yang lainnya. " baru kali ini Berlian membujuk prianya.
Berlian seperti menenangkan pria yang benar benar merajuk. lebih tepatnya seorang bayi yang merajuk pada ibunya.
" sudah tolong maafkan aku. " Berlian kini menatap wajah Aaron dengan mode memohonnya.
Aaron sempat melirik wajah itu dan membuat gejolak hati Aaron mereda.
saat ini ia benar benar ingin membawa Berlian masuk kedalam kamarnya dan meminta haknya. tapi ia masih ingin menghukum Berlian.
________________
...menuju puncak nieh guys....
...semoga kalian suka ya....
...jangan lupa tetap semangat ya....
...love untuk kalian semua....
...❤️...
__ADS_1