
memeluk sebuah bingkai foto dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya. itulah yang setiap hari di lakukan Mark.
" maafkan aku ! " berulang kali kata maaf selalu keluar dari mulut pria tua itu.
rasa penyesalannya begitu mendalam. ia merasa menjadi seorang yang telah gagal melindungi putri kecilnya.
kehilangan Berlian begitu memukul perasaannya, memporak porandakan kehidupannya.
" Daddy, jangan seperti ini. " Amey yang sama hal nya dengan Mark begitu terpukul saat melihat pria tua itu terus saja merasa bersalah.
Amey kini tinggal bersama dengan Gustav dan Mark. Gustav berharap dengan adanya Amey di dekat Mark dapat mengurangi sedikit kehilangan Berlian.
tapi kehilangan Berlian membuat luka yang dalam di hati Mark. ia tak dapat sedikitpun bernafas lega saat kehilangan Berlian.
" maafkan aku maafkan aku ! " ucap Mark saat sebelum dirinya terjerembab tak sadarkan diri.
" daadddyyy ! " pekik Amey saat dirinya terkejut melihat Mark jatuh tak sadarkan diri.
Amey mendekati Mark dan menepuk nepuk pelan pipi kanan Mark berharap Mark bergerak.
" Daddy sadarlah. " raut wajah ke khawatiran Amey saat tak mendapatkan jawaban dari Mark.
" kaakkkaaak ! kaakkkaaak ! " teriak Amey berharap Gustav atau yang lainnya mendengar dan mendatangi mereka.
Gustav yang sedang bersama dengan beberapa staff, mendengar Amey berteriak pun langsung berlari ke sumber suara. pun beberapa staff itu ikut berlari di belakang Gustav.
betapa terkejutnya ia mendapati Mark yang tak sadarkan diri dan Amey yang menangis tersedu sedu.
" apa yang terjadi ? " tanya Gustav kala itu sedang memeriksa sang Daddy yang tidak sadarkan diri.
" dad daddy... " Amey tak dapat melanjutkan ucapannya. ia menangis lebih dalam saat sesak menyelimuti dadanya.
Gustav yang mengerti pun membawa tubuh Mark untuk ke rumah sakit.
__ADS_1
mereka semua pun pergi ke rumah sakit dengan tergopoh gopoh nya. mereka berharap Mark baik baik saja.
di rumah sakit, Mark mendapatkan pertolongan pertama oleh beberapa dokter disana.
saat menjalani pemeriksaan, semua menunggu di depan ruangan dengan berpintu kaca tebal itu.
beberapa lama menunggu, seorang dokter pun keluar dari ruangan itu menemui Gustav yang duduk terdiam tak berdaya.
" kau harus membawanya kembali ! " ucap dokter itu dengan menepuk pundak Gustav.
Gustav mengerti apa yang dokter itu katakan. tanpa berbicara Gustav bangkit dari tempatnya.
" kakak mau kemana ? " tanya Amey saat Gustav hendak pergi. tapi yang ditanya tidak sedikitpun membuka suaranya dan hilang begitu saja dalam pandangannya.
drrrttt
drrttt
dengan mata kantuknya Rean mengambil ponselnya di atas meja. dilihatnya saat ini kedua putranya tidur memeluk Berlian dengan lelapnya.
ahh sungguh menghangatkan.
bunyai ponsel itu kembali terdengar. Rean pun langsung melihat siapa yang menghubunginya pagi sekali.
Rean menaikkan sebelah alisnya tat kala melihat siapa yang menghubunginya.
pantas saja perbedaan waktu yang begitu jauh membuat seseorang jauh disana tidak tahu jika disini masih pagi sekali.
klik, Rean mengangkat panggilan itu " ya ! " ucap Rean dengan suara yang masih serak tanda baru bangun tidur.
' bawa adikku saat ini juga ! ' titah seseorang disana tanpa basa basi terlebih dahulu.
baru saja Rean merasakan kebahagiaan yang utuh, kini wajahnya kembali suram tat kala dunianya akan terenggut.
__ADS_1
' fikirkan caranya agar Daddy ku bisa melihat putrinya kembali ! ' klik, sebelum Rean menjawabnya seseorang disana sudah memutuskan percakapan mereka.
" ada apa ? " Rean menatap wajah cantik itu. wajah yang selalu ingin ia lihat setiap saat.
dirinya bangkit dan menghampiri Berlian. Rean nampak terlihat jelas di mata Berlian sangat berbeda saat ini. ada guratan cemas dan takut di wajah itu.
Rean memeluk dan dilihatnya berkali kali Berlian membuat Berlian memberontak dan memukul punggungnya.
" hei, ada apa ! " Berlian terus saja mendorong tubuh Rean tapi Rean memeluknya makin erat seakan tak ingin dipisahkan.
" berjanjilah padaku " ucap Rean dengan suara yang bulat dan penuh permohonan.
" berjanjilah padaku, kau tak akan kembali padanya. " Rean makin memeluk erat Berlian seakan sesak membayangkan jika Berlian tak ada lagi di sisinya.
" kumohon berjanjilah ! " pinta Rean kembali membuat Berlian terdiam dan tidak bisa berbicara.
Berlian hanya tersenyum tipis mengingat takdirnya. mengingat akan dirinya yang di campakkan dan tidak di anggap sama sekali.
" aku berjanji. " kata kata itu keluar begitu saja mengingat rasa sakit yang mencubit hatinya.
mungkin saat ini kata kata itu yang dapat membuat Rean bernafas lega. Rean berharap dengan janjinya Berlian, dirinya masih punya harapan untuk tetap bersama Berlian.
Rean tersenyum menatap Berlian. ia memegang lembut kedua tangan Berlian seakan Berlian adalah benda yang sangat berharga baginya.
" kita akan kembali. "
deg, jantung Berlian seakan jatuh saat itu juga. pun matanya terus saja menari sehingga terlihat jelas bahwa dirinya tidak nyaman.
" Daddy mu membutuhkan mu. " keringat sekujur tubuh Berlian mulai nampak dan Rean merasakan itu.
" jangan takut, aku bersamamu. " Rean meyakinkan Berlian bahwa dirinya akan aman bersamanya.
bukan, bukan itu yang Berlian takutkan. tapi Berlian takutkan bahwa pria itu akan melihat dirinya dan kedua putranya.
__ADS_1
tidak, putranya hanya miliknya bukan milik pria itu. Berlian tidak ingin kedua putranya direbut pria itu.
" jangan biarkan ia melihat ku ! "