
seperti gersang menerpa jiwa, kehidupan Rean kini kembali pada titik terburuknya. sampai saat ini ia tak dapat informasi mengenai kabar Berlian dan juga kedua putra yang sudah ia anggap putranya sendiri.
dan begitu juga dengan kedua putra Berlian yang masih mempertanyakan dimana Daddy mereka, tapi Berlian hanya bisa diam tak menjawab. mungkin dirinya akan di bilang egois tapi mau tidak mau jallannya harus seperti ini sampai semuanya benar benar membaik.
" apa kau tahu dimana mereka ? " tanya Rean pada salah satu orang kepercayaanya. dan lagi lagi mereka menggelengkan kepalanya tidak mengetahui keberadaan Berlian.
" apa yang selama ini kau kerjakan hah !!! " Hardik Rean sebelum benar benar benda pipih itu ia lempar begitu saja sehingga berubah bentuk dan juga rupanya.
shiit !
mereka semua tidak berguna !
sementara itu sosok pria yang menghalangi jalan Rean untuk menemukan Berlian, tersenyum puas menatap seseorang yang dimana dirinya merupakan mata mata untuk mengetahui gerak gerik Rean.
" jangan biarkan dia tahu tentang wanitaku " perintah Aaron dengan tersenyum puas dan kembali menatap foto wanitanya yang sedang duduk memandang langit tersebut.
" baik, Tuan " Pria itu menunduk mematuhi ucapan Aaron karena pada dasarnya pria itu merupakan anak buah yang setia pada Aaron. hanya saja ia ditugaskan untuk menjadi anak buah Rean untuk memberi informasi tentang kehidupan Rean.
**********
Perjalan hari kedua, mereka habiskan untuk mengenal budaya Negara I di sebuah museum terkenal di ibu kota. banyak pengetahuan yang mereka dapat mengenai dari cara bahasa dan beraneka ragam kebudayaan yang tertanam di Negara ini.
" unik bukan ? " bukan hanya pemandu yang menjelaskan bahkan wanita yang akrab dengan dirinya pun ikut turut serta mengenalkan Negaranya. betapa bangga dirinya pada Negaranya sendiri dengan berbagai keunakin yang Negaranya punya.
" huumm, apa kau menguasai semua bahasa Negaramu ini ? " pertanyaan Berlian membuat Tasya terdiam karena satu bahasa saja ia tidak bisa kecuali bahasa pokoknya.
Tasya menggelengkan kepalanya " aku bodoh dalam hal itu " ada rasa tercubit dihatinya saat ia tidak bisa menguasai bahasa di Negaranya sendiri.
__ADS_1
" tidak, kau cukup mengenalkan Negaramu itu sudah menjadi nilai positif untuk dirimu " Berlian menganggukan kepalanya ketika melihat binar di kedua bola mata Tasya saat dirinya memuji sahabatnya itu.
" hei kalian jangan Bertengkar !" Amey seperti sedang lelah memarahi ketiga anak kecil yangg sedari tadi bertengkar entah apa itu yang mereka rebutkan.
merasa tertarik, Berlian dan Tasya mendekati mereka yang sedang ramai berseteru dengan yang lainnya.
" No, ini punyaku dan bukan punyamu " Ucap gadis cantik anak Amey yang memeluk erat sebuah mainan berbentuk kendaraan mini yang terbuat dari serat kayu.
" tidak, itu punyaku ! " Elvis yakin bahwa itu miliknya.
mainan yang di beli oleh Rao untuk ketiga anak tersebut memang satu ragam dan satu rupa sehingga mereka tidak menyadari bahwa bisa saja terjadi tertukar atau salah satunya hilang entah kemana.
" apa itu mainanmu ? " tanya Berlian pada Elvis dengan menangkut kedua pipi Elvis untuk memastikan kebenarannya. dan Elvis mengangguk membenarkan.
" ya itu punyaku ! " ucap Elvis dengan menunjuk mainan yang masih di peluk erat oleh anaknya Amey.
gadis itu yang merassa mainannya di tunjuk, semakin memeluk erat mainannya agar tak lepas dari dirinya.
" kakak, bagaimana ini ? " Amey sang ibu muda itu bingung dengan perkelahian anaknya dengan keponakannya.
Berlian terdiam sejenak memperhatikan kedua anak tersebut. sepertinya mereka tetap pada egonya masing masing. dan di perhatikannya pula mainan tersebut dengan mainan yang di pegang oleh Ray, itu sungguh mirip sekali dan benar benar susah dibedakan.
" bagaimana jika mommy belikan yang baru ? " tawar Berlian pada putranya agar mainan itu tetap menjadi milik anaknya Amey dan tidak perlu lagi diperdebatkan.
" no, jika membeli lagi berarti dia akan punya dua mainan sementara yang lainnya hanya mendapatkan satu mainan. " semua dibuat menatap tak percaya dengan penjelasan Elvis.
ok ini sifatnya menurun dari ibunya. guman Tasya dengan menatap Berlian serta Elvis bergantian.
__ADS_1
" dan satu hal lagi jika memang dirinya menghilangkan mainan miliknya serta merebut mainan yang lain itu tidaklah baik " semakin percayalah Tasya dengan kemiripan ibu dan anak ini.
" apa ini mainan yang kalian rebutkan ? "
Rao datang dengan sebuah mainan yang sama miripnya dengan mainan yang sedang di perebutkan. lega rasanya melihat mainan itu kembali.
" Ini untukmu Boy, dan jangan kau perebutkan kembali walaupun itu mainanmu. " Rao memberikan mainan itu pada Elvis sementara anak kecil itu masih terdiam dengan menatap mainan yang ada di tangannya.
" Kau pria Boy, dan jangan perdebatkan itu dengan seorang gadis. " ucap Rao lagi membuat Elvis cemberut tak suka.
" meyebalkan ! " gerutu Elvis sbelum dirinya meninggalkan mereka dengan membawa mainannya.
" kau menemukan dimana sayang ? " tanya Amey setengah berbisik di telinga Rao.
" aku membelinya kembali sebelum keadaan semakin kacau " jawab Rao membuat yang laiinya menahan tawa.
jadi pada dasarnya mainan itu benar benar hilang dan Elvis tidak mengetahui bahwa mainan yang saat ini ada pada dirinya adalah mainan yang baru saja Rao belikan kembali.
_____________________________
aku nulis ini setengah konsentrasi karena aku lagi melihat anakkua yang sedang menggebuk hp ku dan hpnya sendiri.
sinyal lagi jelek kenapa hp yang di adu yeh,,,
entahah aku gak ngerti sama jalan fikiran anakku itu.
yang jelas aku rebut hpnya marah dia.
__ADS_1
jadi maafkan jika ada yang telepon atau WA itu hpnya lagi di gebuk sama anakku ya ......
dari pada aku yang kena timpuk dia mending yakan ,,,, jadi mengalah aja kita nyari aman.