Permata Hatiku

Permata Hatiku
Menatap Keduanya


__ADS_3

dua mobil bukan, tapi lebih dari dua mobil kini melaju dengan kecepatan sedang menuju mansion Aaron.


satu mobil berisikan Berlian, Rao, Ray dan Amey. kemudian satu nya lagi Rean yang menyusul dengan kendaraanya sendiri, serta Gustav dan beberapa anak buahnya dalam satu mobil.


malam itu menjadi saksi kebisuan diantara mereka. bahkan raut wajah mereka nampak diam membeku dengan fikiran mereka masing masing.


Rao yang menyetir kendaraannya, beberapa kali mengecek keadaan Berlian dari pantulan kaca spion dalam mobilnya. ia lihat nampak wajah itu kian hilang cahayanya.


Rao sungguh takut akan keadaan Berlian, ia takut sewaktu waktu Berlian tidak akan sadarkan diri. Rao pun akhirnya menginjak pedal gas nya lebih dalam lagi untuk mempercepat laju kendaraannya.


sementara itu Aaron yang berada di mansion miliknya, masih duduk terdiam tegang mengkhawatirkan keselamatan Berlian.


di tambah hari sudah malam dengan disertai hujan badai sehingga menambah rasa kekhawatiran Aaron .


kau harus baik baik saja. Aaron ******* ***** kedua tangannya dengan erat sehingga nampak basah karena keringat dingin yang keluar dari pori pori kulitnya.


Aaron takut, ia sungguh takut. bahkan suara Berlian yang menjerit pun masih membayangi dirinya.


" tuan ! " Aaron mengadahkan kepalanya menatap Hans yang berdiri di hadapannya.


" mereka telah datang, tuan. " ucap Hans dengan ragu ragu.


Aaron yang mendengar kedatangan Berlian pun langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju pintu utama. namun baru beberapa langkah kakinya berlari, Aaron melihat Berlian masuk dengan berjalan di rangkul oleh amey dan juga Rao.


mata Aaron nampak memerah dan berkaca kaca saat melihat tubuh Berlian yang ringkih. pun ditambah wajah cantik yang biasa terlihat, kini nampak pucat Pasih.


" siapkan ruang medis. " teriak Aaron. dan mereka pun berlarian mempersiapkan alat alat medis dalam ruangan yang biasa Aaron gunakan untuk keadaan darurat.


Aaron berjalan cepat menghampiri Berlian. dengan satu tarikan, Berlian pun kini pindah dalam genggamannya.

__ADS_1


" jangan sentuh istriku ! " teriak Rean dari ujung sana. Rean yang baru saja tiba di pintu utama, melihat Aaron memeluk Berlian dan itu membuatnya tak suka jika Berliannya di sentuh oleh Aaron.


" dia istriku ! " tegas Aaron dengan menatap tajam Rean. ia tidak mau sandiwara ini terus dilanjutkan, karena sejatinya Berlian tetaplah Berlian istrinya bukan istri Rean. dan menurut Aaron, Rean tak berhak atas kepemilikannya.


Rean mendekat ke arah Berlian dan Aaron. ia ingin merebut kembali Berlian nya. ia tidak ingin Berlian nya di ambil kembali oleh Aaron.


sementara Berlian ia tidak ingin berada di keduanya. ia hanya ingin anaknya, kedua anaknya ada bersamanya dan tak lepas lagi dalam genggamannya.


mata Berlian berayunan seakan mencari sesuatu di setiap ruangan tersebut. Berlian mencari keberadaan Elvis putranya, karena Berlian tidak dapat menemukan Elvis di setiap matanya memandang sudut demi sudut.


" di dimana putraku. " bisik Berlian di telinga Aaron pelan, karena Berlian sudah tidak dapat berbicara banyak. semakin mengucap rasa sakit itu semakin menekan.


