Permata Hatiku

Permata Hatiku
Dimana Putraku !


__ADS_3

" wahhh, tampan sekali. " Elvis menatap Aaron yang masih tertidur pulas disampingnya dengan mendekap hangat tubuhnya.


saat membuka mata, Elvis terkejut dengan dirinya yang berada di sebuah kamar besar dengan suasana berbeda di kamar miliknya.


ia awalnya begitu takut melihat semuanya terasa gelap. pun karena lampu kamar itu belum dinyalakan oleh sang empunya, sehingga hanya samar samar bentuk isi kamar itu nampak terlihat akibat pantulan sinar rembulan yang terpancar di sela sela jendela kamar Aaron.


tapi ketakutannya itu semua memudar saat tangan besar Aaron memeluk dirinya dengan erat, serta wajah Aaron yang begitu damai dalam tidurnya mampu membuat dirinya nyaman.


alis yang tebal serta rahang yang tegas itu membuat Elvis takjub. anak kecil itu tak hentinya memegang bulu bulu halus yang tumbuh di sekitar dagunya.


woowww, geli


sambil tertawa kecil menahan rasa kegelian di area tangannya, tapi itu tidak membuatnya berhenti menyentuh. sehingga rasanya ingin lagi dan lagi menyentuh wajah Aaron.


begitu pun dengan Aaron, ia pun merasakan setiap pergerakan tangan Elvis. ia merasakan wajahnya yang di sentuh sana dan sini. walaupun Elvis terus saja mengganggunya, Aaron enggan sedikitpun membuka matanya. ia tetap terdiam dengan berpura pura masih tertidur. karena jika terbangun, Elvis akan terkejut dan tak lagi tertawa kecil bermain dengan wajahnya.


" wooww, alismu lebih tebal dari Daddy. " satu kata mulai keluar dari mulut kecil Elvis dengan suara yang kecil.


ya, karena aku tampan. kata Aaron dalam hatinya dengan mata yang terpejam dan masih berpura pura untuk tidur.


hiks hiks,


Daddy


apa dia menangis ?. ucap Aaron dalam hatinya saat mendengar suara tangisan Elvis.


tawa Elvis menyurut saat dia mengingat Rean. elusan diwajah Aaron pun kini berhenti dan perlahan tergantikan dengan Air mata Elvis.


Aaron yang ingin membuka matanya pun tak jadi saat ia mendengarkan isi hati Elvis.


" kau tahu paman, hiks hiks " Elvis sesekali mengusap air matanya. " aku sungguh sedih kali ini. " kata Elvis dengan menyentuh hatinya.


Aaron membuka sedikit matanya dan memperhatikan wajah Elvis yang sembab itu. serta tangan yang terus mendekap dadanya.


" Aku " Elvis terdiam sejenak bingung akan dirinya. " aku tak menyangka jika Daddyku bukanlah Daddyku. " air mata itu semakin mengalir deras membasahi pipinya.


bayangan Rean yang menyayanginya, memeluk dirinya dan membuatnya tertawa bahagia itu pun datang dalam dirinya sehingga Elvis pun tak kuasa dan menangis kembali.


" itu sakit paman, rasanya sungguh sakit. " Elvis menepuk nepuk dadanya dan ia pun berbaring serta menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


" Daddy " ucap Elvis di sela tangisannya dengan sesekali menghapus air matanya di balik selimut.


Aaron yang mendengar semua itu pun membuka matanya. ia melihat tubuh kecil itu bergetar karena menangis di balik selimut yang menutupi tubuhnya.


mata Aaron begitu dingin, ia begitu keluh untuk berkata. hanya sebuah pandangan lurus menatap selimut yang menutupi tubuh Elvis.


____________


Amey tergesa gesa mengikuti langkah kaki Berlian yang terus saja berjalan dengan cepat untuk menemui Gustav.


" kakak, kumohon kembalilah. " Amey berlari mengejar Berlian dengan tangan yang sibuk menekan tombol pada ponselnya.


Amey ingin menghubungi Gustav, tapi Gustav tak kunjung mengangkatnya.


Berlian sudah di depan sana. ia melambaikan tangannya memberhentikan sebuah taxi. Amey kalang kabut dan semakin mempercepat kakinya.

__ADS_1


" kakak " teriaknya saat melihat Berlian membuka pintu belakang taxi itu dan masuk kedalam taxi.


taxi itu pun pergi membawa Berlian dari sana. membuat Amey tidak bisa mengejarnya.


tak lama kepergian Berlian, datanglah beberapa orang menghampiri Amey.


" kalian bodoh ! " Amey memaki mereka semua, karena mereka semua tidak menyadari kepergian Berlian dari ruangannya.


*


*


*


" dimana putraku ! " teriak Berlian mengejutkan semua orang yang berada di ruangan tersebut. bahkan Gustav pun yang sedang duduk dengan menundukkan kepalanya ikut terkejut dengan kedatangan adiknya.


" apa yang kau lakukan. " Gustav bangun dari duduknya dan menghampiri Berlian. ia cemas dan khawatir karena Berlian belum sembuh dari sakitnya, tapi kini berada di tempatnya.


" dimana putraku ! " ucap Berlian kembali dengan suara yang lebih tinggi dari sebelumnya.


" Ray ada di kamar, bee. " ucap Rean yang turun dari lantai dua.


