
" tidak ada yang boleh menyakiti adikku ! " ruang itu menggema oleh suara penuh amarah.
Pria itu menatap tajam pada Frans Giordano. di tariknya kerah baju Frans.
" apa yang ada di kepalamu hah ! " maki pria itu.
Frans terkejut bukan main melihat pria yang berdiri dihadapannya adalah kakak kandung Berlian.
Gustav Isaac Lewis merupakan kakak kandung Berlian. Berlian dan Gustav satu ibu kandung.
Berlian menatap nanar pada kakaknya. kakak yang selama ini ia rindukan kini ada dihadapannya.
" aku, Gustav Isaac Lewis. tidak akan pernah menyetujui pernikahan ini " tegas Gustav penuh penekanan.
" kau tidak berhak ikut campur dalam urusan keluargaku. " Frans pun tak kalah mempertahankan keputusan nya.
cih, Gustav tertawa sinis. " kenapa aku tidak boleh ikut campur ? sementara kau dengan seenaknya membuat keputusan menyakitkan pada adikku ? "
" dia anakku " ucap Frans dengan menunjuk Berlian.
Gustav melirik ke arah Berlian. ditatapnya sang adik. Gustav melihat di bola mata itu ada goresan penuh luka.
" anak ? kalau dia anakmu kau tidak akan pernah menyakiti anakmu. "
Frans menggertakkan giginya geram akan ucapan Gustav.
" aku heran bagaimana ibuku bisa menikahi orang seperti mu. " ucap Gustav dengan nada mengejek.
" kau. " Frans sudah kehabisan kata kata.
Frans pergi meninggalkan ruangan itu. kini satu persatu meninggalkan ruangan. tidak akan terjadi pernikahan saat ini.
__ADS_1
*******
Rean kini menggila. tujuan utamanya adalah bertemu dengan Diordan.
dikerahkannya semua orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Diordan.
Diordan dan Rean sama sama orang terkuat di negara ini. jadi mudah untuk mereka mendapatkan informasi.
sebuah villa di sebuah kota dengan nuansa laut yang indah, Diordan menatap matahari yang sebentar lagi akan terbenam. bersandar pada kursi balkon villa itu dengan menyesap minuman yang ia pegang.
" seharusnya kita menikmati ini sayang. " senyum nanar diwajah Diordan.
bagaimana tidak sebelum hari pernikahan dia, sosok seorang wanita datang mengaku hamil.
awalnya Diordan tak percaya tapi setelah dia mengingat ternyata dia pernah berbuat salah pada wanita itu.
kebodohannya sungguh diluar batas. hanya karena mabuk dia sungguh tega melakukan itu pada wanita lain.
brak,
dada gemuruh pada Rean. Rean berjalan menghampiri Diordan penuh amarah.
bugh,
satu pukulan mentah melayang diwajah tampan Diordan. Diordan terhuyung kebelakang sehingga gelas yang ia pegang jatuh dan pecah.
" B•••B•H " umpat Rean penuh kebencian.
ditariknya kasar kerah baju Diordan.
" pengecut ! " maki Rean.
__ADS_1
Diordan terkekeh mendengar itu. " kau sahabatku. kenapa kau memukul ku ? " tanya Diordan tersenyum mengejek.
Rean yang makin emosipun melayangkan pukulan keduanya sehingga membuat sudut bibir Diordan sobek dan mengeluarkan darah segar.
" kau benar ! kau adalah sahabatku. " ucap Rean mengepal kedua tangannya menahan amarah.
" seharusnya aku senang karena kau tidak jadi menikahinya. " kini Rean tertawa mengejek.
Diordan mengkerutkan alisnya tak mengerti apa yang di bicarakan oleh Rean.
Rean membuka liontin itu dan menunjukkan pada Diordan. betapa terkejutnya Diordan melihat isi liontin itu.
Berlian dan Rean. ditatap tak percaya sahabatnya itu.
Rean tertawa melihat reaksi Diordan itu. " kau terkejut bukan ? apa yang kau lihat benar adanya. "
" lihat Berlian cantik bukan ? dia milikku. dan akan jadi milikku " ucap Rean dengan menggoda.
" aku ucapkan terimakasih pada mu kawan karena telah mengembalikan yang seharusnya menjadi milikku. "
Rean pun pergi meninggalkan Diordan yang masih terkejut dengan apa yang ia lihat.
prang.
Diordan menghancurkan semua benda yang ada di hadapannya dengan penuh amarah.
*******
Berlian masuk kedalam kamar pengantin itu, sebuah kamar mewah disebuah hotel. Berlian tersenyum tipis.
sungguh indah kamar ini dipenuhi oleh bunga mawar. harum dan romantis.
__ADS_1
tapi keindahan ini hanyalah sebuah ilusi semata. keindahan ini sudah menjadi abu bagi dirinya.
di sebuah cermin Berlian melihat dirinya. dia tersenyum nanar pada dirinya. sungguh malang wanita ini. kecantikan ini. hanya menjadi bualan semua orang.