Permata Hatiku

Permata Hatiku
Memulai Inisiatif


__ADS_3

happy reading guys.


jangan lupa likenya ya jika kalian suka.


oh ya ada salam dari Abang Ade nih....


" semoga hari kalian menyenangkan. 🥰*"


 ----------------


ya, aku vanilla.


aku sahabat Aaron dari kecil.


kita sangat dekat dari dulu, jadi aku tidak tahu kalau Aaron sudah menikah.


tapi apa kau orang spesial atau bukan aku tidak peduli, karena Aaron tetap menyayangiku lebih darimu.


cukup deklarasi dari wanita bernama vanilla membuat telinga Berlian memerah.


cemburu ? bukan dia hanya sakit mendengar suara cerewet vanilla yang sangat berbeda dengan adiknya.


berbicara adiknya, Berlian sungguh merindukan adiknya. semoga saja adiknya tidak berkembang cerewetnya seperti wanita bernama vanilla ini.


" aku kemarin membelikanmu jam tangan, kau cobalah. " vanilla memaksa Aaron mengulurkan tangannya agar ia bisa memakaikan jam dipergelangan tangan milik Aaron.


jam berwarna silver mewah itu kini sudah terpasang gagah ditangannya. baik makan malam romantis ini cukup sampai disini.


" kau benar, dia sungguh sangatlah cantik. tapi sayang apa yang dilihat Aaron dari wanita sepertinya. "


suara begitu sinis dan itu berhasil keluar dari mulut vanilla kepada pekerja wanita saat dirinya melintas untuk mengambil segelas air di dapur.

__ADS_1


sindiran itu sunggguh untuk Berlian. ya sindirlah sesuka hati kalian, tapi telinganya begitu ditulikan agar tidak mendengar suara asing yang menyakitkan.


" dia mungkin menggunakan tubuhnya nona. tuan Aaron tidak mungkin menikahi dirinya jika dia tidak menggunakan tubuhnya untuk merayu tuan. " pekerja wanita itu menyahuti ucapan nona yang ia kagumi.


aaaiiihhhh, mereka sungguh tidak punya kerjaan.


Berlian meneguk segelas air, kemudian ia membawa kursi rodanya untuk kembali ke kamarnya.


" siapa bilang kau boleh pergi ! " vanilla berhenti menghalangi gerak Berlian.


Berlian menatap wanita itu dengan acuh tak acuh. sebuah helaan nafas lolos dari mulut Berlian.


" apa ada yang ingin kalian bicarakan denganku ? " tanya Berlian dengan malasnya.


" kau jadi wanita seharusnya sadarlah dengan keadaanmu ! janganlah serakah ! " vanilla begitu menghina Berlian.


" ya ya, jangan tak tahu diri seperti itu ! " pekerja wanita itu ikut bersuara memprovokasi.


" kau cacat ! kau tak pantas untuknya ! "


" siapa yang pantas untuknya ? " kali ini Berlian membuka suara.


" tentu saja aku ! " ucap vanilla dengan bangganya.


" ya hanya nona vanilla yang pantas untuk tuan. " pekerja wanita itu benar benar menjilat.


Berlian menompang kepalanya dengan tangan kanannya menyaksikan kekompakan mereka.


" ada lagi ? " tanya Berlian benar benar malas.


" pergilah tinggalkan Aaron ! " vanilla menatap Berlian dengan sorot mata tak suka.

__ADS_1


" aku ingin, tapi sepertinya dia tidak. " ucap Berlian membuat vanilla menggeram.


" apa maksudmu ? " kini udara mulai keruh dengan asap mengepul di atas kepala vanilla.


sepertinya Berlian mempunyai mainan baru disini, membuat vanilla kesal sepertinya mengasikkan.


" kau tahu Aaron tidaklah mungkin meninggalkanku karena dia suka dengan sentuhanku. " ucap Berlian menabur percikan api membuat vanilla meledak.


" dasar j*l**g ! " sebuah pukulan hendak melayang di pipi Berlian tapi semua digagalkan oleh pekerja wanita.


vanilla menatap tak suka pada orang yang telah menggagalkan dirinya untuk memberi pelajaran pada Berlian.


pekerja wanita menggelengkan kepalanya menandakan untuk tidak membuat Berlian terluka. jika Berlian terluka maka kita semua berakhir.


" kau ingin tahu ? " mereka kembali menatap Berlian dengan raut wajah yang kesal.


" Aaron suka jika aku yang memulai duluan. " ucap Berlian dengan trik nada sensualnya pada mereka sebelum dirinya pergi.


vanilla benar benar kesal. dia ingin menghajar Berlian saat ini juga jika dirinya tidak ditahan oleh pekerja wanita itu.


sepanjang menuju kamarnya, Berlian terkekeh geli saat berhasil manabur bara api pada vanilla.


***kesallah padaku !


semakin kau kesal, semakinku senang*** !


menanyakan bagaimana Aaron menikahi dirinya, mengapa tidak padanya langsung karena dirinya pun di paksa bukan dengan sukarela.


" sepertinya aku menyukai jika kau benar benar berinisiatif lebih dahulu. " sebuah suara terbuka dibelakang Berlian.


Berlian menoleh dan ia melihat Aaron tersenyum miring penuh dengan siasat.

__ADS_1


gleg, Berlian menelan salivanya dan tersenyum kecut ke arah Aaron.


apa ia mendengarkannya ?


__ADS_2