
aarrrrgghh, leguhan keluar dari mulut Rean saat dirinya mulai sadarkan diri. ia merasakan tenggorokannya terasa kering kerontang.
ia meraba nakas di sebelah ranjang miliknya untuk mengambil segelas air. tapi karena kepalanya yang terasa berat, Rean kesulitan untuk mendapatkan air.
setelah berhasil ia meraih gelas itu, kemudian ia pun menenggak habis air yang berada dalam gelas tersebut.
" kepalaku sungguh sakit. " keluh kecil Rean saat dirinya menghempaskan kembali tubuhnya pada ranjang Miliknya.
ia pun memijit dahinya dengan jari jarinya untuk meringankan rasa sakit di kepalanya.
braaaakkk, Rean menoleh ke arah pintu yang di buka paksa oleh Gustav. langkah kaki Gustav pun terasa lebih menggema dari sebelumnya. ia terlihat seperti menahan amarah dari guratan guratan wajahnya.
" ada apa ? " tanya Rean saat Gustav sudah berdiri tepat di depannya.
" kau bodoh ! " satu kata itu mampu membuat Rean terdiam. di tatapnya lagi wajah Gustav yang benar benar marah pada dirinya.
" semua sudah selesai. " apanya yang sudah selesai Rean belum mengerti. " kau mengacaukan semuanya. dan semuanya sudah terbongkar. " Rean masih mencoba mencerna ucapan Gustav.
" aku akan membawa anak anak serta adikku. " apa yang ia katakan tadi, membawa anak anak serta berlian.oh itu tidak mungkin. pun akhirnya Rean tersadar dari pengaruh minuman setelah lama mencerna ucapan Gustav.
ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan berupaya menghampiri Gustav walaupun tubuhnya masih terasa sedikit melayang.
" kau tidak bisa mengambil mereka. Mereka putraku ! " ucap Rean dengan tegasnya. walau gimanapun ia tidak ingin kehilangan semuanya.ya ia tidak ingin Berlian serta kedua putranya meninggalkan dirinya.
" kau bukan ayah mereka. " kata Gustav membuat Rean semakin tak suka. walaupun ia bukan ayah dari keduanya tapi ia sangat menyayangi keduanya. baginya mereka adalah putranya.
Rean geram dan mengambil kerah baju Gustav serta siap untuk melayangkan pukulannya. " pukullah, dan aku tetap akan mengambil mereka kembali ! " Gustav mencondongkan pipinya pada Rean.
__ADS_1
Rean menahan diri serta memukul udara kosong di hadapannya. " hah, kau tidak akan ku biarkan membawa mereka. " tidak, Rean tidak mau melepaskan mereka yang sudah menjadi miliknya.
" dan kau telah membuat adikku dalam bahaya. " apa yang telah ia perbuat ia tidak tahu. hanya ia bisa membaca dalam guratan wajah Gustavlah yang menjelaskan bahwa semua tidak baik baik saja.
dan Gustav pun mengingat bahwa saat ini suasana telah kacau dan itu akibat dari Rean. bahkan kedua adiknya pun telah bersitegang karena ucapan bodoh Rean yang sedang mabuk.
_________
di rumah sakit terbaring lah Berlian dengan wajah yang pucat Pasih serta dahi di penuhi peluh yang keluar dari pori pori kulitnya.
ia gelisah, ia tidak tenang. dalam keadaan yang tidak sadarkan diri ia terus saja mengigau kecil. memanggil nama Amey serta maaf yang sering ia ucapkan.
" maafkan kakak, maaf. " kata yang berulang ulang keluar dari bibir Berlian yang pias dan bergetar lemah.
" jangan, ku mohon jangan membenciku. " kata Berlian lagi dengan sedikit Isak di sela selanya.
dokter itu menghela nafasnya berat saat melihat kondisi Berlian yang kian melemah itu.
" kau lihatlah sendiri apa yang terjadi. " ucap dokter itu pada seseorang yang sedari tadi ikut bersamanya. pria itu berdiri di dekat pintu dengan tangan yang ia masukkan ke dalam kantong celananya.
pria berpakaian sebagai petugas dengan topi serta masker menutupi wajahnya berjalan perlahan dan tegap mendekati Berlian.
pria itu pun duduk di samping Berlian dan meraih tangan itu dengan perlahan, seakan ia menjaga agar tangan itu tidak terluka. karena ia dapat melihat tangan itu sangat rapuh dan ringkih.
" jangan seperti ini. kumohon jangan " pria itu mencium tangan Berlian dengan lamat, setelah itu ia mencium dahi Berlian dengan air mata yang menganak di sudut matanya.
setelah lama terdiam dan tidak ada suara, " aku akan membawa mu pulang. " dokter itu pun terkejut dengan apa yang di ucapkan pria itu. ia mengijinkan pria itu untuk menjenguk Berlian, bukan untuk membawanya pergi.
__ADS_1
" apa yang kau lakukan ! " dokter itu menarik bahu si Pria saat pria itu hendak membopong tubuh Berlian. " kau tidak boleh membawanya. " dokter itu takut jika pria itu benar benar ingin membawa si pasien.
" aku akan membawa istriku pulang. " pria itu menepis tangan si dokter dengan kasarnya. pun ia melanjutkan untuk membawa Berlian pergi.
" jangan gila ! kau tidak boleh membawanya ! " dokter itu lagi lagi menghalangi pria itu yang hendak membawa Berlian. " aku membawamu kesini bukan untuk membawanya pergi. " ucap dokter itu lagi.
" tidak, aku akan tetap membawanya pergi. aku tidak ingin kehilangan dirinya. " pria itu sama keras kepalanya dari si dokter.
dokter itu pun mulai berfikir untuk menenangkan si pria agar ia tidak membawa Berlian pergi. jika sampai pria itu membawa Berlian pergi, maka habislah ia dengan kemarahan Gustav.
" apa kau akan yakin akan membawanya ? " tanya dokter itu dan pria itu mengangguk mengiyakan pertanyaan si dokter.
" dan kau akan menempatkan dia pada neraka yang ada di sekitarmu ? " tanya dokter itu lagi membuat si pria menghentikan kegiatannya.
berhasil, dokter itu mulai bisa bernafas sedikit melihat perubahan wajah pria itu.
" jika kau ingin meletakkan ia pada nerakamu, maka bawalah. " pria itu masih terdiam " tapi aku sarankan agar kau mencari siapa orang yang ingin mencelakainya sebelum kau membawanya. " kata dokter itu lagi.
pria itu melupakan untuk membereskan seseorang yang telah berani mencelakai wanitanya.
dokter itu benar, ia harus membereskan semuanya sebelum ia membawa wanitanya. ia tidak ingin wanitanya pergi darinya lagi.
" dan ingatlah, ia pun sudah punya dua anak. " pria itu melupakan kedua putra Berlian.
Berlian saat ini telah mempunyai dua anak. pun kedua putra itu merupakan anak dari Rean.
sial ! beraninya pria itu menyentuh istriku !
__ADS_1