Berlian menggelengkan kepalanya menolak ucapan Gustav dan Rean.


" dimana putraku ! " Gustav diam, begitu pun juga Rean. mereka berdua melirik satu sama lainnya karena takut jika Berlian mengetahui Elvis telah menghilang.


" katakan, dimana putraku ! " ucap Berlian kembali saat tidak mendapatkan jawaban dari keduanya.


mereka berdua masih terdiam dan tidak berani membuka mulutnya. Berlian melihat Gustav dan Rean bergantian, ia begitu marah dengan keduanya.


drrtt


drrtt


Rean meraih ponselnya dan ia melihat nomor asing tertera di ponselnya.


Rean pun mengangkat telepon tersebut.


" hallo " satu kata keluar dari mulut Rean saat teleponnya sudah tersambungkan.


' apa kau mengenali suaraku ? '


" Aaron ! " guman Rean kecil yang Berlian tangkap.


saat nama Aaron disebut, ia pun merebut ponsel Rean dan me-loudspeaker nya.


' ternyata kau mengenali suaraku. '


terdengar suara tawa disana membuat Berlian kesal. satu masalah belum usai, kini datang kembali masalah. apa yang membuat Aaron menghubungi Rean, fikir Berlian.


' oh ya. hei, apa kau tidak bisa menjaga salah satu putramu ? bagaimana bisa anak sekecil itu berada jauh dari tempat kalian. '


Berlian menatap kembali Rean dan juga Gustav. ia semakin marah pada mereka berdua yang telah lalai menjaga putranya. dan mereka masih bisa berdiam diri saat Berlian bertanya pada keduanya.


gustav dan Rean yang merasa bersalah pun tak mengelaknya. mereka memilih diam dengan seribu bahasa mereka.

__ADS_1


" katakan dimana putraku ! " jawab Berlian kali ini membuat Aaron yang disana terkejut.


' sayang ? '


" katakan dimana putraku ! " Berlian hanya ingin menemukan putranya dan bukan ingin berbicara panjang dengan Aaron.


sstttt,


aawwww.


Berlian duduk terjatuh karena ia tidak dapat menahan rasa sakit pada jantungnya lagi. keringat dingin kini mulai nampak di kening Berlian serta wajah yang nampak lebih pucat dari sebelumnya.


" bee "


" Berlian " teriak Gustav dan Rean bersamaan saat melihat tubuh Berlian jatuh.


Berlian mengarahkan tangannya menghentikan gerakan Gustav dan juga Rean. ia tidak ingin mereka berdua mendekatinya.


' sayang, apa kau baik baik saja ? '


Aaron pun sama cemasnya disana saat mendengar teriakan serta jeritan dari Berlian.


" ka katakan dimana putraku. " kata Berlian dengan suara yang pelan dan juga terbata bata.


' di dia bersamaku. dia di tempat kita, sayang. '


ponsel pun Berlian matikan tanpa menunggu ucapan Aaron selanjutnya.


" mommy. " Berlian menatap lantai dua dan nampak disana Ray menangis di dekat pembatas besi berwarna emas.


ini pertama kalinya ia melihat Ray menangis pilu. Ray tidak pernah menangis sesedih itu dan itu membuat luka dihati Berlian.


Ray saja yang sekuat itu pun bisa menangis pilu, apalagi dengan Elvis. membayangkan itu saja menambah denyut sakit pada jantung Berlian.


dengan sekuat tenaga, Berlian mengulurkan tangannya meminta Ray mendekatinya.


Ray pun patuh, ia menghapus air matanya dan berlari menyelusuri anak tangga mendekati Berlian.


" mommy mommy " Ray menangis melihat Berlian menderita. ia pun mendekap tubuh Berlian dan tak ingin melepaskannya.


" kakak " Amey pun mendekap mulutnya saat melihat kondisi Berlian. ia terkejut saat baru saja tiba melihat Berlian duduk di lantai dengan Ray yang memeluk Berlian.


ame pun berlari mendekati Berlian. dan disana ia bisa melihat Berlian bercucuran keringat di sekujur tubuhnya.


" an antarkan a aku. "


" bee, kita ke rumah sakit sekarang. " lagi lagi Rean di tolak oleh Berlian. Rean mengepalkan tangannya begitu geram. ia khawatir dengan kondisi Berlian tapi Berlian tetap tidak ingin ia dekati.


Berlian hanya ingin putranya. ia tidak ingin pergi ke rumah sakit dan membiarkan putranya bersama dengan Aaron. ia harus membawa putranya kembali.


" an antarkan aku. " ucap Berlian kembali. Amey mengerti maksud Berlian tapi melihat wajah Berlian yang menderita membuatnya menangis dan segera ingin membawa Berlian kembali ke rumah sakit.


" kak " Amey pun menangis ia menggelengkan kepalanya. ia meminta kakaknya untuk kembali ke rumah sakit tapi Berlian tetap ingin menemukan Elvis.


" aku akan mengantarkanmu menemuinya. " kali ini Rao membuka suaranya. ia tidak ingin melihat penderitaan Berlian. mungkin dengan menemukan Elvis, Berlian akan tenang dan mau untuk di bawa kembali ke rumah sakit.

__ADS_1


" kita akan menjemput putramu. " ucap Rao kembali.


__ADS_2