
mata masih terasa sayu setelah beberapa hari ini aku begadang ....
remuk sudah badanku terasa sakit ke kantong kantong, ish ish ish ......
yuk aaahhh srrrrruuupp sedikit susu hangatnya dengan nyemil ketikan dan berkas di sampiing meja ku...
ohh tuhanku, aku merindukan berjalan di bawah guyuran hujan. sayang itu hanyalah rencana karena sesungguhnya jika aku mandi hujan maka bocah pasti minta ikut mandi hujan.
_____________________
" tuan, apa kita harus menjemput mereka kembali malam ini ? " tanya Hans
Aaron duduk dengan mematik menyalakan bara pada cerutunya. di hisapnya berkali kali dan di keluarkan asap yang ia ciptakan sehingga kepulan asap itu mulai berbaur dengan udara di ruangan tersebut.
" biarkan mereka bermain sejenak ! " ya, Aaron ingin mengikuti langkah permainan Berlian. ia akan mengikuti ke inginan Berlian terlebih dahulu.
aku akan mengikuti permainan mu sebelum kau tahu permainanku. guman Aaron dengan tersenyum penuh siasat di otaknya.
" kau pastikan pria itu jangan sampai ikut terlibat dan tidak mengetahui rencana kita. " Aaron mengingatkan Hans agar waspada tentang satu sosok yang senantiasa membantu jalan perginya Berlian. dan jika sosok itu mengetahui semua rencana miliknya, maka semuanya akan berantakan dan tidak akan berhasil.
**********
" apa kau yakin ? " tanya Berlian masih dalam sambungan komunikasi miliknya.
' ya, aku pastikan itu. ' jawab seseorang disana
" Baiklah, kami akan bersiap. " Berlian mematikan komukasinya dan menatap layar ponselnya
aku sungguh berharap
semoga saja semua baik baik saja.
dengan segenggam harapan Berlian penuh berharap sebelum dirinya benar benar ikut terlelap tidur di antara kedau putranya. semoga saja besok akan jauh lebih baik dari sebelumnya.
pagi menyapa mereka tapi tubuh mereka seakan enggan untuk bangkit dari hangatnya di ranjang yang sama. beberapa kali Elvis menggeliat menjauhkan tangan Ray yang menimpa tubuhnya.
" bisakah kau geser sedikit tubuhmu ? " Elvis mendorong tubuh Ray menjauh darinya. dan Ray pun menggeser tubuhnya dan ......
__ADS_1
Bruuuukkk,
salah seorang dari mereka terjatuh dan itu membuat mata mereka terbuka semua. dengan limbung mereka menatap kebawah menatap siapa yang jatuh dari ranjang mereka.
Mommmyy , teriak mereka bersamaan menatap Berlian tersungkur dan mengadu kesakitan.
" aawwww. " Berlian mengusap keningnya yang terbentur lantai dan itu ia rasakan sungguh sakit.
bagaimana tidak terjatuh, kasur ukuran 120x200 itu cukup untuk bertiga. memang cukup tapi itu akan menyisakan sesak diantaranya. dan berakhir seperti ini. di tambah sosok Ray yang tidur tidak akan pernah diam tangan bahkan seluruh tubuhnya.
" apa mommy baik baik saja ? " tanya Elvis menatap Berlian yang masih terus mengusap dahinya.
" humm, hanya sedikit sakit. " jawab Berlian dengan sedikit tersenyum padahal itu bukan hanya melainkan memang sakit.
baru tertidur, kini dirinya berakhir terbangun dengan dahinya di sentuh oleh lantai dengan cinta.
" kalian tidurlah kembali, mommy akan membuatkan kalian sarapan. " sudah terlanjur dirinya terbangun, Berlian pun lantas bergegas membuat sarapan untuk dirinya dan juga kedua putranya.
roti dengan selai coklat dan juga susu hangat menjadi sarapan pilihan mereka karena itulah yang mereka punya. beruntung kedua putranya tidak memilih makanan saat dalam kondisi seperti ini. dan itu yang Berlian harapkan pada mereka nanti jika mereka ia bawa ke sebuah tempat yang jauh disana.
daddy ?
Rean ?
itu tidak akan mungkin, karena kita akan pergi tanpanya.
" habiskan sarapanmu. " ucap Berlian dengan melanjutkan sarapannya. Ray dan Elvis terdiam tak bertanya kembali walaupun dalam hati mereka ada sedikit pertanyaan yang ingin mereka ucapkan.
__ADS_1
Bandahara Internasional
mereka siap menunggu jadwal penerbangan ke sebuah Negara dengan berharap kehidupan yang lebih baik.
" kau akan baik baik saja disana, kakak pastikan itu. " Gustav memeluk Berlian erat melepaskan kepergian sang adik tercinta. ingin rasanya dirinya ikut mengantarkan adiknya itu pergi tapi pekerjaannyalah yang kini menyita waktunya.
" dan aku akan menjaga kakak disana. " tak lupa pula Amey ikut serta pindah untuk menemani sang kakak.
" baiklah kalian hati hati, Nanti aku akan menyusul kalian. " ucap Gustav sekali lagi melepaskan kepergian adik adiknya.
matanya kini menatap pada sosokyang berdiri tegap di samping Amey.
" jagalah mereka ! " bukan permintaan tapi ini adalah perintah yang wajib ia laksanakan.
" kau tenang saja. " jawabnya meyakinkan Gustav.
" kak, Daddy ..... " ucapan Berlian terpotong oleh Gustva
" Daddy sudah berada disana lebih dahulu "
hati Berlian sungguh tenang dan lega, ia pun menggenggam kedua putranya dan bersiap pergi meninggalkan negara ini. ia berharap kehidupan yang akan datang tidak akan pernah mengusik ke tenangan dirinya dan juga putra putranya.
selamat tinggal semuanya. ucap Berlian dalam hatinya saat ia melangkah pergi meninggalkan Negara ini.
__ADS_1