
kabar kehidupan Berlian pun dengan cepat menyebar. bahkan tak sedikitpun yang tak dapat informasinya.
begitu juga dengan Ruby, ia begitu benci takdir Berlian. ia tidak menyukai kehidupan Berlian, baginya itu adalah duri dalam hatinya.
apalagi saat ia tahu bahwa Berlian pun telah memiliki kedua putra, hatinya benar benar mendidih mendengarnya.
nasib tak adil baginya. Berlian bahagia dengan kedua putranya, sedangkan ia masih mencari keberadaan bayinya yang saat ini entah dimana.
bukan hanya Ruby, Vanilla yang melihat sendiri sosok Berlian berdiri dihadapannya. ia tak menyangka jika istri dari Rean itu adalah Berlian.
wanita yang masih bersemayam di hati Aaron, kini hadir di depan matanya. dan itu semakin membuat nya membenci Berlian.
ia tidak menyangka jika kejadian waktu itu Berlian benar benar dapat selamat. keajaiban apa yang dia miliki sampai dia masih bisa berdiri di hadapannya.
bahkan saat itu yang ia dapat, Berlian tengah sekarat dan tak berdaya dengan timah menembus di tubuhnya.
Ruby dan Vanilla sama sama membenci Berlian. mereka kini tengah merasakan amarah meledak ledak di tempat mereka masing masing.
" wanita j****g ! "
" j****g ! " teriak Ruby dan Vanilla bersamaan dengan amarah yang membara di tempat mereka masing masing.
sementara itu, Elvis duduk termenung di sebuah bangku panjang yang menghadap taman kota. ia menghela nafas panjang lagi dan lagi.
" kakak tampan ! " suara kecil melengking itu berasal dari gadis kecil dengan rambut berponi bak Barbie. nampak Elvis dapat lihat gadis itu melambaikan tangannya dan berlari ke arahnya.
" apa yang kau lakukan disini, kakak tampan ? " masih kecil saja sudah berani merayu dengan sebutan tampan pada lawan jenis, bagaimana nanti sudah dewasa. pertanyaan itu muncul begitu saja di benak Elvis.
gadis kecil itu melompat untuk duduk di sebelah Elvis serta mengayunkan kaki kecilnya yang menari nari menendang angin.
__ADS_1
" kakak tampan " senyum mengembang milik gadis kecil itu membuyarkan lamunan Elvis.
" aku hanya ingin duduk disini. " jawab Elvis dengan memandang luas. pun gadis itu masih menatap Elvis dengan sesekali memainkan rambutnya yang tergerai bergelombang itu.
" baiklah, aku akan menemanimu, kakak tampan. " kata gadis kecil itu. Elvis hanya diam dan tak menjawab. terserah saja dia mau duduk menemani nya atau tidak, ia tidak peduli.
lagi lagi Elvis menghela nafasnya berat. manik matanya mulai berkaca-kaca, ia sepertinya akan menangis. tapi ia tidak ingin menangis di depan gadis kecil yang sedari tadi memperhatikannya.
" kakak, apa kau ingin menangis ? " gadis kecil itu ternyata merasakan kesedihan Elvis.
" No, aku tidak menangis ! " Elvis membuang mukanya untuk menggerecap matanya agar tidak berlinang lagi.
" oh, baiklah. apa kau terkena debu dimatamu ? " gadis itu melompat dan berdiri di hadapan Elvis.
Elvis terkejut dengan wajah gadis itu yang berjarak dekat dengannya. ia pun menoleh ke arah lain untuk menghindari kontak dari si gadis kecil itu. tapi gadis kecil itu terus saja mengikuti pergerakan wajahnya.
" aku hanya ingin melihat debu di matamu. " ucap gadis kecil itu. " kata mommy jika mata mu ingin menangis itu, kalau tidak sedang sedih berarti mata mu sakit terkena debu. "
debu mana yang akan membuat dadaku sesak ! , kata Elvis dalam hatinya. ia menggerecap menatap mata gadis kecil itu yang terus saja tersenyum padanya.
" kau, tidak terkena debu. tapi kau sedang sedih. " gadis kecil itu berkacak pinggang dengan bangganya karena ia telah berhasil menebak danmembuat Elvis kalah telak.
Elvis sudah tidak bisa lagi mengelak, ia hanya bisa tersenyum tipis ke arah gadis kecil itu. " kau tidak akan mengerti. " Elvis menundukkan kepalanya dan melihat kaki kaki kecilnya.
" apa yang tidak aku mengerti, kakak tampan ? " gadis itu kali ini berjongkok dengan melihat wajah Elvis yang kian murung itu.
hembusan nafas kasar lagi lagi Elvis keluarkan. ia memukul mukul dada nya yang semakin terasa sakit olehnya.
Elvis pun kembali menatap mata gadis kecil itu. " apa jadinya bila kau tahu Daddy mu bukan Daddy mu ? " tanya Elvis padanya membuat mata kecil gadis itu membulat.
__ADS_1
" No, itu tidak mungkin ! " gadis itu berdiri dan mundur beberapa langkah dari Elvis.
gadis kecil itu terkejut jika Elvis berkata bahwa Daddynya bukanlah Daddynya. pemikiran gadis kecil itu mulai merespon yang tidak tidak dengan perkataan Elvis.
" dia daddyku ! " ucap gadis kecil itu dengan gemetar. Elvis melihatnya akan segera menangis.
dan benar saja, gadis kecil itu pun akhirnya menangis. " huuuaaaahhh, Daddy ! " teriak gadis itu dengan tangisannya yang mengundang banyak perhatian. Elvis panik melihat tangisannya, ia melirik kesana kesini melihat apakah ada orang yang melihat atau tidak.
dan ternyata banyak mata memandang ke arah mereka. bahkan tak sedikitpun mata itu seakan menghujam pandangan tak suka pada Elvis.
" hei, hentikan tangisanmu. " pinta Elvis pada gadis kecil itu. ia menggaruk kepalanya dan menjambak Jambak rambutnya. ia tak menyangka jika ucapannya akan membuat gadis kecil itu meraung dan menangis seperti ini.
seharusnya lah ia yang menangis, tapi mengapa malah gadis kecil itu yang menangis.
" kau jahat, kau tidak tampan ! " gadis itu masih menangis.
Amey yang baru saja tiba melihat putrinya menangis, langsung berlari ke arah putrinya dengan cemas.
" hei, kau kenapa sayang ? " tanya Amey dengan memeluk Putrinya. ia begitu khawatir melihat putrinya yang menangis dan tak kunjung mereda.
" apa aku bukan anak Daddy, mom ? " tanya gadis kecil itu pada Amey.
Amey mengurai pelukannya dan menatap putri kecilnya itu. ia begitu bingung apa yang di katakan oleh putrinya. bagaimana bisa putrinya berkata bahwa Rao bukanlah Daddynya.
" apa yang kau katakan. mana mungkin daddy bukan daddymu sayang. " Amey kembali memeluk Putrinya. ia menepuk nepuk punggung putrinya untuk menenangkannya.
" tapi tapi, Kakak tampan yang sudah tidak tampan lagi yang bilang, mom. " Amey melihat jari telunjuk putrinya menunjuk ke arah Elvis. pun Elvis hanya bisa menelan Salivanya dengan kasar saat Amey memperhatikan dirinya.
'matilah aku ! ' guman Elvis dalam hatinya.
__ADS_1