Permata Hatiku

Permata Hatiku
Ruby atau Amey


__ADS_3

Usai sudah acara liburan panjang di tempat masa indah itu. kini mereka semua kembali pada aktifitas semula. Amey dan Arnold mulai masuk kuliah kembali, Berlian dan Tasya masih sibuk dengan pekerjaannya.


walaupun Amey menyusul sang kakak, mencoba memohon meringankan hukuman tapi sang kakak tetap tak luluh sedikit pun.


Diordan dan Ragis Kini mereka sedang terbang ke sebuah negara F untuk menjalankan bisnis selama dua Minggu. baru tiga hari terbang ke negara yang sedang di selimuti salju itu, Diordan sudah ingin pulang ke negara dimana belahan jiwanya berada membuat sang asisten pusing melihatnya.


*****


' bisakah kau pulang nak ?


ada yang ingin aku sampaikan '


sebuah pesan yang terkirim ke nomor ponsel Berlian yang membuatnya kini melesat ke rumah keluarganya.


kini mobilnya telah sampai di pelataran rumah keluarganya. setelah memarkirkan mobilnya Berlian berjalan memasuki rumahnya.


" kak " tegur Ruby yang saat itu keluar dari dapur melihat Berlian hendak menaiki tangga. Langkah kaki nya terhenti dan menghela nafas berat.


diam dan tak berkata hanya sunyi yang ditampakkan oleh Berlian. " bolehkah aku berbicara padamu ? " tanya Ruby dengan menundukkan kepalanya.


" apa yang ingin kau bicarakan ? " dengan tegas dan wajah Berlian menatap tubuh kecil Ruby.


" apa kakak membenciku ? " tanya Ruby dengan penuh hati hati yang dijawab dengan sebuah senyum sinis dari bibir Berlian.

__ADS_1


" aku tahu aku hanya anak dari seorang .... " keluh bibir Ruby melanjutkan. " tapi aku juga anak dari papah kak. " lanjutnya dengan menatap ke arah Berlian.


" kau benar. kau anak dari tuan rumah ini. tapi kau juga harus tahu batasanmu. " jawab Berlian masih dengan wajah datarnya.


" aku juga butuh kenyamanan kak di rumah ini. mereka semua tidak suka denganku, termasuk kakak ! " Ruby mulai menangis tapi tak membuat Berlian merasa iba.


" kau ingin nyaman di rumah ini ? maka begitu juga dengan yang lain. " jawab Berlian sebelum meninggalkan Ruby sendiri.


Ruby menatap Berlian dengan sebuah rasa kebingungan apa yang dimaksud oleh Berlian.


memikirkan itu yang tak kunjung ada jawabannya, Ruby menghapus air matanya dan beranjak memasuki kamarnya.


*


*


*


*


" bee, aku ingin bicara denganmu. " tanya Frans Giordano kepada putri sulungnya setelah acara makan malam.


" kau sudah bicara denganku tuan. " jawab Berlian membuat Frans Giordano menghela nafas berat.

__ADS_1


"ikuti aku ! " Frans beranjak dari kursinya berjalan menuju ruang kerjanya.


" ada apa kak ? " tanya Amey yang di jawab dengan gelengan kepala oleh Berlian yang menandakan dia tidak tahu. Berlian kini beranjak pergi.


" ada apa ? " tanya Berlian yang baru memasuki ruang kerja sang Daddy.


dulu Berlian memanggil Frans dengan sebutan Daddy. tapi kini sebutan itu sudah tidak ada lagi dan tidak pernah di dengar lagi.


Frans mendekati anaknya menuntunnya duduk di sebuah sofa panjang di sudut ruangan itu.


Frans menggenggam tangan kanan Berlian erat, seakan berat untuk mengatakan sesuatu.


" nak "


" maafkan Daddy. " berkerut Kening Berlian mendengar ucapan maaf dari sang Daddy.


" untuk apa anda minta maaf tuan ? " Berlian perlahan melepaskan genggaman tangan itu.


Frans meneguk Salivanya dengan susah melihat situasi yang tak kunjung membaik.


Frans mencoba menghirup udara dalam dalam menetralkan gejolak yang ada dalam dirinya.


" antara Amey dan Ruby mana yang akan kau korbankan nak ? "

__ADS_1


deg, perasaan seperti ini mampu membuat Berlian membuka matanya lebar dan menatap ke arah sang Daddy.


" perusahaan sedang memburuk, Nak. Daddy mendapatkan tawaran kerjasama di perusahaan besar, perusahaan Tuan Diordan. Tapi .... " ada jeda di helaan nafas itu. " Tuan Diordan menginginkanmu. aku tahu kamu pasti menentangnya, jadi aku akan meminta pilihan darimu. Ruby atau Amey ? "


__ADS_2