
Di sebuah bandara Internasional sebuah negara.
Rean, Berlian dan anak anak kini telah sampai setelah menempuh waktu yang cukup panjang.
" kita akan kemana Daddy ? " tanya Elvis yang tak hentinya bertanya. walaupun Rean atau Berlian sudah memberitahunya, anak tersebut akan mengulang pertanyaan kembali dengan pertanyaan yang sama.
Rean tersenyum dengan gemasnya meraih Elvis kedalam gendongannya. " bukan kah sudah Daddy katakan kita akan berlibur ? " ucap Rean dengan nada yang lembut.
kata berlibur memanglah cocok untuk kedua putranya karena mereka belum pernah menginjakkan kakinya ke negara ini. pun mereka juga tidak mengetahui bahwa Berlian masih memiliki keluarga lainnya.
tapi saat ini kewaspadaan dan rasa takut menyelimuti hati serta fikiran Berlian. ia berharap mereka tak dapat menemukannya.
semoga saja mereka benar benar tak mengenalinya.
aku berharap semua baik baik saja.
" mommy kau baik baik saja ? " Ray si anak yang selalu sensitif dengan keadaan, melihat sangat jelas sikap mommynya saat ini.
kegugupan Berlian serta cara berjalan Berlian tak luput dari pandangan Ray. di tambah Berlian benar benar berbeda di mata Ray.
Ray melihat wanita yang ia lihat sekarang ini seperti bukan mommynya. rambut pendek berwarna hitam, kaca mata besar berwarna hitam serta penutup kepala yang besar.
" mommy baik baik saja sayang. " ucap Berlian dengan diselipkannya sebuah senyuman agar Ray tidak curiga.
Rean sedikit melirik ke arah Berlian saat Ray bersuara. tanpa berkata banyak, Rean melingkarkan tangannya di pinggang Berlian.
Berlian menatap tangan Rean yang melingkar di pinggangnya, kemudian ia menatap Rean. Rean tersenyum serta memainkan mata nakalnya membuat Berlian ingin memukul wajahnya.
" lepaskan aku ! " Berlian menggeliat mencoba melepaskan diri.
" tidak akan. " jawab Rean dengan memaksakan tangannya tetap melingkar di pinggang Berlian.
setelah menempuh perjalanan selama satu jam, mereka kini telah sampai di sebuah apartemen tengah kota.
__ADS_1
Rean memilih sebuah apartemen yang memiliki fasilitas dengan ruang lingkungan anak yang dimana ia ingin Elvis dan Ray nyaman selama di negara ini.
apartemen ini pun tak begitu jauh dari rumah sakit dimana Daddy nya Berlian di rawat. jadi Berlian bisa dengan leluasa mengunjungi Mark untuk melihat kondisinya.
Gustav menawarkan untuk tinggal di mansion miliknya tapi Rean menolak karena ia takut semua akan mengetahui keberadaan Berlian.
ia ingin semua masih tetap sama menganggap Berlian sudah tiada. ia tidak ingin ada yang mencelakakan Berlian seperti waktu itu.
" apa kalian sudah sampai ? " tanya Gustav pada Rean lewat sambungan telepon mereka.
" kami sudah sampai. " Rean menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang menghilangkan rasa letih setelah menempuh waktu yang panjang.
" baiklah kalian beristirahat lah dahulu. " Gustav pun mengakhiri sambungan teleponnya setelah Rean cukup lama terdiam.
" apa itu Kakak yang menelpon mu ? " tanya Berlian setelah dirinya keluar dari kamar berganti pakaian.
Rean melihat Berlian sekilas dan kemudian ia menganggukkan kepalanya.
Berlian pun mengerti dan duduk di samping Rean.
" apa anak anak sudah tidur ? " Berlian terdiam kemudian matanya menatap ke arah kamar yang dimana kedua putranya tertidur.
tak lama hanya sebuah kalimat ' hum ' yang lolos dari mulut Berlian. keletihan ini membuat Berlian enggan berbicara banyak.
" Re, aku ingin bertemu Daddy ku ? " Rean menatap Berlian yang kala itu sedang memejamkan matanya.
" apa kau yakin ? " Rean begitu mencemaskan Berlian. cepat atau lambat Berlian akan bertemu dengan keluarganya.
Berlian membuka matanya dengan setitik air mata di ujung matanya. mata itu menahan tangisnya Rean melihat itu.
Berlian ingin menangis tapi ia tahan sekuat tenaga untuk tidak menangis. mencoba menenangkan dirinya itulah yang ia perbuat.
" baiklah aku akan mengantarmu bertemu dengan Daddy mu " Rean bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
*
*
*
*
*
" apa kau yakin ? " Rean mencoba berulang kali menanyakan keyakinan Berlian. ia begitu khawatir akannya.
nampak berulang kali Berlian mendesah tak nyaman, pun ia begitu gugup dan takut.
" aku siap. " ucap Berlian saat dirinya berhasil menyakinkan dirinya dengan beberapa kali menarik nafas dan membuang nafasnya.
Berlian membuka pintu mobil untuk keluar dan Rean pun menyusul keluar dari mobilnya. mereka berdua pun berjalan menuju dimana Mark dirawat.
Rean meraih tangan Berlian untuk ia genggam. nampak tangan itu terasa dingin seperti es.
" jangan tegang, aku bersamamu. " bisik Rean saat mereka hampir tiba disana.
mata Berlian begitu berbinar saat melihat sosok cantik di luar ruangan itu yang duduk dengan menyembunyikan kepalanya diantara kedua tangannya.
setiap langkahnya semakin membuat ia tak karuan. detak jantungnya berpacu lebih cepat dan keringat terus saja bercucuran. jika bukan karena genggaman tangan Rean, mungkin saat ini juga ia akan berlari meninggalkan tempatnya.
" apa kabar ? " wanita cantik itu mendongakkan kepalanya menatap keduanya yang berada tepat didepannya.
" kak Re ? " tanya wanita itu dengan senyum mengembang diwajahnya.
tak lama senyum itu berpindah pada sosok yang berpegang tangan pada Rean. perlahan senyum itu memudar dan nampak alis itu mengkerut saat melihatnya.
" dia ..... "
__ADS_1