Permata Hatiku

Permata Hatiku
Hitam


__ADS_3

" kau bergeserlah ! aku susah bergerak ! "


Berlian mendorong tubuh Aaron agar dirinya bisa terbebas dari kecanggungan di antara mereka.


pria ini bukannya bergeser malah makin merapatkan tubuhnya pada Berlian sehingga membuat Berlian kesal, karena posisi seperti ini bukan yang diharapkan Berlian.


" aku menyuruhmu bergeser bukan makin mendekat ! " Berlian sedikit protes akan ulah Aaron ini.


pria ini begitu arogannya menganggap ucapan Berlian hanya sebuah angin kosong.


Aaron tersenyum menggoda dan mulai berani memeluk Berlian. membuat Berlian memberontak dan terus mendorong tubuhnya.


" kau ! " kesal Berlian dengan menatap tajam Aaron.


" apa ? aku sudah bergeser jadi jangan protes lagi ! " jawab Aaron dengan senyum jahil di bibirnya.


" aku rasa otaknya yang geser " guman Berlian pelan yang masih terdengar di telinga Aaron.


Aaron makin mempererat pelukannya. " kau benar, otakku memang sudah bergeser. " jawab Aaron.


Berlian mengerucutkan bibirnya kesal dengan pria ini. ingin sekali memukul dirinya tapi apalah daya tenaganya sungguh belum bisa di ajak untuk bersahabat.


jadi biarkanlah untuk saat ini Aaron menjadi anak koala yang terus menempel pada dirinya. nanti ada masanya dia akan membanting serta meremukkan orang menjengkelkan ini.


drrtt


drrtt

__ADS_1


drrrtt


ponsel Aaron bergetar.


Aaron hanya melihat layar ponsel itu dan meletakkan kembali di atas meja tanpa ingin mengangkatnya.


sudah ketiga kalinya telepon itu bergetar tapi si anak koala ini benar benar tidak ingin beranjak dari posisinya untuk mengangkat panggilan itu membuat Berlian kesal bukan main.


" ponselmu terus berdering ! kau angkatlah siapa tahu itu penting ! " ucap Berlian dengan menahan suara kesalnya.


" Hans yang menelpon. biarkanlah tidak usah di angkat ! "


" angkatlah ! siapa tahu itu penting ! " ucap Berlian.


Aaron menatap manik mata Berlian dengan lekat. manik itu penuh dengan kata perintah yang wajib dilaksanakan.


Aaron mendesah pasrah lalu bergerak mengambil ponselnya dan menjawab panggilan Hans itu.


" tu tuan " ucap Hans di seberang sana dengan nada tergugup.


" apa ! " suara Aaron meninggi membuat Hans sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya.


" aku hanya ingin menanyakan perihal warna kesukaan nona Berlian tuan. " ucap Hans kembali.


Aaron mencibir kesal baru kali ini Hans seperti angin baginya.


" apa otak mu sudah tumpul ? apa perlu ku asah ? " Aaron benar benar tak habis fikir dengan Hans.

__ADS_1


pria yang biasanya sangat bisa diandalkan, kini masalah ini warna kesukaan wanita saja ia tidak tahu.


padahal dirinya pun juga tidak terlalu mengerti warna kesukaan perempuan.


Aaron menatap pada Berlian dan Berlian kembali menatap pada Aaron.


" apa warna kesukaanmu ? " tanya Aaron membuat Berlian sedikit terheran.


ada apa dengan pria ini kenapa ia menanyakan warna kesukaannya.


" hitam " jawab Berlian.


" warna kesukaannya itu hitam. " ucap Aaron memberitahu pada Hans.


" apa Tuan serius ? " tanya Hans dengan sedikit terkejut.


Aaron yang tersadar menatap pada Berlian yang kini tengah berbaring menutupi tubuhnya dengan selimut setelah menjawab pertanyaan Aaron.


" hey kau bodoh ! apa kau fikir wanita suka dengan warna penuh berkabung ! carilah warna kesukaan para wanita ! " ucap Aaron sebelum mematikan sambungan telepon itu.


Hans terdiam menatap layar ponselnya. ia mendesah pelan dan memijit keningnya yang sedikit berdenyut itu.


tuannya yang jatuh cinta mengapa ia yang begitu rumit, sehingga harus mengetahui warna kesukaan para wanita.


Aaron menatap punggung Berlian yang di tutupi selimut itu. ada begitu banyak pertanyaan dalam benak Aaron.


warna hitam !

__ADS_1


apa wanita ini sangat menyukai warna hitam ?


biasanya para wanita akan menyukai warna yang cerah seperti pelangi, tapi kenapa wanita ini menyukai warna hitam ?


__ADS_2