" jangan fikirkan itu. kau sebaiknya beristirahat biar dokter memeriksa keadaanmu terlebih dahulu. " disana tak jauh dari mereka, para dokter dan perawat sudah berdiri sejajar menunggu perintah dari Aaron.


melihat Aaron yang hendak menggendong Berlian, Rean menghalanginya dengan mencekal tangan Aaron.


" lepaskan ! " kata Rean dengan meninggikan suaranya dengan menghentikan gerakan tangan Aaron.


" kau tidak berhak menghalangiku. " Aaron sama sekali tidak ingin melepaskan Berlian. ia mengangkat tubuh Berlian dan membawanya menuju ruang yang sudah ia siapkan untuk perawatan Berlian.


" ti tidak, a aku .... " belum sempat Kalimat itu terucap penuh, Berlian sudah tak sadarkan diri. dan itu membuat Aaron bahkan yang lainnya panik.


Aaron pun mempercepat langkahnya menuju ruangan tersebut. disana nampak semua tim medis mempersiapkan semuanya.


dengan hati hati Aaron meletakkan tubuh Berlian. setelah yakin ia pun memberi jalan pada tim medis yang sudah ia siapkan untuk menjaga jaga kondisi Berlian.


Tim medis pun berupaya menyelamatkan Berlian. mereka ada yang memsangkan selang oksigen untuk membantu pernafasan Berlian, ada juga yang memasangkan alat elektroda untuk di sambungkan pada monitor hemodinamik yaitu untuk memastikan gelombang denyut jantung Berlian, serta memastikan asupan oksigen yang di serap oleh tubuhnya. dan yang lainnya melakukan hal yang seharusnya di lakukan.


Aaron yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Berlian ditangani, membuatnya terduduk lemas dan tak bertenaga.

__ADS_1


hatinya sungguh sakit,


sakit dan remuk melihatnya.


melihat orang yang ia sayangi kini tengah terbaring tak sadarkan diri dengan alat yang di pasang pada seluruh tubuhnya.


bagaimana bisa tubuh yang begitu luar biasa hebatnya, kini telah rapuh di depannya.


" kau lihat, inilah perbuatan mu ! " Rean sudah tidak bisa menahan amarahnya.


Rean pun menarik kerah baju Aaron membuat Aaron bangun dari duduknya. dan Aaron pun sedikit terhuyung ke depan karena tarikan kasar Rean.


" kau adalah penyebab dari semuanya ! " Rean meluapkan ke kesalannya dengan cara menyalahkan Aaron. nafas Rean terlihat seperti memburu, ritme nafasnya pun nampak naik dan turun dengan cepat.


Aaron yang merasa tidak terima, ia pun melepaskan dirinya dari genggaman Rean. kini dua pasang mata itu pun saling bersahutan dengan tatapan tajam mereka masing masing.


" hentikan ! " Amey mendorong Aaron dan Rean menjauh dengan kedua tangannya.


" tolong hentikan. " teriakan itu sedikit bergetar. Amey ingin menangis


dan akhirnya ia pun menangis. air matanya pun tak tertahan lagi saat melihat perselisihan antara Rean dan Aaron di tengah kondisi Berlian yang benar benar entah seperti apa.


" bisakah kalian tenang ! " Amey terduduk merosot. ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Amey menangis menjerit, ia menangis benar benar menangis. karena ia sungguh khawatir akan hidup kakaknya.


" kakak " sela Amey dalam tangisannya.


kini mereka terdiam tak berkata. kini hanya terdengar suara Amey yang menangis di temani oleh Ray yang duduk memeluk Amey. anak kecil itu terdiam, dia hanya diam mendengarkan setiap ucapan kata per kata yang keluar dari mulut orang dewasa.

__ADS_1


walaupun ia tak berbicara, mata Ray terus saja memperhatikan dua orang yang sedari tadi memperebutkan mommynya. dan itu yang ia lihat adalah Aaron yang sedang duduk di lantai dengan kepala yang menunduk, serta ia melihat Rean yang berdiri bersandar di dinding dengan wajah yang mengadah ke atas.


__ADS_2