Permata Hatiku

Permata Hatiku
Suasana Baru


__ADS_3

Ruby dengan raut wajahnya yang bersedih, kini berjalan ke arah kamarnya. Ruby kini duduk di sisi ranjang tidurnya.


braaakk


pintu kamar dibuka paksa oleh Amey. Amey berjalan tergesa gesa ke arah Ruby dengan amarahnya.


" dasar jal*ng " hardik Amey dengan menunjuk ke arah wajah Ruby.


Ruby terdiam menatap Amey yang tengah dirundung amarah.


" sudahlah aku tahu wajah busukmu itu ! aku tahu apa yang sedang kau rencanakan ! "


Ruby yang bersedih, kini perlahan tertawa pelan. Amey memperhatikan perubahan wajah itu.


" kau benar. aktingku sungguh tidak bagus " Ruby kini tersenyum sinis ke arah Amey.


Amey menggertakkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya. " apa mau ! " tanya Amey dengan menaikkan nada bicaranya.


Ruby mengangkat sudut bibirnya. " aku mau semua yang dimiliki oleh dia " jawab Ruby dengan nada enteng.


Amey yang amarah melayangkan sebuah tamparan diwajah Ruby, tapi Ruby yang cepat sehingga berhasil menggenggam tangan Amey.


" kau ingin memukulku ? " Ruby mendekatkan diri pada Amey " jika kau memukulku berarti kau juga menyakiti keponakanmu yang ada di dalam kandunganku ini " ucap Ruby dengan mengelus perutnya yang masih rata.


Amey pun memperhatikan gerakan tangan Ruby yang sedang mengusap perut itu.


" kau sama liciknya dengan ibu mu. sama sama jal*ang " Amey tersenyum menghina Ruby.


plaak


satu tamparan tepat mengenai wajah cantik Amey. Amey memegang pipinya yang terasa kebas itu serta memperhatikan Ruby dengan tatapan membunuh.

__ADS_1


" jaga ucapanmu anak tak tahu diri ! " ucap Ruby dengan amarah. dadanya naik turun meletupkan amarah itu.


" kaaauu... " tunjuk Amey geram.


Amey menarik rambut Ruby dengan kasar sehingga terdengar sebuah ringisan kesakitan dari mulut Ruby.


" seharusnya kau menyadari perbuatan mu itu. jika kau berani menyakiti kakakku seujung kuku lagi, maka aku pastikan hidupmu benar benar tamat. " bisik Amey dengan penuh penekanan.


Amey kini melempar Ruby ke ranjang tidur itu. " fikirkan itu baik baik. " ucap Amey sebelum pergi meninggalkan Ruby.


Ruby berteriak meluapkan amarahnya. matanya mendidih penuh rasa dendam.


" aku tidak akan membiarkan apapun menjadi miliknya ! " ucap Ruby dengan penuh kebencian.


*******


Berlian yang dibawa pergi oleh Rean, memintanya untuk mengantarnya kembali ke apartemennya.


Berlian berjalan kearah kamar mandi, memutar keran air. seketika air itu membasuh tubuh Berlian.


Berlian duduk memeluk kedua kakinya meluapkan air matanya. sungguh sesak yang ia rasakan.


menangis dibawah guyuran air itu hal yang tepat fikirnya. karena dengan itu semua tidak mengetahui kesedihan dalam dirinya.


dua jam sudah Berlian duduk dibawah guyuran air itu. kini tubuhnya mengkerutkan menggigil, wajahnya pucat, bibirnya membiru. tapi dia enggan untuk menyudahi itu.


Gustav yang datang ke apartemen Berlian membelalakkan matanya melihat tubuh ringkih adiknya dibawah guyuran air.


diambilnya sebuah handuk untuk menyelimuti adiknya dan mengangkatnya ke ranjang tidur milik Berlian.


dipanggilnya sang pelayan wanita untuk digantinya pakaian Berlian.

__ADS_1


setelah pelayan itu mengganti pakaian Berlian, Gustav datang duduk di sisi ranjang. ditatapnya senduh wajah sang adik yang sedang tertidur pulas.


" maafkan aku yang membiarkanmu terlarut dalam beban ini. aku akan selalu menjagamu mulai saat ini " janji sang kakak.


*


*


*


*


setelah memastikan keadaan Berlian membaik, Gustav membawa Berlian pergi menggunakan pesawat jet pribadinya. dia ada tekat untuk membuat kehidupan Berlian lebih membaik. Gustav menghubungi sahabat baik adiknya Tasya, untuk mengatur semua kerjaan yang ada disini. Tasya pun mengerti semua ini demi kebaikan Berlian.


Amey sang adik pun diberi tahu bahwa sang kakak akan dibawa oleh keluarga Lewis. karena sang ayah meminta Berlian untuk berada disana. Amey mendukung keputusannya itu dengan syarat sesekali Amey diperbolehkan untuk mengunjungi kesana.


Berlian tersadar dari pingsannya, ternyata Berlian tidak tidur tapi pingsan karena terlalu lama berdiam di air membuat kesehatannya menurun.


Berlian terkejut ini bukan di apartemennya melainkan disebuah kamar berada di kabin pesawat.


Berlian menoleh ke arah seseorang yang baru saja masuk dengan seorang perawat serta pramugari dibelakangnya.


" kau sudah sadar ? apa kau baik baik saja ? " tanya Gustav yang duduk di kursi sebelah ranjang.


Berlian menganggukkan kepalanya. " aku baik baik saja. " jawab Berlian dengan sedikit senyum di bibirnya.


" aku akan membawamu pulang ke rumah keluarga Daddy. aku harap kau tidak keberatan. " Berlian sedikit terdiam dan berfikir.


" baiklah " Berlian menerima jawaban itu.


" suasana baru, lembaran baru. " ucap Berlian tersenyum membuat Gustav ikut tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2