
Berlian masih duduk bersandar di luar kamar Amey. ia masih menunggu Amey keluar untuk memaafkan dirinya.
entah hari ini atau pun esok ia akan tetap menunggu maaf dari Amey. ia tahu itu tidak akan mudah karena rasa sakit yang Amey rasakan terlalu menyakitkan.
tapi ia akan tetap menunggu dan akan menunggu.
jangan membenciku !
ku mohon jangan membenciku !
Rao melihat Berlian masih duduk dengan kedua kaki yang menyanggah kepalanya, menjadi tak tega. tapi ia tidak bisa menolongnya, karena Amey pun memiliki sifat yang luar biasa keras kepalanya.
mau bagaimana ia meminta memaafkan nya pun jika Amey masih enggan untuk memaafkan, maka itu tidak akan pernah terjadi.
" kau pulanglah, biarkan istriku meluapkan kesedihannya. " Rao ikut duduk mensetarakan tubuhnya. saat dari dekat, dapat Rao lihat tubuh Berlian bergetar dan masih terisak dengan air matanya.
" ka.... " Rao ingin menyentuh Berlian tapi itu ia tarik lagi karena suara derap kaki yang ia dengar begitu tergesa gesa.
" apa kau baik baik saja ? " ucap cemas Gustav.
Gustav yang mendapatkan kabar dari anak buahnya, bergegas mencari keberadaan adiknya.
ia tidak menyangka jika ketidak hadiran nya saat pesta Aaron, menjadi bumerang untuk adiknya.
" kak ... " lirih Berlian lemah. ia terlihat kacau bahkan sangat kacau.
__ADS_1
Gustav mendekapnya dengan erat. ia sungguh tidak bisa melihat adiknya sekacau ini.
Amey, ia harus menjelaskan pada Amey apa yang sebenarnya terjadi. karena semua ini adalah idenya dan Berlian hanya mengikuti apa keinginannya.
" Mey " Gustav mengetuk pintu agar Amey tahu bahwa itu dirinya. pun Amey dapat mendengarkannya.
" Mey, dengarkan kakak. " Gustav menghela nafasnya berat. bagaimana ia harus menjelaskannya pada Amey. tapi itu sungguh sulit untuk ia ungkapkan.
" Mey ... " Gustav terperanjat saat mendengar suara melengking serta hentakan pintu yang keras mengejutkan mereka.
" pergi kalian semua ! semua pembohong ! aku benci kalian ! " teriak Amey dari dalam membuat mereka terdiam. ini pertama kalinya mereka mendengar Amey berteriak bahkan sampai memukul daun pintu dengan kerasnya.
pun Berlian makin terisak mendengar jeritan Amey serta Gustav dapat merasakan kemejanya membasah akibat air mata Berlian.
jangan !
jangan membenciku !
perlahan tubuh Berlian mulai melemah, gerakkan tangan yang awalnya mencengkeram kemeja Gustav kuat itu mulai melonggar.
ia tak sadarkan diri dan itu membuat Gustav cemas. dapat Gustav rasakan tubuh Berlian memerah dan menjalarkan suhu panas di seluruh tubuhnya.
" hei, bangunlah ! " Gustav menepuk nepuk pipi Berlian pelan. tepukan itu makin lama makin cepat karena ia tidak mendapatkan Berlian bergerak.
braaaaaakkk !
__ADS_1
Gustav memukul keras pintu. pun ia merasa kesal karena ini bukan salah Berlian.
" hei apa yang kau lakukan ! " Rao tidak terima dengan Gustav yang memukul pintu dengan kencang. itu akan membuat Amey makin terpuruk dan semakin sulit di kendalikan.
" diam kau ! " teriak Gustav karena ia sudah benar benar marah. " katakan pada istrimu. jika sampai terjadi sesuatu pada adikku, aku akan menyalahkannya ! " dan ucapan Gustav ini akan semakin memperburuk keadaan.
ceklek,
pintu pun terbuka. mereka semua melihat Amey sama kacaunya dengan Berlian.
hidungnya memerah, matanya membengkak serta air mata yang tak kunjung hentinya mengalir.
" apa hanya dia saja adikmu kak ? " tanya lirih Amey menatap Gustav. dan tak lama ia pun menundukkan kepalanya. hatinya benar benar hancur, mereka semua hanya memikirkan Berlian bukan melihat dirinya.
" aku tahu seharusnya tempatku bukan disini. kalian hanya menganggapku penggantinya " tunjuk Amey pada Berlian yang berada dalam dekapan Gustav membuat Gustav makin meradang.
" kau ! " geram Gustav dengan menahan kemarahannya pada Amey. ia hanya bisa menggeretakkan giginya dengan kuat kuat.
" ck, ternyata kepercayaan mu terhadap kakakmu sedangkal itu ? sungguh miris " Gustav tersenyum tipis dan menggendong Berlian meninggalkan mereka.
sebelum ia beranjak pergi, ia menoleh ke arah Amey dan berkata " seharusnya kau mendengarkan penjelasannya. karena kau tidak tahu selama ini ada yang menginginkan nyawanya. " Amey terpuruk dan makin menangis menjadi jadi.
Rao mengambil tubuh itu. ia pun tidak ingin Amey makin memburuk. ia membawa tubuh Amey masuk ke dalam kamar mereka. biarlah hari ini menjadi kebisuan di antara mereka.
mungkin dengan cara seperti ini, mereka dapat memahami satu sama lainnya. itulah harapan Rao.
__ADS_1