
tak terasa kini mereka telah tiba di mansion Aaron. dengan nyenyaknya Elvis tidur dalam pangkuan Aaron sehingga membuat Aaron mencubit kecil pipinya yang ia rasa cukup gemas itu.
Aaron pun menggendong tubuh kecil Elvis keluar dari mobilnya serta dengan hati hati ia pun membawa tubuh kecil itu ke dalam rumahnya.
" biarkan aku saja, tuan. " Hans merentangkan kedua tangannya hendak meraih tubuh Elvis. tapi Aaron menggelengkan kepalanya menolak untuk Hans menggendong Elvis.
saat melihat tubuh mungil itu tertidur dalam gendongannya, Aaron merasakan kehangatan dalam hatinya. seakan ia tak rela berbagi rasa nyaman itu pada siapapun.
" biarkan aku yang membawanya. " Aaron pun kembali berjalan menuju kamarnya dengan sedikit bantuan dari Hans yang membuka pintu kamar milik Aaron.
dengan hati hati Aaron meletakkan tubuh Elvis pada ranjang besar Aaron. ia pun melepaskan kedua sepatu Elvis dan menaruhnya di lantai.
selimut besar kini menutupi tubuh Elvis yang Aaron berikan, serta iapun membenarkan letak kepala Elvis di bantal agar terasa nyaman di gunakan Elvis.
Aaron pun tanpa sadar tersenyum lebar menatap Elvis. ia pun mengusap kepala Elvis dan mencium lembut dahi Elvis.
" Daddy hiks hiks " Elvis mengigau dengan sedikit menangis membuat Aaron pun ikut bersedih.
apa yang sedang di alami anak ini membuat Aaron ingin membalutnya dengan rasa cinta dan perhatian.
bahkan hatinya berandai andai. andaikan saja dulu ia percaya akan Berlian, mungkin ia akan mempunyai anak semenggemaskan ini seperti Elvis.
betapa bahagianya aku jika memiliki putra seperti mu.
Aaron masih enggan untuk pergi di samping Elvis. ia pun kini ikut terbaring disampingnya dengan sebelah tangannya ia raih tubuh kecil itu untuk ia peluk.
________
" apa kalian menemukannya ? " tanya Rean pada salah satu anak buahnya.
__ADS_1
ditengah hujan, Rean pun ikut andil dalam pencarian Elvis. ia tidak peduli dengan tubuh yang basah kuyup serta udara dingin akibat hujan.
yang ia inginkan adalah menemukan putranya. ia tidak ingin terjadi sesuatu pada putranya.
apalagi ia tidak ingin sampai Berlian tahu jika salah satu putranya telah hilang. maka itu akan semakin buruk keadaan Berlian.
" Elvis " teriak Rean dengan mencari Elvis dari satu jalan ke jalan lainnya. tapi suara yang menggemakan itu tidak membuahkan hasil.
oh tuhan dimana dia.
Rean kini duduk bersimpuh di tengah jalan. ia benar benar frustasi dan takut akan Elvis yang sendirian diluar sana.
" Tuan, jangan seperti ini. " salah satu dari mereka pun datang dengan sebuah payung di genggaman nya. ia pun berdiri dibelakang Rean dengan memayungi Rean.
tapi Rean nampak enggan untuk berdiri dan bangkit dari tempatnya. ia mendesah beberapa kali dan mengacak-acak rambutnya.
apa yang harus aku lakukan, bee.
walaupun lemah, ia masih bisa tersenyum hangat pada adiknya yang kini mau menemui dirinya.
" cukup. " Berlian menahan tangan Amey yang hendak ingin menyuapi dirinya sepotong buah apel yang sudah bersih dan di kupas kulitnya.
" tidak kau harus banyak makan, kak. " Amey memaksakan satu potong itu ke dalam mulut Berlian.
Berlian pun dengan terpaksa mengunyahnya kembali potongan yang sudah masuk ke dalam mulutnya.
Amey menatap bola mata Berlian dengan senyum tipis ke arahnya. sesaat ia terdiam mengingat akan ucapan Elvis.
" kak " satu kata dengan mata yang menatap dalam itu membuat jeda di antara mereka. mereka berdua diam dengan seribu bahasa mereka.
__ADS_1
akhirnya Berlian pun memutuskan tatapan mata itu dengan menatap ruang kosong di antara mereka.
ia mengerti jika Amey ingin mengetahui apa yang ia lalui. tapi Berlian tidak ingin menceritakan semua itu, karena semua itu akan terasa sangat menyakitkan.
" kak, " Berlian masih enggan untuk menatapnya membuat Amey membuang nafasnya kasar.
" apa benar putramu bukan anak kak Rean ? "
bak seperti tersambar petir, Berlian menegang serta hatinya memanas.
Berlian menoleh ke arah Amey, ia tak menyangka jika Amey mengetahui bahwa putranya bukan anak Rean. tapi bagaimana bisa ia mengetahuinya, sementara hanya ia, Rean dan Gustav yang mengetahui nya.
" a apa yang kau katakan. " ada getir di sudut nada bicara Berlian. manik matanya gelisah menatap Amey.
" sebelum aku kesini, aku bertemu dengan putramu kak. " ucap Amey dengan menaruh pisau dan piring itu ke atas nakas.
" kau tahu, putramu telah membuat putriku menangis. " ucap Amey kembali
putra ku ?
siapa ?
" dia berkata bahwa bagaimana jika Daddy mu bukan daddymu. " Amey tertawa kecil dengan sedikit menirukan gaya Elvis berbicara.
deg, jantung Berlian sakit. ia akan merasakan serangan jantung untuk kedua kalinya.
" siapa ? " Berlian meraih kedua lengan Amey dengan sedikit tekanan. hatinya begitu bergemuruh saat mendengar perkataan Amey.
ini tidak mungkin bukan, siapa yang memberitahunya.
__ADS_1
" awwww, kak ini sakit. " keluh Amey saat merasakan kuku kuku Berlian yang menancap di kulitnya.