
pintu terbuka, vanilla mulai tersenyum mengembang menunggu Aaron keluar dari ruangan itu.
tak lama senyum itu memudar saat ia melihat Berlian lah yang keluar bukan Aaron.
" kenapa kau keluar ? dimana Aaron ? " suara vanilla melengking membuat siapa saja yang mendengarnya sakit telinga.
Rao mengusap telinganya yang sakit. dirinya tidak bisa bersikap seperti Hans yang pura pura tidak tahu atau tidak mendengar.
" suaranya benar benar bikin telingaku sakit " ucap Rao dengan nada pelan. Hans meliriknya dan tersenyum mengejek dirinya.
Berlian tak menjawab, dirinya menjauh dari pintu masuk dan berhenti pada dinding jendela rumah sakit itu.
" jawablah dimana Aaron ? " vanilla menanyakan kembali agar mendapatkan jawabannya.
Berlian menatap acuh pada wanita satu ini. tak habis fikir benar benar wanita cerewet.
" aku tak membawa kantung ajaib, jadi tak mungkin aku menghilangkannya dalam seketika. " ucap acuh Berlian.
" seharusnya kau tahu tanpa aku menjawabnya. jadi berfikir lah lebih logika ! " ucapnya kembali
di dalam ruangan masih tersisa Aaron dan Johan. mereka berdua nampak serius kali ini.
" apa kau sudah gila ? berapa kali kau meminum obat ini hah ! " ucap Johan yang meninggi karena rasa terkejutnya akan sample obat yang di kirim oleh Hans pada waktu itu.
" apa maksudmu ? " Aaron benar benar tidak mengerti akan kemarahan Johan.
" jangan kau berpura pura ! untuk apa kau meminum obat penenang ini ! " Johan benar benar marah.
" sudah berapa lama kau mengkonsumsi obat itu ? kau bodoh apa memang bodoh hah ! obat itu akan menjadi racun jika kau terus mengkonsumsinya ! apa gunanya psikiater jika kau tidak menemuinya dan lebih memilih mengkonsumsi obat itu ! "
panjang lebar kemarahan Johan ia keluarkan.
Aaron terdiam, kini dirinya benar benar mencerna setiap ucapan Johan. dirinya tidak mengerti kenapa Berlian mengkomunikasi obat obatan seperti itu.
ada apa dengan dirinya, sejak kapan Berlian mengkonsumsi obat obatan ini.
" apa ada cara untuk mengobatinya ? " pertanyaan Aaron berikan membuat Johan paham bahwa berarti bukan Aaron lah yang mengkonsumsi obat obatan itu.
" siapa yang mengkonsumsinya ? " tanya Johan penasaran siapa orang yang benar benar berani mengkonsumsi obat seperti itu.
" kakak iparmu " dua kata ini mampu membuat Johan terdiam dan menatap langit langit ruangannya.
*
__ADS_1
*
*
*
" aku ingin mencari udara segar. kalian tunggulah disini ! " ucap Berlian yang ingin pergi dari vanilla.
" aku akan ikut nyonya. " ucap Rao yang segera beranjak menghampiri berlian.
Rao mendorong kursi roda Berlian dan mengikuti perintah Berlian yang ingin ke taman menghirup udara segar.
" nyonya apa kau tidak terusik dengan kehadiran nenek lampir itu ? " tanya Rao yang membuat Berlian terkejut.
" Mak maksudku nona vanilla nyonya " ucap Rao kembali yang meralat kesalahan dalam penyebutan nama pada vanilla.
Berlian terkekeh geli saat mengetahui bahwa anak buah Aaron ada yang berani menjuluki vanilla dengan sebutan seperti itu.
" aku sudah biasa dengan wanita wanita seperti itu. jadi aku tidak ingin mengambil pusing yang membuat ku kurus karena memikirkan hal tak berguna. " jawab Berlian yang membuat Rao paham.
nyonya nya sungguh luar biasa. tangguh, cerdas dan berwawasan. semoga saja vanilla tidak mengganggunya terus menerus.
" Berlian "
Rao mengentikan langkahnya dan itu membuat dorongan pada kursi roda Berlian berhenti. pun Berlian merasa familiar dengan suara itu.
suara sepatu membentur lantai rumah sakit menggema di udara. saat ia lihat ternyata Diordan beserta anak buahnya mendekati Berlian.
Rao mengambil langkah melindungi Berlian. Berlian menarik tangan Rao untuk memberi tanda agar dirinya tenang.
Diordan yang melihat Berlian duduk di kursi roda menjadi merasa sakit. hatinya benar benar sakit saat melihat keadaan wanita yang ia cintai.
Diordan menyamakan posisi Berlian, ia tatap Berlian dengan penuh kerinduan.
dilihatnya Berlian yang duduk di kursi roda dengan mata yang berkaca kaca.
" sayang, apa kau baik baik saja ? lirih Diordan tak kuasa melihat keadaan Berlian.
Berlian berdecak tak suka saat Diordan memanggil dirinya dengan kata kata sayang.
" jangan kau memanggilku seperti itu. aku ini sekarang adalah kakak iparmu ! " ada rasa tak suka di hati Diordan saat Berlian mengingatkan akan status dirinya.
" tidak tidak. kau cintaku, nafasku, kau milikku sayang ! " Diordan menolak perkataan Berlian.
__ADS_1
***sungguh pria keras kepala !
termakan oleh cintanya yang buta*** !
" milik tuanku tuan ! " suara Rao membuat Diordan menatap tak suka.
Diordan menatap Rao penuh amarah. dirinya mencoba tak menghiraukan Rao yang berada disana.
ia raih tangan Berlian dan ia kecup tangan halus itu. Berlian merasa tak suka dan berusaha menarik tangannya kembali.
" aku merindukanmu sayang " ucap Diordan yang masih menggenggam erat tangan Berlian.
" jangan merindukan yang bukan milikmu tuan ! "
Diordan kali ini benar benar kesal dengan pria yang berada di belakang Berlian. Diordan menarik kerah Rao membuat Rao terhuyung ke depan.
" jangan kau ikut campur dalam urusanku ! " ucap Diordan dengan lantangnya.
Rao yang ingin bicara tertahan saat Berlian membuka suara.
" kau yang tak seharusnya ikut campur atas keadaanku ! "
Diordan melepaskan kasar Rao membuat dirinya kembali terhuyung tapi tak terjatuh karena kakinya mampu menyeimbangkan.
Diordan menatap kembali Berlian. mengapa Berlian tidak menginginkan dirinya. apa sudah tidak ada rasa cinta di dalam diri Berlian untuk dirinya.
" dengarkan aku ! kau sudah menikah dengan adikku Ruby. perhatikanlah dirinya sekarang, jagalah dirinya. " pinta Berlian membuat Diordan terpukul.
" jangan katakan itu sayang " makin sesak dada Diordan.
" tidak, kau harus melakukannya. jika kau tidak bisa memperhatikan Ruby, setidaknya kau perhatikan darah dagingmu yang tumbuh di rahim Ruby. ia membutuhkan perhatianmu " ucap Berlian membuat Diordan keluh.
" ta..... " ucap Diordan terpotong saat suara Aaron menggema di ujung sana.
" lepaskan istriku ! "
______
...happy reading guys....
...semoga kalian suka dan jangan lupa likenya ya ...
...❤️...
__ADS_1