Permata Hatiku

Permata Hatiku
Keyakinan Mereka


__ADS_3

waktupun terus berlalu, mereka semua masih menunggu keadaan Berlian. bahkan si kecil Ray masih setia duduk di dekat Amey dengan memeluk kedua kakinya.


" kau tidurlah. " Rao membelai rambut Amey. ia begitu tak tega melihat keadaan istrinya yang lelah. bahkan nampak lingkaran hitam di sekitar matanya dan juga matanya begitu sembab setelah menangis.


Aaron yang juga masih duduk bersandar, ia menolehkan kepalanya dan tak sengaja menangkap tubuh kecil Ray.


matanya membulat karena ia melupakan anak kecil itu. dengan merangkak, ia mendekati tubuh kecil itu yang tak jauh darinya.


" hei, boy. " ucap Aaron dengan suara seraknya. ia mengguncang tubuh Ray agar melihat kearah dirinya.


Ray menatap Aaron kemudian tertunduk lagi. ia masih enggan untuk berbicara pada siapapun.


" kau istirahat bersama saudaramu di atas. " tangan kanan Aaron yang besar itu menyentuh kepala Ray seakan kepala itu masuk dalam semua genggamannya.


" tidak, aku mau mommy. " jawab Ray dengan wajah yang masih tertunduk dan sesekali ia ingin menangis.


Rean pun tersadar setelah mendengar suara Ray. dengan bergegas ia pun mendekati putranya yang sedang duduk bersama Aaron.


" maafkan Daddy. " Rean meraih tubuh kecil itu, kemudian memeluk serta mencium kening Ray. tapi Ray hanya terdiam dan tak bersuara sedikitpun.


" kau tidurlah, mommy mu baik baik saja. " ucap Aaron.


Ray si anak kecil itu menatap mata Aaron agar dirinya benar benar yakin bahwa apa yang dikatakan olehnya tidak berbohong. kemudian Ray pun mengangguk bahwa dirinya akan patuh dan tidur di kamar yang sama dengan Elvis.


melihat Ray sudah ingin tidur, Aaron pun menoleh ke arah Amey yang masih juga duduk bersandar pada bahu Rao.


" kau bawalah istrimu tidur di kamar mu. " walaupun bukan lagi anak buahnya, Aaron tetap tidak memindahkan barang Rao sedikitpun dari kamarnya.


bahkan kamar itu masih ia rawat dan jaga. karena ia percaya suatu saat nanti si bodoh Rao itu akan kembali padanya. bahkan Rao pun tak menyangka jika ia masih punya hak di tempat Aaron jika Aaron tak berkata demikian.


" ka kak " lirih Amey masih menatap sendu pada ruangan yang dimana Berlian masih di dalamnya. ia enggan untuk berdiri bahkan pergi dari posisinya.


" percayakan padaku. " ucap Aaron memberikan keyakinan pada semua orang padahal dirinya pun masih diselimuti rasa takut. ia takut akan Berlian yang pergi dari hidupnya.


Amey pun akhirnya mau dibawa oleh Rao menuju kamar Rao dahulu. dengan di gendong Rao, Amey merebahkan tubuhnya karena ia lelah seharian menangis dan menangis.

__ADS_1


" aku akan mengantarmu ke kamar. " Hans mendekati Ray untuk ia bawa ke kamar dimana Elvis sudah tertidur disana.


" biarkan aku yang membawanya. " ucap Aaron sebelum Hans dekat dengan Ray, karena dirinya ingin membawa anak itu ke dalam kamarnya sendiri.


" dia putraku. " tepis Rean saat tangan Aaron ingin menyentuh Ray. Rean tak suka Aaron mendekati putranya.


" jangan bodoh ! " umpat Aaron padanya karena Rean benar benar membesar besarkan keegoisannya.


Aaron tak peduli dengan Rean, ia pun kembali meraih tubuh Ray. setelah mendapatkannya, ia membawa tubuh kecil itu menuju kamarnya.


Rean hanya terdiam menatap tubuh Ray yang menatap dirinya dengan memeluk Aaron di ceruk leher Aaron. hatinya takut, hatinya terluka. ia takut Aaron akan mengambil semuanya dari dirinya.


kau putraku !


kalian putraku !


semua milikku !


tidak ada yang bisa mengambil kalian semua dariku.


"heemm " jawab Aaron yang masih fokus membuka tali sepatu Ray.


Ray masih terdiam sampai akhirnya pekerjaan Aaron selesai, kemudian menatapnya.


" kenapa ? " kini Aaron yang bertanya setelah Ray menggantungkan pertanyaannya.


Ray menggelengkan kepalanya, kemudian mengangguk dan menggelengkannya lagi membuat Aaron menggerinyitkan alisnya.


" sudahlah, kau sebaiknya tidur. " Aaron mendorong tubuh Ray dengan pelan agar terbaring disamping Elvis dengan benar.


selimut serta bedcover itu pun kini Aaron pakaikan di atas tubuh Ray, seakan akan Ray adalah putranya yang harus menerima kehangatan dari dirinya.


mata kecil Ray pun perlahan terasa berat saat tangan besar Aaron mengusap ngusap kepalanya dengan kelembutan.


dengan menatap mata Ray, Aaron memberikan senyuman sebelum mata itu benar benar terpejam. saat merasakan Ray benar benar sudah tertidur, Aaron pun mengecup kening Ray dan juga Elvis bergantian.

__ADS_1


ia merasa damai saat dirinya melihat kedua anak itu tidur di atas ranjang miliknya dan juga Berlian dulu.


" bodoh ! " Aaron mengumpat dirinya sendiri dan tertawa nanar saat mengingat kebodohan yang ia lakukan dulu.


andaikan saja dulu ia percaya pada Berlian, mungkin saat ini yang tidur bersama dengan dirinya adalah anaknya dengan Berlian.


_______________


di dalam ruangan yang penuh alat penunjang kehidupan Berlian, masih bersahutan berirama selaras dengan detak jantung dan nadinya Berlian.


walaupun Berlian sudah melewati masa kritisnya, ia tetap saja belum bisa di temui oleh siapapun. mereka semua masih belum bisa masuk karena dokter masih melarang mereka.


kau harus tetap betahan.


demi kita demi semuanya.


setelah kau baik baik saja, aku akan membawamu pergi. Rean.


malangnya nasibmu.


aku berjanji tidak akan membiarkan mereka menyentuh dirimu.


mereka adalah luka untukmu dan luka itu harus aku singkirkan darimu. Gustav.


aku, kau dan kedua anak ini, akan selalu bersamaku.


mulai saat ini aku tidak akan melepaskan kalian apapun alasannya.


tidak peduli siapapun yang melarangnya, kalian akan bersamaku.


kedua anakmu juga akan menjadi anakku walaupun aku sudah tahu bahwa Rean pun bukan orang tua biologis mereka. Aaron.


itu adalah ucapan dari dalam hati mereka masing masing. Rean yang berucap dengan menatap segaris lurus dengan ruangan Berlian, Gustav yang duduk berucap dengan menatap Rean, serta Aaron yang berucap dengan menatap selurus dengan pandangnya.


mereka yakin akan keyakinan mereka sendiri. tanpa ada yang tahu apa yang akan menjadi pilihan Berlian sendiri.

__ADS_1


__ADS_2