Permata Hatiku

Permata Hatiku
Kasih Sayang


__ADS_3

awwww, sakit !


berulang kali Berlian merintih saat Rean mengobati kakinya yang terkilir. tak sedikit pula rambut Rean yang terlepas dari kulit kepalanya saat Berlian menarik dengan kencangnya.


" kenapa bisa seperti ini ? " tanya Rean dengan masih mengobati kaki Berlian.


" hanya kecelakaan kecil. " jawab Berlian santai membuat Rean menatap kesal.


" kita ke rumah sakit sekarang ! " Rean pun berdiri dari tempatnya dan bersiap mengangkat tubuh Berlian jika saja Berlian tidak menahannya.


" No ! aku tidak apa apa ok ! " Berlian melarang Rean untuk membawa dirinya.


" jika tidak apa apa kenapa kau merintih seperti itu ! " Rean menggeretakkan giginya menahan kesal.


" raaaayyy ! " Berlian membulatkan matanya saat Rean berteriak memanggil putranya.


" apa yang kau lakukan ! " Berlian memukul bahu Rean dengan kain yang ia gunakan tadi untuk mengompres kakinya.


" aku akan bertanya pada anak anak. " saat Rean ingin berteriak kedua kalinya, Berlian membekap mulut Rean dengan kedua tangannya.


" mereka tidak tahu apa apa. jangan buat mereka cemas ! " memang kedua putranya itu sama tidak tahunya dengan Rean saat dirinya hampir tertabrak.


awwww, Berlian mengusap keningnya yang sakit saat Rean menyentak keningnya.


" ini sakit ! " ucap Berlian dengan mengusap ngusap keningnya.


" kenapa kau selalu tidak berhati hati ! " Rean mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening Berlian yang mulai nampak memerah.


" sudahlah aku mengantuk ! " Berlian menepis tangan Rean dan mendorong sedikit tubuh Rean membuka jalan.


" kau mau kemana ? " Rean menahan tubuh Berlian yang hendak melompat dari atas meja.

__ADS_1


" ke kamarku ! "


" heeeii, apa yang kau lakukan ! " Berlian kembali terkejut saat dirinya di bawa oleh Rean.


Rean membawa tubuh Berlian melewati anak tangga untuk ke kamar Berlian. tepat di depan pintu kamar Berlian, Rean meminta Berlian untuk membukanya.


setelah pintu terbuka, Rean menendang pelan pintunya agar terbuka penuh. Rean pun berjalan masuk mendekati ranjang putih susu itu dan di letakkannya Berlian disana.


" untuk saat ini kau tidak di perbolehkan turun dari ranjang mu. " ucapan Rean membuat Berlian mengerucutkan bibirnya tak suka.


Rean merasa gemas saat bibir itu begitu imut. ingin rasanya menyentuh dan ******* bibir Semerah buah Cherry itu.


" baiklah, kau menang. dan sekarang kau pergilah ke kamarmu. " Rean masih berdiri menatap Berlian dan enggan untuk pergi keluar dari kamar Berlian.


" kenapa kau masih disini ? " tanya Berlian yang ditulikan oleh Rean. dia lebih memilih duduk di ranjang yang sama dengan Berlian membuat Berlian menggerenyit aneh.


" kau tidurlah, aku akan tetap disini. " Rean menjatuhkan tubuhnya terlentang dengan menatap langit langit.


Berlian hanya mampu menggeser tubuh Rean beberapa jarak karena tubuh Rean yang berat.


" kenapa tidak bisa tidur bersama ? " Rean merubah posisinya menatap Berlian dengan menopang kepalanya dengan tangan kanan.


" kau ! " Berlian kesal mengepalkan tangannya dan memukul udara.


" ayolah jangan seperti ini, kau keluarlah ! " Berlian kembali meminta Rean untuk pergi meninggalkan dirinya.


Rean mendesah pelan dan menggelengkan kepalanya. pria keras kepala ini tidak ingin keluar dari kamar Berlian.


" menikahlah denganku ! " Rean menatap wajah cantik Berlian dengan penuh keinginan.


sudah kesekian kalinya Rean meminta Berlian menjadi istrinya. tapi Berlian selalu saja menolaknya.

__ADS_1


Rean tahu di dalam hati Berlian masih ada lelaki itu. tapi ia tetap berharap jika Berlian mau membuka sedikit hatinya untuk dirinya kembali.


" Re ... aku ... " sungguh Berlian belum bisa menerima Rean kembali. bahkan suara penolakan nya begitu tercekat di tenggorokannya.


" sudah kau tidurlah ! aku akan tidur di sofa " Rean menunjuk sofa yang di sudut kamar Berlian dengan menaikkan dagunya.


Berlian terdiam menatap Rean yang perlahan bangkir dari ranjangnya dan beranjak mendekati sofa panjang itu.


maafkan aku !


baru saja mereka akan mulai untuk tidur, Ray dan Elvis datang ke kamar Berlian dengan Elvis yang memegang mainannya.


nampak raut wajah keduanya dengan rasa kantuk terlihat jelas. Elvis berulang kali menguap dan mata begitu berat untuk terbuka.


" Daddy, ada apa memanggil kami ? " tanya Ray berjalan mendekati Rean. pun Elvis ikut melangkah dibelakang Ray.


" kalian sudah tidur ? " tanya Rean pada keduanya. dan Elvis terbaring kembali di atas pengakuan Rean. Ray dan Elvis mengangguk kepalanya membenarkan ucapan Rean.


" maafkan Daddy yang sudah membangunkan kalian. " Rean mencium kepala keduanya dengan bergantian.


rasa sayang Rean kepada keduanya begitu terlihat dan terasa nyaman sehingga membuat hati Berlian begitu tercubit perih.


Berlian tersenyum tipis melihat mereka. melihat Rean yang memeluk keduanya dengan rasa sayang.


apa aku terlalu egois untuk tidak menerima kehadirannya ?


mereka membutuhkanmu, tapi hatiku sungguh sulit melupakan pria itu.


berilah aku waktu sedikit saja agar aku bisa melupakan sosoknya.


aku harap takdir tidak memainkan perasaan kita.

__ADS_1


__ADS_2